<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>... sekedar bercerita</title>
	<atom:link href="http://murtiyoso.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://murtiyoso.wordpress.com</link>
	<description>share story with others</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Oct 2009 08:09:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='murtiyoso.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/27e4a0aa025d37b866998d80caa529a0?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>... sekedar bercerita</title>
		<link>http://murtiyoso.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Dialog di sebuah perkebunan karet</title>
		<link>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/10/16/dialog-pada-sebuah-perkebunan-karet/</link>
		<comments>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/10/16/dialog-pada-sebuah-perkebunan-karet/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 04:41:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imung murtiyoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murtiyoso.wordpress.com/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Syahdan di pulau Semanggo, di timur benua Atlantis terdapat area perkebunan karet yang luasnya tak sampai 10 hektar persegi.
Pulau Semanggo dihuni tak lebih 20 buruh penyadap karet serta seorang mandor yang gayanya bikin sengak orang lain yang melihatnya.
Mandor ini dulu juga sebenarnya adalah supervisor buat para penyadap karet, karena sesuatu dan lain hal, maka mandor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murtiyoso.wordpress.com&blog=2983843&post=510&subd=murtiyoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Syahdan di pulau Semanggo, di timur benua Atlantis terdapat area perkebunan karet yang luasnya tak sampai 10 hektar persegi.</p>
<p>Pulau Semanggo dihuni tak lebih 20 buruh penyadap karet serta seorang mandor yang gayanya bikin sengak orang lain yang melihatnya.</p>
<p>Mandor ini dulu juga sebenarnya adalah supervisor buat para penyadap karet, karena sesuatu dan lain hal, maka mandor lama mengundurkan diri. Nah, mandor baru ini yang menggantikannya. Namanya mandor Gadang.</p>
<p>Pada suatu siang saat para buruh karet makan siang ala kadarnya, sang  mandor yang tampak jumawa mendatangi mereka dan terjadi percakapan sebagai berikut:</p>
<p><strong><em>Mandor</em></strong>: Semua buruh kumpul disini, ada warta bahwa perusahaan berkenan memberi kita insentif buat dua bulan. Buat yang loyal dan dekat dengan aku, maka insentif 5 cent sebulannya,  jadi 10 cent buat dua bulan.</p>
<p><strong><em>Buruh</em> </strong>: Bagaimana ukuran loyal dan enggak loyal itu bang mandor?</p>
<p><em><strong>Mandor</strong></em> : Seseorang yang dikatakan loyal adalah yang selalu dekat dengan aku, terutama mereka-mereka yang sudah punya hubungan kerja dengan aku di tempat sebelumnya. Aku akan tutup mata terhadap pencapaian mereka di perkebunan ini. Jelek-baik adalah mereka bawaan aku.</p>
<p><em><strong>Buruh</strong></em> : Nggak bisa begitu dong bang mandor, meski saya bukan bawaan bang mandor tapi saya udah lama mengabdi disini bertahun-tahun. Masak kami cuma diberi 3 cent.</p>
<p><em><strong>Mandor</strong></em> : Ah&#8230; persetan dengan alasan kalian. Itu adalah keputusan aku. Aku yang mengambil kebijakan dan keputusan. Kalian terima saja dan tutup mulut. Dan perlu diingat, kalian bukan dari &#8220;bagian kami&#8221;, sehingga kalian patut kami nomorduakan.</p>
<p><em><strong>Buruh</strong> </em>: Jangan begitu dong bang mandor, kami ini bekerja lebih baik dari bawaan bang mandor, kami datang lebih awal dan langsung bekerja. Beda dengan bawaan bang mandor yang datang siang dan boleh pilih-pilih jadwal sesukanya. Belum lagi punya kegemaran ngobrol <em>ngalor-ngidul</em>  kayak siaran infotainment.</p>
<p><em><strong>Mandor</strong></em> : Walau kerja kami seperti yang engkau sebutkan tadi tapi kami punya hubungan batin yang kuat. Malah sangat kuat, sehingga siapapun yang tidak sejalan dan sepakat dengan kami, maka orang-orang tersebut akan kami singkirkan.</p>
<p><em><strong>Buruh</strong></em> : Tapi kan semua kami semua hanya pekerja penyadap karet, cuma bang mandor yang menjadi penguasa disini. Meskinya insentif itu juga diberikan sama rata. Kalaupun mau buat hitung-hitungan, bang mandor bisa dicek hasil kerja mereka. Siapa yang lebih banyak menyadap karet di kelompok ini. Siapa yang cuma pandai berlagak saja.</p>
<p><em><strong>Mandor </strong></em>: Sudah-sudah&#8230; saya nggak mau debat kusir sama kalian. Harusnya kalian bersyukur diberi insentif. Apa mau saya tarik kembali uang itu?</p>
<p><em><strong>Buruh</strong></em> : Ya&#8230; bukan begitu bang mandor&#8230; Masak ada penyadap <em>bau kencur </em>juga dibayar lebih tinggi dari kami. Gimana itung-itungannya bang mandor? Bang mandor harusnya adil, jangan ada diskriminasi seperti itu. Wong semua sama-sama kerja, dan tugas kami adalah penyadap karet, bukan peragawan atau peragawati yang kerjanya mondar-mandir nggak karuan.</p>
<p><strong><em>Mandor</em> </strong>: Ssstttt&#8230; sudah jangan berisik. Perlu kalian ingat, saya memang menerapkan sistem <em>like and dislike</em> bukan <em>punish and reward</em>, jadi saya sengaja memberikan insentif dengan cara itung-itungan yang <em>ngawur</em>. Karena pada prinsipnya kalian bukan bagian dari kami.   Sudah.. saya mau keliling dulu. (*)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murtiyoso.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murtiyoso.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murtiyoso.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murtiyoso.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murtiyoso.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murtiyoso.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murtiyoso.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murtiyoso.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murtiyoso.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murtiyoso.wordpress.com/510/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murtiyoso.wordpress.com&blog=2983843&post=510&subd=murtiyoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/10/16/dialog-pada-sebuah-perkebunan-karet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5883410dcbb091f3331ca81494559b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murtiyoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Orang-orang aneh itu&#8230;</title>
		<link>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/10/12/orang-orang-aneh-itu/</link>
		<comments>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/10/12/orang-orang-aneh-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 04:17:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imung murtiyoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murtiyoso.wordpress.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Orang-orang aneh itu
Ada di sekeliling mereka
Ada di sekeliling kita
Bahkan ada saat kita tak ada
Orang-orang aneh itu
Yang kita tak tahu jenisnya
Yang kita tak tahu apa maunya
Hanya nyata ketika mereka tertawa
Ada orang aneh yang tak paham
dimana mereka berada
Cuma layak jumawa di kelas sudra
Laksana katak dalam tempurung kelapa
Orang-orang aneh itu hilir mudik
Mencari kesaksian diri
Menggapai moksa yang dipaksa
Jati diri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murtiyoso.wordpress.com&blog=2983843&post=506&subd=murtiyoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Orang-orang aneh itu<br />
Ada di sekeliling mereka<br />
Ada di sekeliling kita<br />
Bahkan ada saat kita tak ada</p>
<p>Orang-orang aneh itu<br />
Yang kita tak tahu jenisnya<br />
Yang kita tak tahu apa maunya<br />
Hanya nyata ketika mereka tertawa</p>
<p>Ada orang aneh yang tak paham<br />
dimana mereka berada<br />
Cuma layak jumawa di kelas sudra<br />
Laksana katak dalam tempurung kelapa</p>
<p>Orang-orang aneh itu hilir mudik<br />
Mencari kesaksian diri<br />
Menggapai moksa yang dipaksa<br />
Jati diri dicampakkan di ujung pena</p>
<p>Hasil apa dari mereka yang bernama<br />
Orang-orang aneh itu&#8230;<br />
Bersenang dalam ketidakpastian<br />
bergurau lewat canda-ria hampa</p>
<p>Orang-orang aneh itu hanya menunggu<br />
Menunggu kesia-sian seraya berasa<br />
Harapan yang tak berubah dari awal<br />
hingga majal&#8230;</p>
<p> </p>
<p><em><strong>Oktober 2009</strong></em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murtiyoso.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murtiyoso.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murtiyoso.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murtiyoso.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murtiyoso.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murtiyoso.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murtiyoso.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murtiyoso.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murtiyoso.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murtiyoso.wordpress.com/506/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murtiyoso.wordpress.com&blog=2983843&post=506&subd=murtiyoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/10/12/orang-orang-aneh-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5883410dcbb091f3331ca81494559b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murtiyoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masih ada orang baik di Jakarta</title>
		<link>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/03/17/masih-ada-orang-baik-di-jakarta/</link>
		<comments>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/03/17/masih-ada-orang-baik-di-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 06:16:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imung murtiyoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murtiyoso.wordpress.com/2009/03/17/masih-ada-orang-baik-di-jakarta/</guid>
		<description><![CDATA[Kejadiannya sore kemarin (16/3), saat gue pulang cari sesuap nasi segenggam berlian  .
