Merah-putih di Allianz Arena

8 03 2007
Menjelang tidur malam weker diset tepat di angka 2, bukan apa-apa dinihari nanti mau ada pertandingan antardua klub besar Eropa, Bayer Muenchen vs Real Madrid.Maka dari itu supaya nggak ketinggalan nonton weker kudu disetel. Kalo nggak gitu perjalanan tidur selalu mulus sampai terbangun sendiri, biasanya sih… jam setengah enam pagi, pas film Dora lagi tayang.

Sebenernya sih, “FC Hollywood” or “Los Galacticos” bukan kesebelasan favorit saya. Tapi karena auran Piala Champion yang selalu bikin adiktif. Dari dulu sampai sekarang sih saya insya Allah megangnya klub yang gambarnya bango warna merah, Liverpool. (alasannya: England banget sih).Jam dua pagi weker ‘teriak-teriak”. Sontak kaget dan ngucek mata. Langsung ke kamar mandi, raup muka sambil kumur-kumur. Katanya sih biar mata bisa melek dan bersihin iler. Nggak lupa bikin segelas teh nasgitel (panas-legi-kentel). Tapi buat temen minum teh nggak ada, terpaksa krupuk di toples digadoin. (Besok bakalan diomelin sama istri, abisnya krupuk setoples abis). Wah ini mah namanya ngegares.

Pertandingan yang berlangsung di Allianz Arena kota Munich membosankan. Pemain-pemain bintang yang dibayar mahal, di lapangan kerjanya cuma lari sana-sini enggak dapat bola, kayak main petak-umpet. Apalagi kalau lihat Nistelrooy sama Raul, bawaannya ‘ngowoh’ melulu.

Sebenernya bukan pertandingan yang membetot perhatian saya pagi itu, tapi yang paling mencolok adalah banyaknya bendera merah-putih yang dibawa suporter Bayer. Banyak banget, mungkin jumlahnya ribuan, dari yang kecil sampai seukuran taplak meja.

Tadinya saya pikir kaum Bonek (the Indonesian real hooligans) ikutan nonton sekalian promosiin Indonesia atau setidaknya memperkenalkan kuliner Jawa Timur macam rujak cingur, tapi kalau dipikir-pikir jangankan naik pesawat, naik kereta ekonomi aja nggak ada yang mau bayar.

Ada juga suporter yang bawa bendera merah-putih, tapi bukan di Eropa deh…, di Hong Kong atawa Taiwan mungkin iya, mengingat begitu ‘dahsyatnya’ para TKI yang datang ke stadion mendukung kesebelasan Indonesia sewaktu bertanding di sana. Kesimpulannya, dua prediksi saya tentang merah-putih diatas semuanya ngawur alias nggak berdasar.

Yang paling masuk akal adalah warga kerajaan Monaco merupakan pendukung Bayer, kan bendera negara kerajaan itu warnanya sama atau barangkali nyontek sama bendera kita. Merah diatas, putih dibawah. Selain letak Monaco sama-sama di jazirah Eropa, jaraknya juga nggak jauh-jauh banget sama ‘Bavarian’.

Tapi kesimpulan saya yang terakhir ini juga saya patahkan sendiri. Lha kok? Iya jadi nyimpulin sendiri, matahin sendiri. Setahu saya penduduk Monaco tuh bukan penggila bola seperti di Italia, Prancis atau Jerman. Pernah dengar ada kesebelasan Monaco berjaya di Eropa? atau pemainnya yang dibeli oleh klub-klub raksasa Eropa? Mungkin ndak ada kan…

Yang paling prestisius di negaranya Pangeran Albert adalah ajang event balap mobil Formula 1. Disamping itu Monaco juga kesohor sama pantainya (.. dan yang berjemur tentunya). Yatch-yatch kepunyaan para miliuner sejagat ada di sini. Resume: Monaco tempat ngumpulnya orang paling tajir dari seluruh dunia, bukan tempat ngumpulnya pemain dan penonton bola. Yang jadi pertanyaan, kenapa suporter Bayer membawa merah-putih. Ada yang bisa membantu?  (*)

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: