Ini adalah tahun kedua ‘para pencari tuhan’ menjumpai masyarakat tanah air, setelah tahun sebelumnya sangat sukses dan mendapat tempat khusus di hati pemirsa.
Sinetron yang khusus tayang di bulan Ramadhan ini ternyata mampu ‘malawan arus’ dari kelaziman tren sinetron saat ini.
Syukurlah, ternyata para pemirsa kini sudah cerdas memilih mana tayangan yang berkualitas dan tayangan yang sekadar menjual guyonan slapstik yang tak bermanfaat.
Puluhan suguhan menjelang berbuka atau saat bersahur yang berlabel ramadhan justru jauh dari nilai-nilai religi. Sebagian tayangan cuma menghambur-hamburkan hadiah dari sponsor. Namun begitu tidak membuat masyarakat menjadi kaya materi apalagi kaya hati.
Uniknya, PPT mampu menampilkan humor-humor cerdas dan tidak norak. Penikmat layar kaca, kini tak lagi bisa dipengaruhi oleh lawakan-lawakan garing yang ditampilkan oleh orang yang itu-itu juga. Bosan banget nggak sih, puluhan tahun cuma melihat tampang dan gaya mereka yang tidak pernah berubah.
Sedang komedi yang ditampilkan di PPT –yang notabene bukan sinetron komedi– merupakan komedi situasi. Self mockery ala masyarakat pinggiran yang bergumul dengan kesulitan dan kekurangan.
PPT mampu menjawab keinginan masyarakat yang haus akan tayangan bermutu dan mendidik, meski tidak melibatkan aktor atau aktris papan atas, namun PPT mampu membetot perhatian semua kalangan masyarakat, karena sinetron ini memang tidak menjual mimpi dan tangis.
Kekuatan PPT justru terletak pada kesederhanaannya. Dalam sinetron ini ditampilkan kehidupan keseharian masyarakat miskin yang bermukim di pinggiran kota. Pesan bijak yang disampaikan dalam PPT tidak melulu menggurui. Pesannya sangat sederhana yakni, kesabaran, ketulusan, kejujuran dan kerja keras.
PPT juga tidak memotret kemewahan layaknya sinetron-sientron yang ditayangkan prime time di beberapa stasiun televisi. Tidak ada kolam renang, tidak ada tangga berlapis emas yang berliku-liku layaknya istana, dan dalam PPT penonton tidak akan menemui kisah-kisah hedonis, perselingkuhan, pengkhianatan ataupun cuplikan hantu bergentayangan.
Sinetron ini masih dibesut oleh aktor kawakan sekaligus sutradara, Deddy Mizwar. Namun judulnya ditambahkan Jilid 2, sehingga menjadi jadi “Para Pencari Tuhan Jilid 2″.



Yang kasih komentar