The Reds melahap optimisme

19 12 2008

Apa arti optimisme bagi skuad sekelas Liverpool ketika menghadapi seteru lawasnya Arsenal dalam laga yang akan digelar di Stadion Emirates pada Minggu (21/12)?

Bagi pasukan asuhan Rafael Benitez ini, optimisme bukan sekedar berkoar di mimbar kemudian berharap tepuk tangan riuh dari publik. Rumus optimisme yakni kerja keras plus nurani bening untuk memperoleh hasil bagi kejayaan dan kesuksesan bersama. Ini dipegang betul seluruh anak asuhan pelatih asal Spanyol itu.

The Reds kini sedang menyusun senjata pamungkas untuk menaklukkan The Gunnners. Kalau saja Liverpool dapat memenangi laga melawan Arsenal, maka mereka bakal meninggalkan Chelsea, dengan mengukir selisih empat poin. Kini Liverpool beroleh 38 poin, Chelsea 37 poin, sedangkan Manchester United 32 poin, demikian diwartakan AFP.

Dengan perginya penyandang gelar Manchester United ke Jepang mengikuti turnamen Piala Klub Dunia dan tim urutan kedua Chelsea baru akan bertanding lawan Everton, Senin, maka pijar optimisme bakal membara.

Namun, ziarah sejarah belum berpihak kepada kubu Liverpool. Pasukan yang bermarkas di Anfield ini menelan pil pahit, karena gagal mengalahkan Arsenal di kandang tim Gunners itu sejak Pebruari 2000.

Sejarah tinggal sejarah, karena yang ada dalam laga jaman hanya optimisme meski perlu menginjak bumi. Ini diutarakan penjaga gawang Liverpool, Jose Reina, perjalanan kali ini ke kawasan utara London itu tidak akan menjadikan frustrasi bagi tim Merseysiders.

“Mungkin saja bagi kami memenangi pertandingan di kandang siapa pun,” kata pemain dari Spanyol itu, “Kami sudah pernah menang di Stamford Bridge, yang tidak kami lakukan (belakangan ini), jadi kami percaya kami pun bisa menang di Emirates.” (*)





Pekan yang menggembirakan buat Liverpudlians

12 12 2008

gerrardMeski untuk merengkuh kejayaan di English Premier League (EPL) baru separuh jalan. Final piala Champions juga baru memasuki babak knock-out. Namun ada warta gembira buat penggemar The Reds all over the world, wa bil khusus di tanah air.

Pertama, dalam suatu survei yang disponsori oleh Barclays, sponsor utama liga Inggris terhadap 32.000 fans sepakbola dari 185 negara yang merupakan penggila EPL menempatkan rival utama The Reds, yakni Manchester United (MU) di urutan pertama, klub Inggris yang memiliki penggemar terbanyak di seluruh dunia.

Namun, disebutkan Reds Merseyside terus membayangi Setan Merah. Dalam tiga tahun terakhir Liverpool sudah mendekati popularitas MU di dunia. Bukan tak mungkin The Reds akan merajai kembali sepakbola di Inggris dan Eropa seperti era 70 dan 80-an.

The Blues Chelsea yang bertaburan pemain-pemain bintang dan selalu bersaing ketat dengan MU ternyata kurang digemari. Klub kebanggan kota London ini cuma mendapat 10 persen suara, masih lebih baik tim sekotanya, Arsenal yang dipilih oleh 15 persen penggembar EPL.

Mengapa demikian? Lagi-lagi ini dikarenakan oleh faktor sejarah. Sejarah panjang The Reds sampai kini pun masih diakui dan tak terbantahkan oleh siapapun. Satu-satunya klub dari Inggris yang mengoleksi 18 tropi liga Inggris, dan empat liga Champions.

Baca entri selengkapnya »





Rafa mengganyang “Mentalitas Serba Boleh”

30 10 2008

Ingin menyesap kopi sambil menonton laga bola? Itu biasa. Ingin menikmati sensasi aduhai lantaran tersentak aksi satu dua pemain berbuah gol? Itu luar biasa, karena gol sebagai momen berlangsung sekali saja, tanpa ada duanya. Yang sangat luar biasa, bila laga bola menyuguhkan tontonan dan tuntunan.

Caranya? Silakan mencermati sebungkah kejutan saat Liverpool memukul Chelsea 1-0 di Stamford Bridge pada Minggu (26/10). Pasukan pelatih Rafael Benitez kini bertengger di posisi teratas klasemen Liga Inggris (Premier League) dengan 23 angka, tiga poin lebih banyak daripada Chelsea dan Hull City, yang berada di urutan kedua dan ketiga.

Capaian Liverpool itu mencemaskan Chelsea, juara bertahan Manchester United (MU), dan Arsenal. Dan Rafa buru-buru menenangkan mata hati para pemain asuhannya dengan membisikkan tiga kata simsalabim untuk mengundang “malaikat maut” guna mengganyang mentalitas serba boleh (permisivisme).