Menjelang maghrib gue yang pulang dengan motor udah ceritanya udah sampe kampung Bulak, Klender. Mengejutkan tiba-tiba tali kopling motor gue putus.
Gue bingung, kenapa nih tali kopling tau-tau putus, padahal suasana di jalanan udah temaram karena menjelang malam. Yah&#8230; jalan satu-satunya mesti didorong [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murtiyoso.wordpress.com&blog=2983843&post=502&subd=murtiyoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kejadiannya sore kemarin (16/3), saat gue pulang cari sesuap nasi segenggam berlian <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Menjelang maghrib gue yang pulang dengan motor udah ceritanya udah sampe kampung Bulak, Klender. Mengejutkan tiba-tiba tali kopling motor gue putus.</p>
<p>Gue bingung, kenapa nih tali kopling tau-tau putus, padahal suasana di jalanan udah temaram karena menjelang malam. Yah&#8230; jalan satu-satunya mesti didorong nih motor.</p>
<p>Tapi dorong sampe mana? Wong, kejadiannya di Klender, sedang rumah gue di Bekasi. Udah gitu arah pulang jelas nggak ada &#8220;kehidupan&#8221;. Pasalnya, pararel sama rel kereta. Udah gitu mana mungkin ada bengkel yang masih buka.</p>
<p>Kayaknya daripada mikirin yang kayak gitu, bakalan gue nggak nyampe rumah. Terpaksa dengan sisa tenaga yang ada gue tuntun tuh si kuda besi. Dapat seratus meter gue istirahat sebentar. Jalan lagi. Gue mikir, kalo gue dorong sampe rumah bisa-bisa nyampe jam sembilan malam.</p>
<p>Lagi asyiknya gue ngedorong motor, ujug-ujug ada suara dari belakang yang menegor gue. &#8220;Mas motornya kehabisan bensin ya,&#8221;? tanyanya.</p>
<p>Gue langsung muterin kepala gue ke belakang. Ternyata ada seorang anak muda berjaket kulit, rambut gondrong, bercelana jins sedengkul yang robek-robek. Dia pake motor dua tak yang bunyinya lumayan manasin kuping. &#8220;Enggak nih cuma tali koplingnya putus,&#8221; jawab gue sambil kasih tampang sangar juga.</p>
<p>&#8220;Di sini nggak ada bengkel yang bang,&#8221;?  Kali ini gue yang nanya. &#8220;Enggak ada mas, udah pada tutup, ada paling di Buaran,&#8221; sahutnya. Di Buaran? Wah bakalan gue ngedorong lebih jauh lagi nih.</p>
<p>&#8220;Kalo gitu biar saya dorong aja, udah mas naikin motornya aja,  saya yang ngedorong&#8221; pintanya.</p>
<p>Tanpa tanya lagi langsung gue nyemplakin tuh motor sambil dalam hati berpikir, gue bakal dipalak berapa nih ditolong sama anak muda ini.</p>
<p><span id="more-502"></span></p>
<p>Selama perjalanan gue diam aja, gue cuma berdoa mudah-mudahan dia nggak minta macam-macam. Tapi gue udah berjanji bakalan ngasih nih orang barang sepuluh ribu. Yang penting gue dianterin sampe ke bengkel yang terdekat.</p>
<p>Lumayan juga jarak dia ngedorong motor gue. Ngedorongnya pake kaki lagi. Ada kira-kira satu kilo meteran. Dari Bulak ke Buaran. Mungkin bisa juga lebih.</p>
<p>Menjelang Buaran, anak muda itu tau-tau bilangin ke gue, &#8220;Mas di sebelah kanan ada bengkel yang masih buka. Saya mau belok kiri&#8221;.</p>
<p>Gue yang awalnya niat mau ngasih dia tanda terima kasih, nggak bisa ngomong apa-apa, karena dia langsung belok kiri nyeberangin rel kereta api.</p>
<p>Asli gue bingung, tuh orang koq baik banget. Padahal tampangnya preman banget. Gue yang awalnya emang rada-rada curiga, akhirnya cuma mengernyitkan dahi.</p>
<p>Di ibukota yang warganya berprinsip &#8220;elu-elu gua-gua&#8221; ternyata masih bisa dijumpai orang baik kayak anak muda tadi.</p>
