Akhir Kisah Republik Jaim

12 03 2009

Sudah dua tahun Republik Jaim berdiri. Sepanjang usia itu pula nasibnya tak beda seperti satu tahun lalu.

Republik yang awalnya diharapkan menjadi mercusuar kebanggaan sang dewa kahyangan, sampai detik ini langkahnya tak tentu arah.

Ada yang salah dengan republik ini?

Jelas, meski tidak bisa disebutkan apa penyebabnya namun republik yang usianya seumur jagung ini jalannya sudah terseok-seok, kalau tidak bisa dikatakan terbentur tembok kokoh.

Friksi tajam antar-top manajer telah melemahkan kekuatan republik ini. Doa yang dipimpin seorang rohaniwan ternama saat berdirinya republik ini juga tak banyak menolong. Sudah tak ada lagi kesatuan dalam kata dan pendapat diantara para pembesar di negeri ini.

Presiden Republik Jaim terlalu pede dengan apa-apa yang telah diperbuatnya. Dia seolah tak butuh orang lain. Kalau kenyataannya begitu, anda salah besar bung presiden. Anda tidak bisa bekerja sendiri walau anda pintar. Anda pasti butuh orang lain. Entah orang-orang yang diatas maupun yang levelnya di bawah anda.

Kembali kita harus berkata jujur bahwa di republik ini tak ada yang dijadikan panutan. Begitu banyak rakyat yang berotak encer disini, namun mereka cukup bangga dengan kepintaran yang sebenarnya relatif. Dan ironisnya mereka cuma –maaf– jago kandang.

Masing-masing penduduknya juga bebas berlagak dan bekerja sesukanya. Di republik ini setiap orang bebas menentukan jam kerja, kapan harus masuk dan pulang kerja. Terserah. Parahnya lagi mereka juga menuntut kelebihan tiap-tiap jam itu.

Sang presiden juga semakin nggak “mengenal” siapa-siapa bawahannya. Di level menengah alias para manajer juga nggak bisa diharapkan, mereka nggak dapat membaurkan rakyat. Terlalu banyak diskriminasi. Dua kelompok di republik ini semakin berasyik-masyuk dengan “kerjaannya”.

Ada yang sibuk mengumbar berita gosip ala sinetron. Ada yang tetap “aman” menerima order kerjaan dari pihak luar, meski dihadapan langsung sang presien. Ada lagi yang tiap harinya mondar-mandir nggak karuan. Waduh… pokoknya cilaka 12.

Presiden yang awalnya menggebu-gebu memimpin republik muda ini, belakangan justru menghadapi dilema. Dia tak berani berargumen frontal dengan rakyat. Banyak laporan terkait kinerja para menteri yang “tong kosong nyaring bunyinya” juga tak diindahkan.

Baca entri selengkapnya »