“Bung anda punya obat turun panas nggak, badan saya panas” tanya Eri Jumat sore itu.
“Nggak ada bung, ada juga obat batuk, tapi ada penurun panasnya juga,” jawab saya sambil memperlihatkan kemasan obat batuk tersebut.
“Ah.. saya nggak biasa minum obat batuk,” jawabnya lagi. “Tapi obat turun panas saya nggak punya bung.” kata saya lagi.
Saya dan Eri memang saling membiasakan diri dengan memanggil bung.
Saya memanggil dengan bung Eri dan diapun memanggil saya dengan bung Imung. Supaya kesannya muda dan patriotik kali ya… ?
Beberapa detik kemudian dia kembali berbicara kepada saya, kali ini dia menanyakan, “Bung anda pernah mengalami panas kayak gini nggak.”
“Pernah bung, saya pernah… waktu itu sekujur tubuh saya panas seperti direbus, dan nggak lama muncul benjolan-benjolan berwarna merah,” timpal saya lagi.
“Oh… kalo saya nggak, badan saya cuma panas aja,” sahutnya. ”Kalo gitu saya minta obat batuknya sedikit aja bung,” tambahnya lagi. Saya pun menuangkan cairan obat batuk ke dalam sendoknya.
“Kalau nggak sehat buru-buru pulang aja bung,” saran saya kepadanya. “Iya sebentar lagi nih,” jawabnya.
Nggak berapa lama kemudian saya ijin kepadanya untuk pulang.
Itulah percakapan terakhir saya dengan Eri Supriadi, rekan kerja dan atasan saya di divisi ini. Divisi Multimedia Gateway. Karena keesok harinya beliau dipanggil Sang Khalik dalam usia yang masih muda, 41 tahun. Inalillahi wa inailaihi raajiun.
Rekan Oktora adalah orang pertama yang mengabari saya soal kepergian si bung yang pendiam itu hari Sabtu sekira jam tiga sore.
Empat tahun sudah saya berpartner dengan bung Eri di divisi ini dengan segala suka-dukanya. Kami berdua memang tipe orang-orang yang introvert dan nggak terlalu banyak omong dalam bekerja. Kami lebih menyukai duduk di tempat masing-masing dan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.
Setiap harinya pun kami jarang sekali berbicara untuk hal-hal yang tidak perlu. Paling kalau saya menanyakan sesuatu, biasanya ada pembicaraan.
Memang nggak enak buat banyak orang dengan suasana kerja seperti ini. Tapi buat saya dan si bung, menjalankan kondisi kerja seperti ini selama bertahun-tahun sudah terbiasa. “Yang penting hasil kerja, bukan omongnya,” begitu kata bung suatu kali kepada saya.







Yang kasih komentar