
Gue, Indro, Imul dan Rizal ceritanya adalah four horsemen ride. Cuma bedanya kami bukan penunggang motor besar layaknya Harley Davidson, tapi para penyemplak mongtor bebek roda dua.
Sebenarnya kami berenam. Ada Boni Udin dan Hendra Biji. Namun karena keadaan, terpaksa kedua sahabat itu jarang-jarang bisa gathering sama-sama. Si Boni, paling sudah ngatur waktu, nggak pernah bisa ikutan acara. Sedang Hendra Biji mengadu nasib di negeri orang, yakni di Jeddah guna mencari sesuap nasi, segenggam berlian dan sekarung riyal.
Hatta, tempat yang biasanya buat “melepas rindu” adalah vila Laudza, milik Indro yang ada di Cisarua, Bogor. FYI, jangan mikir yang jorok-jorok dulu. Kami semuanya sudah berkeluarga dan memiliki anak. Jadi tidak mungkin bertingkah laku kayak Ryan, pelaku hetero-sexual dan mutilasi asal Jombang itu. We’re normal guys.
Persahabatan kami sudah tercipta sejak kami masih duduk di sekolah dasar, es em pe dan seterusnya. Event macam ngelancong (berburu cewek), ngobak (berenang di rawa/bekas galian), kemping, sampai jalan tanpa tujuan (biasanya naik truk sampai terakhir truk berhenti), kami lakoni bersama dengan cara seksama dan hati gembira.
Namun dari sekian para makhluk itu, cuma Rizal (foto: tengah berbaju krem) yang selalu dijadiin sansak buat di-cengin sama anak-anak yang lain. Makanya kalo kami punya rencana mau bepergian, Rizal wajib diajak. Karena selain buat ngeramein, juga sebagai wadah buat celaan. Herannya lagi si Rizal nggak pernah marah atau nangis. Paling senyam-senyum doang. Dia tahu kalau temen-temennya terlahir emang sebagai tukang cela alias faultfinders.
Lain lagi dengan Hendra Biji, dia nih.. dulunya sekolah di es te em, jadi kalo kita mau ngeluyur, dia juga hukumnya wajib diajak. Sebab kalo ada motor yang rusak atau yang ngadat, si Hendra berubah menjadi tukang insinyur. Spesialisasi Hendra selain tukang bengkel adalah tukang keprok atau mr clapman, karena setiap dengerin lagu apapun, tangannya nggak betah kalo nggak keprok-keprok.



Yang kasih komentar