Transjakarta yang ngeselin

5 03 2007

Senin (5/3) lepas jam makan siang, sengaja curi waktu buat bayar kartu kredit ke Carrefour, Harmoni. Supaya nggak nunggu lama-lama pilihan jatuh pada moda transportasi kebanggaan warga Jakarta: Transjakarta. Warnanya asli norak: merah-oranye. Alasannya, cepat, hemat dan adem.

Beli tiket 3500 perak, langsung deh nunggu yang waktu itu calon penumpang udah berbaris dua shaf kebelakang. Bayangin nunggu bus Trans-Jak di halte Bank Indonesia udah setengah jam belum juga diangkut. Kenapa? Karena armada jurusan dari Blok M ke Kota waktu itu jarang banget, sekalinya ada penuh terus. Trans-Jak yang minggir nurunin tiga-empat penumpang dan cuma ngambil satu calon penumpang yang ngantre paling depan. Cuk …

Empat Trans-Jak melintas, baru bus yang kelima gue terangkut, walaupun harus berdesak-desakan (it’s like PPD cuma pake AC aja). Dibanding waktu perjalanan, nunggu Trans-Jak enggak sebanding banget. Coba nungguin hampir 45 menit eh… nyampe di Harmoni cuma empat menit.

Selesai keperluan, buru-buru gue cabut lagi ke kantor, karena jangan sampe kelamaan nggak enak ama bos. Bukan apa-apa bingung cari alasannya. He… he… he …

Di shelter Trans-Jak Harmoni, penumpang udah menyemut, suasananya persis banget kayak di terminal Pulo Gadung. Bedanya disini rata-rata berparfum, rapih dan “banyak yang bening”.

Di pintu jurusan Kota-Blok M udah nggak ketulungan penuhnya, suasananya lebih parah dan crowded banget.. Sumpah baru kali ini naik busway ngantrenya kayak mau beli “Breadtalk”. Ngeri juga kali-kali aje tuh halte ambrol ke bawah trus nyemplung ke kali, saking nggak kuat nampung calon penumpang yang terus wara-wiri.

Udah gitu dasar tabiat warga Jakarta, bukannya pade ngantre yang baik, eh .. malah pada main serobot, kayak takut nggak kebagian jatah beras aja. Kelakuan yang nggak berubah …

Untungnya, nah ini ada untungnya, seorang petugas Trans-Jak yang gagah sambil pegang handy-talky punya kepedulian yang tinggi. Nggak tau apa yang diobrolin ujug-ujug datang deh satu busway kosong jurusan Blok M. (thanks for Trans-Jak’s security).

Meski gue nggak terangkut, tapi kan panjang antrean bisa tereduksi gitu. Gue berharap mudah-mudahan aja ada lagi bus kosong yang sudi mampir. Unfortunatelly doa gue nggak terkabul, karena bus berikutnya padat melulu. Itung-itung udah satu jam berdiri-dempet-kaku nungguin alat transportasi kebanggan bang Yos itu.

Jam setengah tiga sore akhirnya beroleh juga Trans-Jak. Di dalamnya sama aja, penuh-sesak. Tapi adem sih … lumayan ngilangin kesel selama nunggu. Sampai di halte BI cuma makan waktu lima menit, sebelumnya antre di Harmoni 55 menit. Langsung ke kantor naik-turun tangga penyeberangan dan jalan 15 menit. Jadi waktu yang dibutuhkan 75 menit buat kantor-Harmoni yang jaraknya cuma 1,5 kilometer. Hah.. ???

Usul sama yang ngelola Transjakarta, baiknya komunikasi antarhalte lebih diintensifkan, jangan sampe ada jurusan yang banyak disliwerin, tapi jurusan sebaliknya kosong-melompong. Maksudnya supaya setiap jurusan volume kendaraannya berimbang. Jangan jurusan yang ke Blok M sering banget lewatnya, eh giliran ke Kota bujug busyet lama pisan. Gimana caranya deh… (Imung Murtiyoso)

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: