Pasar Baru atawa Passer Baroe

12 03 2007

Beruntung saya termasuk yang lumayan akrab dengan lingkungan Pasar Baru, karena saban hari selama sembilan tahun bolak-balik ke kawasan yang punya sejarah panjang itu.

Mas emang kerja di toko apa? Bukan, saya bukan pegawai salah satu department store disitu, tapi kebetulan kantor saya letaknya berdekatan dengan pusat perbelanjaan yang dibangun pada 1860 pada masa pemerintahan VOC.

Tahun 1989 pertama kali saya menjejakkan kaki di daerah yang banyak dijejali bangunan-bangunan tua bersejarah itu. Suasana masih semrawut, maklum saja, pengunjung boleh memarkir mobil di sepanjang wilayah pertokoan. Mulai pintu masuk dari Jl. Pos Utara (jembatan masuk) sampai tembus ke Jl. Samanhudi.

Buat pihak yang berkompeten, Pemda DKI/BP Perpakiran ada baiknya dibuat lahan parkir diatas Kali Ciliwung –dengan catatan Pemda DKI sementara waktu mengabaikan rencana transportasi air– sehingga selain menampung lebih banyak kendaraan juga tidak mengganggu aktivitas kantor-kantor yang ada di sepanjang Jl. Antara.

Walaupun banyak bertebaran pusat-pusat perbelanjaan di ibukota, nyatanya Pasar Baru masih mempunyai pengunjung fanatik. “Untuk sepatu, Pasar Baru masih yang terbaik,” kata teman beberapa waktu lalu. Memang Pasar Baru identik dengan toko Sepatu. Ada pameo dari warga Jakarta tentang hal ini: “baju boleh beli di mal, tapi kalau sepatu carinya di Pasar Baru”. Toko sepatu yang kesohor –kalau nggak salah– Lim Seng Lie.

Cari makan di Pasar Baru juga nggak susah. Banyak tempat buat mengganjal perut. Rupa-rupa makan tersedia, dari pecel lele, masakan Padang sampai chinesse food.

Ada bakmi Gg Kelinci yang udah kondang, atau untuk kelas rakyatnya datang saja ke mie ayam Poseng, dinamain Poseng karena letaknya menjorok di gang Poseng. Kalau jam makan siang, susah sekali dapat duduk disini. Ada juga bakery .. waduh namanya lupa tuh.

Mau makan ala rumahan, ikuti jalan kecil disebelah Toko Bata, disitu ada beberapa tempat makan prasmanan, rasa enak dengan harga murah. Warkop 24 jam juga ada, tempatnya di depan Gedung Antara.
Dulu saya menghabiskan waktu sembari cuci mata di tempat ini ini. Penjualnya mang Endi, sekarang diteruskan anak-anaknya. Konon bapaknya mang Endi yang pertama berjualan disini. Jadi dari kakek sampai cucu.

Oh ya.. kalau pas ulang tahun Jakarta, tiap tahunnya diadakan Festival Passer Baroe. Acaranya meriah banget. Pemda DKI sengaja membuat festival tahunan ini, tujuannya kembali menaikkan gengsi Pasar Baru sebagai tempat belanja bersejarah.

Maklum belakangan ini banyak menjamur mal-mal ataupun town squares yang hanya membuat ibukota makin sempit dan gersang. Ada usul nih… buat warga Jakarta, tanpa bermaksud menggurui, pls deh try to visit Passer Baroe with family or someone.

Tujuan awal jangan belanja dulu, niat aja plesiran ke kota tua sembari mengenang Jakarta tempoe doeloe. Apa nggak bosen sih ngeliat mal yang isinya kayak gitu-gitu aja. Mending ke Pasar Baru, belanja sambil belajar. Karena kalau nggak gitu Passer Baroe cuma jadi bagian sejarah Jakarta doang. (*)

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: