Nata ‘the ice breaker’

23 04 2007

 Kalo nggak ada Nata makin hening aja nih suasana ruangan kantor gue. Dari delapan personel di divisi gue, semuanya punya sifat ‘pendiam’.

Satu-dua orang aja yang kadang-kadang agak ember. Lainnya, silence please, kata Tukul. Bos gue sendiri udah pendiam dari sononya. Kalo nggak diajak ngomong nggak bakalan deh elo ditanyain duluan. Tapi gue sih nyadar banget, dia diam tapi lagi kerja.

Beda ama anak buahnya, diamnya pasti lagi browsing atau lagi mikir yang jorok-jorok. He… he… he… Yang perempuan, Rika juga ‘sebelas-duabelas’, dia asyik sama tagged online-nya. Nggak bakalan juga elo bisa ngobrol kalo dia lagi surfing, kecuali kalo dikagetin, baru sadar deh tuh anak. Jadi kalo gue simpulin di sini tiap orang punya dunia masing-masing. Tapi bukan autis lho… Nah dalam situasi kayak gini, Nata biasanya tampil jadi ‘ice breaker’.

Perlu dijelasin ice breaker ini bukan kapal pemecah es ‘Healy’ yang nongkrong di kutub utara atau juga pemecah bongkahan es di pabrik es, tapi pemecah kebisuan, keheningan. Pokoknye yang bikin rame suasana deh… Contohnya, suatu hari muka Nata sembab dan kehitam-kehitaman, nggak tau kenapa. Ibu Ida, personel paling sepuh di sini dengan mimik heran nanyain, “Kenapa tuh muka jadi item kayak gitu?” Sambil cengengesan dia jawab, “biasa… lagi ganti chasing”. Haa.. haa.. haa..

Nata, lengkapnya Mahroz Arawinata tiap hari emang hobinya ngelucu. Sehari nggak ada dia ruangan bakalan nggak beda sama Karet Bivak atau Menteng Pulo. Maksud lo? Maksud gue kalo malam hari. Sama sepinya gitu. Lelaki yang tinggal di Bojonggede, Bogor ini orangnya polos banget, meski udah punya dua anak dari satu orang bini, tampangnya masih kayak anak STM Boedoet. Polos tapi sangar. Saking polosnya, banyak yang kepengen juga ‘ngebajak’ dia supaya mau pindah ke divisi lain. Sebagai OB (office boy) Nata memang rajin dan cekatan, nggak pernah mangkir apalagi bolos.

Sudah setahun lebih Nata bergabung di divisi ini, sepanjang itu juga belum pernah ada yang merasa dikecewain sama dia. Malah sejak bergabung di sini teman-teman merasa syukur banget, sebab sejak ada Nata kami dianggap menjadi pegawai beneran. Kenapa? Iya… karena –maaf– OB yang dulu nggak pernah tuh namanya nyediain minuman. Boro-boro kopi atau teh manis, air putih juga kagak.

Bisa dibayangin, udah suasana sunyi-senyap –bukan Karet Bivak atau Menteng Pulo– tapi Tanah Kusir, nyampe di kantor badan basah kuyup, udah gitu tenggorokan kering, eh… di meja nggak ada yang diminum. Terpaksa cari minum sendiri.

Bukan sih mau ngebandingin, tapi mestinya tiap orang tau tugasnya masing-masing. Yang OB tau kerjanya apa. Manajer sama asistennya juga harus tau fungsinya. Yang merasa pegawai juga begitu. Kalau tidak atau belum tahu… ya baca buku peraturan lembaga lagi. Mo nanya kalo browsing, ngegame, chatting itu masuk halaman berapa ya?

Once upon a time, tumbenan Nata baca koran. Yang dibaca biasanya sih berita olah raga, utamanya sepakbola. Kayak komentator dia coba mengulas apa yang habis dibaca. “Pra-kualifikasi piala Eropa udah dimulai ya.., wah seru nih,” katanya. “Kira-kira siapa yang bakalan juara piala Eropa nanti ya?” tanya gue sambil nyedot kopi yang masih ngebul. “Seru nih bang Kimung (dia biasa manggil gue bang Kimung), pasti yang ke final Belanda nih..” ramalnya. “Belanda sama Inggris kali ya… yang ke final,” sambung gue. “Bukan sama Inggris,” sahutnya lagi.

“Jadi menurut Nata yang cocok Belanda lawan siapa di final…?” tanya gue penasaran. “Belanda lawan Pitung…” jawabnya sambil ngeloyor ke luar. Spontan gue terpingkal-pingkal dengerin jawaban tuh anak. Dalam hati bergumam, “Ah… kalo aja Nata nggak ada disini,”. (*)





Dimana tempat kami bermain?

19 04 2007

Tanah seluas 300 m2 di kompleks kami harusnya buat arena bermain, tapi lahan itu kini dijejali mobil-mobil yang nggak peduli dengan fasilitas umum satu-satunya buat warga, khususnya anak-anak.
 
Dulu setiap sore menjelang maghrib anak-anak riang bermain sepak bola plastik sambil bertelanjang dada, kini mereka harus mengalah dan cuma bisa memandang nanar hadirnya kendaraan roda empat warna-warni di lapangan itu.

Dulu setiap Ahad pagi, sebelum mobil-mobil angkuh itu datang, lapangan disesaki anak-anak yang ingin bermain basket three-on-three.

Tiang basket yang pernah mereka dirikan bersama-sama kini sudah mulai berkarat dan hilang papan pantulnya. Dan kini menjadi monumen ringkih dan bisu atas kenangan yang pernah mereka rasakan dahulu.

Tidak ada lagi Roni, sang pelatih bola basket yang menjadi kebanggaan kompleks kami, karena seringnya diundang menjadi pemain bayaran sampai ke luar kota. Tidak terlihat lagi gerakan lay-up-nya Onny yang mengundang decak kagum rekan-rekannya, atau sky-hook-nya Hendra layaknya Hakeem Olajuwon. Semuanya lenyap dalam sekejap. Tidak pernah lagi terdengar tawa lebar dan canda mereka.

Para orangtua wal bil khusus pengurus erte di kompleks kami seolah nggak mau tahu dengan kondisi ini. Jangankan mencarikan alternatif lahan buat mereka, mobil siapa-siapa saja yang parkir disitu juga mereka nggak peduli. Mobil maling kek, mobil tetangga kompleks sebelah kek, atau mobil rusak ngejogrog tiap hari disitu. Mereka –pemilik mobil dan para orangtua– mungkin secara tidak sadar sudah mencerabut hak anak-anak itu. Hak untuk bermain. Hak berkumpul dengan teman.

Mereka –pemilik mobil dan para orangtua– juga telah membuat hilang suasana riang dan gaduh. Mestinya sepanjang anak-anak itu berlaku positif, kegiatan-kegiatan mereka patut disokong dan dicarikan solusi bukan ‘dikalahkan’ hanya oleh beberapa lembar puluhan ribu.

Sekarang anak-anak baik itu bingung, tidak ada lagi tempat bermain. Bingung kepada siapa mereka harus bercerita. Komnas Anak atau Komnas HAM? Ah itu sih buat urusan yang berat-berat. Kalau urusan kayak gini ya… ke pengurus erte aja.

Oh ya, setelah lapangan nggak lagi bisa digunakan bermain, sekarang di kompleks kami ada olahraga yang lagi ngetrend lho. Peminatnya kebanyakan bapak-bapak. Tanpa perlu lapangan. Tanpa lari-lari. Bisa sambil minum, makan dan merokok. Olah raga apaan tuh? Itu … main gaple. Gaple?? Iya, toh gaple juga olah raga!? Ini kata bapak-bapak itu loh … mungkin.

Trus…
Lewat…
Trus…
Balak enam…
Balak song…
Gaple…
Ngocok dong loe… (*)





In My DaRkEsT hOuR – [Megadeth]

13 04 2007


In my hour of need
Ha [no] you’re not there
And though I reached out for you
Would’nt lend a hand
Through the darkest hour
Grace did not shine on me
It feels so cold, very cold
No one cares for me

Did you ever think I get lonely
Did you ever think that I needed love
Did you ever think to stop thinking
You’re the only one that I’m thinking of

You’ll never know how hard I tried
To find my space and satisfy you too

Things will be better when I’m dead and gone
Don’t try to understand, knowing you I’m probably wrong

But oh how I lived my life for you
Still you’d turn away
Now as I die for you
My flesh still crawls as I breathe your name
All these years I thought I was wrong
Now I know it was you
Raise your head, raise your face, your eyes
Tell me who you think you are, who?

I walk, I walk alone
Into the promised land

There’s a better place for me
But it’s far, far away
Everlasting life for me
In a perfect world
But I gotta die first,
Please God send me on my way

Time has a way of taking time
Loneliness is not only felt be fools
Alone I call to ease the pain
Yearning to be held by you, alone so alone, I’m lost
Consumed by the pain
The pain, the pain, the pain

Won’t you hold me again
You just laughed, ha ha, bitch
My whole life is work built on the past
But the time has come when all things shall pass
This good thing passed away

The song is taken from album: …So Far, So Good ..So What!





