Meski berjalan sudah hampir satu kuartal, namun proyek prestisius yang digadang-gadang di Republik Jaim oleh sang dewa kayangan belum beringsut dari pola dan budaya lama. Belum ada sisi-sisi positif yang bisa dilihat.
Memang usia empat bulan belum bisa dikatakan itu gagal, tapi setidaknya bisa menjadi cermin buat presiden dan para petinggi Republik Jaim bahwa mereka sudah memulainya dengan start yang tidak bagus.
Kenapa tidak bagus? Ya, karena awalnya presiden merekrut personel-personel yang tidak kapabel. Personel yang tidak jelas track-record-nya. Bahkan personel yang ”dibuang” di tempat sebelumnya pun disambut hangat disini.
Ini hampir 100 persen adalah kesalahan sang presiden. Perekrutan mestinya didasari atas laporan dari bagian hukum dan personalia soal rekam-jejak calon yang akan direkrut, atau minimal mencari tahu tentang calon yang akan direkrut kepada atasannya masing-masing.
Ini tidak, dalam terawangan sang presiden yang penting dilihat dari luarnya cukup baik dan bisa kerja, so no problem. Entah dia pemalas, selalu berhitung soal kerjaan atau kasak-kusuk cari tambahan di luar, sang presiden seolah-olah tutup mata.
Kedua, tidak adanya budaya kerja yang mumpuni. Karena memang tidak ada perubahan kinerja. Cuma pindah tempat kerja, namun kinerja tidak bergerak ke yang lebih baik. Semuanya memperlihatkan keegoan pribadi masing-masing. Yang merasa hebat sudah tidak perlu dinasihati lagi, yang terpuruk silakan tersudut di pojok sempit.
Absensi yang menjadi acuan dasar dalam suatu perusahaan sama sekali diabaikan. Mereka sah-sah saja masuk sesukanya, tanpa ada teguran. Nggak ngerti juga kenapa mereka begitu menganggap enteng soal absensi. Padahal semua perusahaan besar akan memberikan hukuman bilamana ada karyawannya yang melanggar.
Tampaknya, sang presiden harus mengkaji ulang semua yang terkait dengan republik Jaim selama empat bulan belakangan ini. Tak ada perubahan yang signifikan di Republik Jaim. Penggabungan yang awalnya bisa menjadi mercusuar republik kayangan, ternyata tersendat atau lebih tepat jalan di tempat.
Malahan ada divisi yang dapat dikatakan tidak ada semangatnya sama sekali. Ini kemungkinan sang menteri yang memimpin memang selain nggak punya visi juga nggak paham pekerjaan, serta maaf… terbiasa datang telat dan nggak betah di ruangan.
Dan anehnya lagi, sang presiden tak berdaya menghadapi semua ini. Dia sudah terlalu jauh mendiamkan semua ini. No admonition. No action. Presiden tampak one man show.


Yang kasih komentar