Mendekati lebaran adalah saat-saat dimana gue banyak merenung. Merenung soal dosa yang udah diperbuat? Bukan. Jadi ngerenungin apaan dong? Ngerenungin soal udah nggak punya kampung halaman lagi buat mudik.
Gue kayaknya enggak sebahagia teman-teman gue yang lain. Maaf nih coy, ente sebenarnya lagi ngomongin apaan sih?
Ini soal mudik. Emang kenapa? Elu kan tiap tahun juga mudik. Iya bener sih, tapi kan ke kampungnya bini gue. Nah itu udah kejawab masalahnya, terus apa lagi yang elu pikirin?
Elu mestinya tahu dong, biarpun gue lahir dan gede di Jakarta tapi kan tetap masih ada darah jawa –meski nggak berwarna biru– yang buat warganya berhukum wajib mudik saat lebaran. Tiap tahun sepanjang hidup. But me and my family.
Konon ritual ‘buang-buang uang’ yang dijalani mostly oleh orang Jawa ini, baru muncul sekitar awal tahun tujuh puluhan.
Yang gue tahu sih, awalnya mereka menggunakan motor secara berkelompok. Secara bokap gue dan poro sedulur lanang juga pernah ngelakuin mudik dengan mongtor sekitar tahun 1970-an. Gue sendiri kaget waktu liat foto-foto mereka yang lagi ngaso di Alas Roban. Jadi tren turing sesungguhnya udah pernah dilakoni oleh para mudiker sejak hampir setengah abad lalu.
Gue dan keluarga harusnya juga wajib menyambangi mbah-mbah gue di Jawa sono buat silaturahmi. Tapi disebabkan mbah-mbah gue udah pada wafat –baik dari bokap maupun nyokap– jadinya gue udah nggak punya kampung halaman lagi buat mudik.
Sedang dari tahun 1980 nyokap-bokap udah jadi permanent resident di Bekasi. Ya, akhirnya mudiknya ke Bekasi aja. Yah… itu mah bukan mudik namanya, itu namanya piknik.
Mudik menurut gue adalah suatu eksodus masyarakat kota ke kampung halaman mereka masing-masing dengan menggunakan semua jenis moda transportasi, baik pesawat udara, kapal laut, kereta api, juga kendaraan pribadi. Enggak cuma itu, segepok duit dan sekoper pakaian buat sanak sodara di kampung juga nggak bakal ketinggalan.
Gue mudik terakhir kali kira-kira 20 tahun lalu, waktu itu yang masih hidup adalah mbah putri gue yang tinggal di Madiun. Perjalanan mudik terakhir dengan berkereta ekonomi Matarmaja (Malang-Blitar-Madiun-Jakarta) dari Gambir ke Madiun sungguh pengalaman yang mengesankan.




Yang kasih komentar