Nikmatnya nasi uduk mpok Ayoh

9 04 2007

Jangan bandingkan nasi uduk mpok Ayoh sama nasi uduk mas Miskun yang di jalan Kramat Raya atau nasi uduk Kebon Kacang di daerah Tenabang.

Jelas beda. Nasi uduk mpok Ayoh tidak bermodal besar dan pembelinya dari kalangan ‘sandal jepit’. Sedang nasi uduk Mas Miskun berjualan ala franchise dan punya banyak cabang dimana-mana.

Nggak sulit kok mencari lokasi warung nasi uduk betawi mpok Ayoh. Di pagi hari biasanya sudah banyak orang-orang berkerumun menutupi meja berukuran 1,5 m x 1 m yang diatasnya sudah tersaji nasi uduk dan segala lauk pelengkapnya.

Lokasinya memang di salah satu mulut gang sempit, di pertigaan jalan raya Bintara Jaya, Bekasi Barat (pertigaan kompleks ANTARA), namun keberadaan warung tersebut selalu dipenuhi para penikmat sarapan pagi.

Biasanya setelah berolahraga atau menemani istri belanja, atau mau berangkat kerja saya pastikan mampir kesini. Karena selain rasanya yang enak, nasik uduk mpok Ayoh juga terbilang bersih dan murah. Buat satu porsi nasi uduk ditambah lauk-pauknya harganya cuma 3.500 perak.

Sebenarnya nggak ada yang terlalu istimewa dari warung nasi uduk ini, seperti umumnya penjual nasi uduk, di sini tersedia nasi uduk beserta topping pelengkapnya macam, bihun goreng, semur berupa tahu, tempe, jengkol dan telur. Hanya saja yang membedakan rasanya.

Asmaroh (39) atau yang lebih dikenal mpok Ayoh, setiap hari membuka warung nasi uduknya dari jam 06.00 sampai habis dagangannya. “Biasanya sih abis, kalau kagak abis paling dimakan sendiri, sama dibagiin tetangga, tapi seringnya sih jam sembilanan juga udah abis,” kata mpok Ayoh dengan logat betawi yang kental.

Pada hari kerja, banyak karyawan yang akan berangkat ke kantor singgah disini. Biasanya mereka membeli dengan cara dibungkus untuk dimakan di kantornya. Pagi hari di warung mpok Ayoh layaknya melting pot, karena pegawai, anak sekolah, ibu-ibu yang mampir sehabis belanja, tukang ojeg, tukang sayur berbaur disini, hanya untuk mendapatkan sepiring nasi uduk yang gurih.

Oh ya.. persis di sebelah warung mpok Ayoh juga ada warung sejenis yang dikelola sama mpok Minah. Sama betawinya, tapi jam terbang mpok Ayoh lebih lama dibanding mpok Minah, sehingga ia nggak kuatir jika pelanggannya akan berpindah.

“Kagak apa-apa, kan rejeki masing-masing, ada yang ngatur,” begitu jawaban polos mpok Ayoh saat ditanya, apakah warung mpok Minah akan ‘mengganggu’ pendapatannya. Ditanya tentang resep nasi uduknya begitu digemari banyak orang, mpok Ayoh berujar, “Kagak ada yang istimewa, biasa aja kayak yang laen-laen,”.

Dari hasil jualannya ini, mpok Ayoh sanggup menyekolahkan lima anaknya, bahkan satu anaknya sudah di bangku kuliah, yang paling kecil masih di taman kanak-kanak (TK). Sedangkan suaminya hanya seorang pekerja serabutan.

Suatu waktu pernah saya ceritakan kepadanya bahwa di daerah Kincan, di seberang pasar Sumber Arta, Kalimalang juga ada penjual nasi uduk self service yang bukanya malam hari. Tempatnya cukup luas dan lauknya juga bervariasi, jadi pembeli terasa nyaman dan betah.

Saat ditanya apakah usahanya ini akan dikembangkan seperti halnya nasi uduk Kincan, mpok Ayoh yang sudah 10 tahun berjualan cuma berucap, “Udah dah cukup segini aja, segini juga udah syukur, bisa nyekolahin anak-anak,” katanya tersenyum.