<p>Ah&#8230; memang semestinya &#8220;don&#8217;t judge a book by its cover&#8221;. (*)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murtiyoso.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murtiyoso.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murtiyoso.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murtiyoso.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murtiyoso.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murtiyoso.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murtiyoso.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murtiyoso.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murtiyoso.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murtiyoso.wordpress.com/502/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murtiyoso.wordpress.com&blog=2983843&post=502&subd=murtiyoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/03/17/masih-ada-orang-baik-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5883410dcbb091f3331ca81494559b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murtiyoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akhir Kisah Republik Jaim</title>
		<link>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/03/12/akhir-kisah-republik-jaim/</link>
		<comments>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/03/12/akhir-kisah-republik-jaim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 09:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imung murtiyoso</dc:creator>
				<category><![CDATA[serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://murtiyoso.wordpress.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Sudah dua tahun Republik Jaim berdiri. Sepanjang usia itu pula nasibnya tak beda seperti satu tahun lalu.
Republik yang awalnya diharapkan menjadi mercusuar kebanggaan sang dewa kahyangan, sampai detik ini langkahnya tak tentu arah.
Ada yang salah dengan republik ini?
Jelas, meski tidak bisa disebutkan apa penyebabnya namun republik yang usianya seumur jagung ini jalannya sudah terseok-seok, kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murtiyoso.wordpress.com&blog=2983843&post=497&subd=murtiyoso&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sudah dua tahun Republik Jaim berdiri. Sepanjang usia itu pula nasibnya tak beda seperti satu tahun lalu.</p>
<p>Republik yang awalnya diharapkan menjadi mercusuar kebanggaan sang dewa kahyangan, sampai detik ini langkahnya tak tentu arah.</p>
<p>Ada yang salah dengan republik ini?</p>
<p>Jelas, meski tidak bisa disebutkan apa penyebabnya namun republik yang usianya seumur jagung ini jalannya sudah terseok-seok, kalau tidak bisa dikatakan terbentur tembok kokoh.</p>
<p>Friksi tajam antar-top manajer telah melemahkan kekuatan republik ini. Doa yang dipimpin seorang rohaniwan ternama saat berdirinya republik ini juga tak banyak menolong. Sudah tak ada lagi kesatuan dalam kata dan pendapat diantara para pembesar di negeri ini.</p>
<p>Presiden Republik Jaim terlalu pede dengan apa-apa yang telah diperbuatnya. Dia seolah tak butuh orang lain. Kalau kenyataannya begitu, anda salah besar bung presiden. Anda tidak bisa bekerja sendiri walau anda pintar. Anda pasti butuh orang lain. Entah orang-orang yang diatas maupun yang levelnya di bawah anda.</p>
<p>Kembali kita harus berkata jujur bahwa di republik ini tak ada yang dijadikan panutan. Begitu banyak rakyat yang berotak encer disini, namun mereka cukup bangga dengan kepintaran yang sebenarnya relatif. Dan ironisnya mereka cuma &#8211;maaf&#8211; jago kandang.</p>
<p>Masing-masing penduduknya juga bebas berlagak dan bekerja sesukanya. Di republik ini setiap orang bebas menentukan jam kerja, kapan harus masuk dan pulang kerja. Terserah. Parahnya lagi mereka juga menuntut kelebihan tiap-tiap jam itu.</p>
<p>Sang presiden juga semakin nggak &#8220;mengenal&#8221; siapa-siapa bawahannya. Di level menengah alias para manajer juga nggak bisa diharapkan, mereka nggak dapat membaurkan rakyat. Terlalu banyak diskriminasi. Dua kelompok di republik ini semakin berasyik-masyuk dengan &#8220;kerjaannya&#8221;.</p>
<p>Ada yang sibuk mengumbar berita gosip ala sinetron. Ada yang tetap &#8220;aman&#8221; menerima order kerjaan dari pihak luar, meski dihadapan langsung sang presien. Ada lagi yang tiap harinya mondar-mandir nggak karuan. Waduh&#8230; pokoknya cilaka 12.</p>
