July Morning

2 07 2008

There I was on a july morning 
Looking for love
With the strength
Of a new day dawning
And the beautiful sun

At the sound
Of the first bird singing
I was leaving for home
With the storm
And the night behind me
And a road of my own

With the day came the resolution
Ill be looking for you
La la la la

I was looking for love
In the strangest places
Wasnt a stone
That I left unturned
Must have tried more
Than a thousand faces
But not one was aware
Of the fire that burned

In my heart, in my mind, in my soul
La la la la

There I was on a july morning
I was looking for love
With the strength
Of a new day dawning
And the beautiful sun

And at the sound
Of the first bird singing
I was leaving for home
With the storm
And the night behind me
Yeah, and a road of my own

* Song by Uriah Heep






Penantian 44 tahun La Furia Roja

30 06 2008

Penantian panjang 44 tahun akhirnya datang juga. Sejak menjadi kampiun Eropa di 1964 La Furia Roja alias si Amukan Merah memang belum pernah lagi menjadi juara sepakbola antar-negara Eropa.

Sejak 1964 La Furia Roja tidak pernah mengukir prestasi internasional yang membanggakan. El Matador hanya dipatri sebagai tim pelengkap dan tim spesialisasi perempat final. Pamornya jauh dibawa tim-tim elite seperti Italia, Jerman atau Prancis.

Prestasi terakhir Spanyol adalah menembus final Piala Eropa 1984 saat menghadapi tuan rumah Prancis. Namun karena mental yang belum dimilikinya saat itu, mereka dihajar Ayam Jantan Prancis 2-0 yang saat itu dikomandoi pemain legendaris Michel Platini.

Selanjutnya di setiap turnamen bergengsi, Tim Matador tidak masuk hitungan sebagai tim unggulan. Padahal tim ini memiliki segudang pemain kelas wahid di jamannya. Sebut saja, Fernando Hiero, si burung nasar Emilio Buetragueno atau penjaga gawang Andoni Zubizarreta.

Tapi itu semua cerita masa lalu. Di Euro 2008 ini, Spanyol menjelma menjadi the emerging force alias kekuatan baru sepakbola di daratan Eropa. Terbukti Spanyol satu-satunya tim yang belum pernah terkalahkan sejak babak penyisihan hingga bertemu Jerman di final Senin dinihari (30/6).

Tim Matador belum terjegal tim manapun. Dari lima laga yang digelar sebelumnya –mulai babak penyisihan hingga semi final– semuanya diakhiri dengan kemenangan. Terakhir, El Matador melumat Beruang Merah Rusia 3-0 di semifinal. Inilah langkah sempurna Carlos Puyol dan kawan-kawan.

Pada pertandingan final yang mempertemukan dua tim ideal, Spanyol dan Jerman di stadion Ernst Happel, pada menit-menit awal justru menyuguhkan pertandingan yang membosankan. Kedua tim terlalu berhati-hati. Lini tengah Spanyol yang biasanya begitu cepat dan atraktif tiba-tiba hilang daya magis-nya.

Baca entri selengkapnya »





Tidak ada keajaiban keempat buat Al-Yildizlilar

26 06 2008

Hasan Lemal, kolumnis harian Turki, Milliyet menulis, “Terim tercinta, melawan Jerman kami ingin menang secara normal. Menang tanpa keajaiban. Kami semua tegang dan lelah setengah mati dengan kemenangan di menit-menit akhir,”.

Kehawatiran Hasan Lemal berasalan. Dari empat laga yang dimainkan tim asuhan Fatih Terim itu, tiga diantaranya merupakan keajaiban. Keajaiban karena mereka sanggup membalikkan keadaan di menit-menit akhir. Dari ketertinggalan menjadi sang kampiun.

Keajaiban pertama, di stadion St Jakob Park di kota Basel saat tim Bulan-Bintang menghadapi tuan rumah Swiss di menit-menit terakhir kedudukan masih imbang 1-1. Namun pemain asal klub Galatasaray Arda Turan memupuskan harapan tuan rumah pada menit kedua di perpanjangan waktu.

Di Geneva, dalam lima belas menit sebelum peluit akhir dibunyikan, Turki yang ketinggalan 0-2 dari Republik Ceko berhasil membalikkan keadaan menjadi 3-2 setelah sang kapten Nihat Kahveci membuyarkan harapan tim “Vatreni” melalui gol-golnya di menit 88 dan 90. Itu keajaiban kedua.

Keajaiban terakhir dan yang paling tragis dialami juara grup B Kroasia. Seakan memastikan satu tiket ke semi final berkat gol dari Ivan Klasnic di perpanjangan waktu menit ke-119. Namun Semih Senturk menghentikan kegembiraan sang pelatih urakan Slaven Bilic di menit ke-122 dan mengubur ambisi tim asal negeri Balkan itu melangkah ke semifinal.

Tiga keajaiban itulah yang selalu bisa meloloskan Al-Yildizlilar dari lubang jarum.

Baca entri selengkapnya »





Jerman sebenarnya

20 06 2008

“Hentikan Jerman di awal, atau dia akan merajalela di pertandingan berikutnya”. Pameo di jagat sepakbola soal kekhawatiran terlindas tim panser ternyata masih terbukti sampai kini.

Buktinya, keterampilan individu para pemain Portugal besutan Luiz Felipe Scolari ternyata belum mampu memperdaya permainan kolektif dan disiplin anak-anak asuhan Joachim Loew, meski mereka diposisikan sebagai underdog.

Hasilnya, pada pertandingan perempat final yang menggunakan sistem gugur, Der Panzer menggilas Seleccao das Quinas 3-2 dalam perempat final Piala Eropa 2008.

Di tiga pertandingan awal penampilan Die Nationalelf memang tidak mengesankan. Menang 2-0 atas Polandia, dihajar Kroasia 2-1 dan terakhir cuma memasukkan satu gol ke jala Austria. Permainan yang disuguhkan tim Bavaria saat itu membosankan dan tidak menarik untuk ditonton.

Para pemain layaknya robot yang dioperasikan oleh sang pelatih di sisi lapangan. Hanya Michael Ballack  dan Philipp Lahm yang begitu mobile mengalirkan bola-bola ke Lukas Podolski atau Miroslav Klose. Sisanya pemain masih mempraktikkan text-book yang diberikan Joachim Loew.

Klose dan Mario Gomez yang diharapkan sebagai penyelesai akhir masuknya bola ke jaring lawan sampai babak penyisihan justru mandul. Hanya Podolski yang menjadi second striker justru lebih produktif dengan sumbangan tiga gol hingga akhir babak penyisihan.

Tim Portugal yang dikomandoi Nuno Gomez tidak bermain jelek. Namun Jerman telah menemukan bentuk permainan terbaiknya. Laju mesin panser yang awalnya tersendat dan nyaris mati, kini mulai meningkat akselerasinya. Di tiap turnamen sepak bola bergengsi, perjalanan tim hitam-putih memang seperti itu. Lambat di awal lalu perlahan menaikkan tempo permainan di pertandingan selanjutnya.

Baca entri selengkapnya »