“Malaikat” Rafael tidak ingin para pemainnya dibuai iming-iming istana serba gemerlap fasilitas karena lawan berikutnya Portsmouth dalam pertandingan yang digelar di Stadion Anfield pada Rabu (26/10).

Menang, seri atau kalah, bagi Rafa begitu bermakna karena memperlihatkan seberapa digdaya The Reds mampu menyabet gelar juara Premier League untuk kali pertama. Lebih bermakna lagi, pelatih asal Spanyol itu menyuntikkan serum anti-mentalitas serba boleh. Pasukan Liverpool menjauhi semboyan dari mereka yang mengusung permisivisme.

Orang permisivistis seolah-olah berkata, “Biarkanlah saya serba boleh, seperti halnya saya membiarkan orang lain serba boleh.” Mereka mengakui bahwa ada hukum dan peraturan etis beserta sanksi-sanksinya, meski enggan mematuhinya. Gaya hidup dan perilaku seperti ini tampil seksi karena terkesan melawan arus.

Padahal, masyarakat tidak mungkin hidup tanpa adanya nilai-nilai yang disepakati bersama dan dilaksanakan secara bersama.

Bagi Rafa, setiap keping hasil pertandingan sama dan sebangun dengan nilai-nilai etis dari lintas sejarah perjuangan hidup. Bukankah laga bola mengungkap cara perilaku dan cara hidup baik perorangan maupun kelompok. Laga bola mengomunikasikan makna dari sepak terjang manusia.

Boleh saja hanyut dalam euphoria kemenangan, namun jangan lupa daratan karena Liverpool kini justru berada dalam tekanan. Ini amunisi yang diisi Rafa kepada pasukannya. Delapan belas tahun penantian Liverpool bagi gelar Liga Primer. Ini jelas harapan yang dihidupi untuk diperjuangkan demi kejayaan dengan mencampakkan perilaku tujuan menghalalkan cara.

Harus kerja keras

Pemain veteran Jamie Carragher seakan memperingatkan kepada skuad Liverpool agar tidak memperlakukan Portsmouth sebagai domba yang memberikan dirinya siap disembelih. Sementara Xabi Alonso, yang mencetak gol kemenangan ketika meladeni Chelsea, menyatakan, “Ini kemenangan begitu berarti, apalagi lawannya Chelsea, meski hanya tiga poin. Tiga poin melawan Chelsea begitu penting. Sama halnya ketika menghadapi Portsmouth pada Rabu. Semua lawan berbobot nilai sama. Kami harus berpikir mengenai laga pada Rabu dan tetap tampil tenang.”

Baca entri selengkapnya »





Tuah nomor tujuh di Liverpool

4 08 2008

Punya nama besar dalam lintas sepakbola tidak juga menjamin hilangnya sisi-sisi magis. Paling tidak fakta ini menerpa salah satu klub elite Liga Premier Liverpool yang justru menganggap kostum pemain bernomor tujuh sebagai tuah pembawa berkat.

Inilah sepakbola yang menyimpan dunia aneka sisi hidup manusia, dari yang nyata, sampai yang magis sekali pun.

Liverpool punya sederet nama pemain legendaris seperti Kevin Keegan, Kenny Dalglish dan Peter Beardsley. Dulu, mereka mengenakan kostum bernomor tujuh. Kini, Robbie Keane coba berlaku sama, demikian diwartakan AFP. Ini tentu tidak dimaksudkan sebagai sekedar aksi gagah-gagahan, tetapi justru mengundang makna.

Sejak kedatangan Keegan di Anfield pada tahun 1970-an, Liverpool mendulang serangkaian kenangan sukses kepada pemain berkostum nomor tujuh. Mereka umumnya tampil sebagai pemain yang dinamis, yang mampu mendongkrak inspirasi tim dalam meraih prestasi tinggi.

Ketika Dalglish, yang disebut sebagai salah satu ikon sepanjang perjalanalan Liverpool, tampil sebagai manajer pada awal 1980-an, ia meneruskan tradisi itu kepada Beardsley. Predikat dilekatkan kepada pemain ini sebagai penyerang yang punya kelas.

Ternyata sebutan itu ada buktinya. Beardsley tampil sebagai salah seorang pemain dalam skuad The Reds yang mampu memenangi gelar Liga Premier pada 1990. Bersama dengan rekan satu timnya John Barnes dan John Aldridge, ia mengobarkan fanatisme di kalangan pendkung Liverpool saat itu. Keane tampaknya jatuh hati kepada sepakbola indah yang diusung oleh Liverpool. Ini yang terus membayangi dan menyemangati dirinya.

Kemudian Rafa Benitez menawarkan kesempatan kepada pemain berusia 28 tahun itu untuk bergabung ke Anfield. Liverpool membandrol Keane senilai 20 juta poundsterling atau 25 juta euro bulan lalu. Keane menyambut gembira tawaran itu. “Ketika tawaran dilontarkan oleh Liverpool, maka ini alasan mengapa saya hadir di sini,” kata Keane.

Baca entri selengkapnya »