<p>Presiden yang awalnya menggebu-gebu memimpin republik muda ini, belakangan justru menghadapi dilema. Dia tak berani berargumen frontal dengan rakyat. Banyak laporan terkait kinerja para menteri yang &#8220;tong kosong nyaring bunyinya&#8221; juga tak diindahkan.</p>
<p><span id="more-497"></span></p>
<p>Sementara kalo mau jujur rapor sang presiden dan menteri-menterinya pada kuartal terakhir juga harusnya dapat merah. Mereka yang harusnya menjadi contoh saat masuk kerja justru hadir paling lambat dibanding rakyatnya.</p>
<p>Rakyat yang justru bekerja di tiap-tiap hari libur malah tak diperhatikan sama sekali. Tak ada peduli dan pembelaan sedikitpun dari para pembesar di negeri ini. Padahal yang mereka kerjakan itu sesuatu yang profitable alias sangat menguntungkan.</p>
<p>Dan perlu diingat, uang dari hasil yang mereka kerjakan tak sedikit mengalir ke pundi-pundi kerajaan dewa kahyangan. Bandingkan dengan sebagian rakyat yang tidak melakukan apa-apa, sementara republik sudah banyak mengeluarkan uang buat investasi di tempat mereka.</p>
<p>Alih-alih kekhawatiran didatangai &#8220;KPK&#8221;, tambahan uang buat rakyat yang piket di hari libur malah dihapuskan. Padahal mereka punya tanggungjawab yang lebih besar dibanding mereka-mereka yang sok pintar dan sok diperlukan.</p>
<p>Ah&#8230;. Anda mungkin terlalu terbawa perasaaan, kata seorang teman.</p>
<p>Iya, ada betulnya pernyataan teman itu. Namun kalau sebagian rakyat cuma jadi penonton kelakuan norak mereka-mereka yang merasa sok jumawa. Apa kita diam saja. Mulut bisa diam, tapi perkataan hati tak akan bisa dibendung.</p>
<p>Buat sang presiden ada baiknya anda lebih peduli lagi kepada rakyat yang selama ini bekerja idealis dan tetap semangat meski mereka tak dapat apa-apa. Keberadaan presiden saat ini di tampuk tertinggi di Republik ini karena doa dan dukungan mereka.</p>
<p>Bisakah sang presiden sedikit merenung saat sang presiden sedang berlibur dan bercanda dengan keluarganya, ada segelintir rakyatnya harus bekerja guna kelancaran perjalanan republik ini. Tak terkecuali di hari-hari besar, mereka harus menyingkirkan acara kumpul bersama keluarga.</p>
<p>Maka jika suatu waktu sang presiden tergelincir dari tampuk kekuasaan, itu bukan semata karena nasib dan takdirnya, bisa jadi karena kekecewaan sebagian rakyatnya, sehingga kemungkinan berandil dalam lengsernya sang presiden. Dan ternyata benar, Presiden Republik Jaim terpaksa &#8220;harus&#8221; dilengserkan oleh sang pemilik kahyangan.</p>
<p>&#8220;&#8230;.. Bangun&#8230;. bangun pak, sudah siang, mau pergi ke kantor nggak&#8221;? anak saya tiba-tiba membangunkan tidur dengan menggebuk badan saya dengan sapu lidi.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230; ternyata Republik Jaim itu cuma mimpi doang &#8230;.&#8221; (*)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/murtiyoso.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/murtiyoso.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/murtiyoso.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/murtiyoso.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/murtiyoso.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/murtiyoso.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/murtiyoso.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/murtiyoso.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/murtiyoso.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/murtiyoso.wordpress.com/497/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=murtiyoso.wordpress.com&blog=2983843&post=497&subd=murtiyoso&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://murtiyoso.wordpress.com/2009/03/12/akhir-kisah-republik-jaim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5883410dcbb091f3331ca81494559b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">murtiyoso</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>