Meski lebaran sudah hampir sebulan terlewati, tapi penyakit post-lebaran syndrom masih saja menggerogoti tubuh ini. Penyakit ini memang menghinggapi hampir seluruh manusia Indonesia, khususnya pasca Idul Fitri kemarin hari.
Biasanya yang gampang dihinggapi adalah orang-orang yang pada saat merayakan lebaran merasa keenakan libur. Jadi sampai saat waktu kerja tiba, pengennya masih serasa liburan. Atau cuti berasama yang diberikan pemerintah dirasa masih kurang. Jadinya hasrat cuti bersama ingin diperpanjang sendiri.
Saya sendiri koq ya bisa-bisanya juga terkena wabah penyakit ini. Hampir dua minggu sudah masuk kantor, tapi bawaannya kayak masih suasana lebaran aja. Masih ingin bertemu sanak-keluarga, makan yang enak-enak dan masih kepengen banget gojegan sama anak di rumah. Itu juga yang menyebabkan lama sekali saya nggak bercerita di blog ini.
Ditambah lagi akan adanya satu perhelatan di rumah orang tua, yakni acara pernikahan kakak saya di penghujung bulan ini. Otomatis kumpul sedulur dan makan yang enak-enak akan digelar kembali.
Syndrom ini juga disebabkan karena adanya udara panas. Iya, suhu udara yang kelewat panas yang membalut kota Jakarta dan kota lainnya di Jawa belakangan hari ini, setidaknya bisa membuat kulit terasa terbakar sang surya. Karena itu, jadinya mau kemana-mana saya malas, takut kulit gosong dan dehidrasi. Alah… apaan sih.
Dan yang memperburuk penyakit ini adalah banyaknya todongan dari teman-teman di kantor yang menanyakan “buah-tangan” dari kampung halaman. Kebanyakan yang nanyain oleh-oleh sih mereka yang nggak pulang mudik atawa nggak punya kampung.
Saya juga nggak bisa mengelak dari pertanyaan membingungkan ini. Lah wong walau saya juga pulang kampung, tapi kan buat saya hukumnya sunah ngebeliin oleh-oleh. Artinya, kalau ada duit saya beliin, kalau nggak punya ya.. wassalam aja.



Yang kasih komentar