Benar kata mpok Ayoh, lebih dan kurang dalam hidup itu ternyata tempelan duniawi, sudah digariskan dari Yang Maha Pengatur, tinggal bagaimana menikmati dan mensyukurinya. (*)





FaMiLy GaThErInG JiO dI CiMaCaN

3 04 2007

Sehari sebelum keberangkatan ke lokasi family gathering yang diadakan divisi gue di Pusdiklat Indofood, Cimacan (31/3 – 1/4), keluarga gue mendadak demam dan flu. Walaupun sudah ‘disuntikan’ vitamin dan segala macam suplemen, namun karena penyakit datangnya dari Yang Maha Kuasa, maka gue terima dengan ikhlas.

Anak gue yang paling kecil, Ratri dari rumah sudah menunjukkan gelagat mau sakit, karena beberapa hari belakangan dia nggak berselera makan. Kakaknya Kemal sebelum berangkat sampai pulang lagi masih terus didera batuk berkepanjangan.

Istri gue yang nggak biasa berkendaraan jarak jauh dengan bus juga mulai mual-mual (bukan hamil), khawatir jangan-jangan entar dia muntah di bis. Gue sendiri abis dikerokin istri karena tiba-tiba meriang dan masuk angin.

Sejak gabung di Jasa Informasi Online (JIO) –divisi tempat gue kerja– belum pernah ada kegiatan kumpul-kumpul keluarga kayak gini, maka buat hormatin manajer dan rekan seruangan, maka gue putusin berangkat dan tetap semangat. Keep spirit man!

Divisi JIO yang strukturalnya berada dibawah Direktorat Pemasaran LKBN ANTARA ini punya delapan personel masing-masing satu manajer, dua asisten manajer (asmen), lima staf dan satu orang office boy (OB).

Jam 10.00 pagi bis berangkat dari start point di Wisma Antara membawa 20-an peserta. Perjalanan lancar, tapi keluar pintu tol Ciawi ratusan kendaraan sudah mengular terjebak macet.

Hampir satu jam kendaraan ‘parkir’ sepanjang lebih kurang 2 km. Saking macetnya, gue relain turun dari bis sambil ngegendong anak gue yang kecil, supaya bisa tukar udara yang lebih baik ketimbang di dalam bis yang pengap.

Tiba di lokasi jam 15.00, alhamdulillah anak-istri nggak ada yang sakit, cuman si kecil aja yang sering muntah. Langsung masuk kamar yang sudah disiapin, satu jam rebahan buat ngilangin penat dan ngantuk. Habis itu jalan-jalan deh keliling pusdiklat milik PT Indofood yang luasnya kira-kira dua kali lapangan bola itu.

Jam 16.30 di ruang tengah di Wisma Badranaya –salah satu wisma yang ada di pusdiklat– sudah berisik sama suara anak-anak yang becanda, suara keras Spongebob Squarepants sama Patrik di televisi juga tak kalah kerasnya. Di sudut lain tampak para istri personel JIO sudah saling bertegur-sapa dan bersenda-gurau.

Di susunan acara, jam 16.00 harusnya acaranya ramah-tamah, tapi kelihatannya nggak semuanya kumpul di ruangan itu. Mungkin masih istirahat atau punya acara masing-masing, jadinya ramah-tamah terpaksa ditunda sampai menjelang makan malam.

Ba’da maghrib, pukul 18.30 seluruh anggota keluarga sudah ngeriung di ruang tengah, kali ini semuanya segar dan wangi. Maklum abis mandi sama keramas.

Acara dibuka sambutan dari manajer JIO Bp. Anton Santoso, yang sekaligus memperkenalkan anggota keluarganya, disusul para asmen dan staf lainnya. Semua saling memperkenalkan anggota keluarganya masing-masing.

Selesai ramah-tamah, nyaris nggak ada lagi yang menarik buat diceritain. Garing. Kalau diurutin siklusnya sbb: makan malam, ada karaoke nggak ada penyanyi, main gaple sembari nahan ngantuk, trus masuk kamar… tidur. Nggak ngerti apa karena efek bawa keluarga, jadinya talenta nyanyi temen-temen nggak ada yang nongol. Padahal Oktora sudah rela berat-berat bawa karaoke set dari Ciledug lho!

Lomba bawa kelengkeng

Beruntung pagi harinya ada berbagai macam perlombaan buat anak-anak dan orang tua. Buat anak-anak, lomba memecahin balon dan bawa kelengkeng pakai sendok. Kelengkeng atau kelereng? Betul seharusnya memang kelereng, tapi karena panitia lupa bawa kelereng atawa gundu, jadinya kelengkeng sebagai pengganti kelereng. toh bentuk dan besarnya sama.

Sesi mecahin balon diikuti semua anak termasuk Fakhri, anak ibu Ida yang udah kuliah, tapi nggak jaminan dia bakal menang, buktinya dia dikalahin sama anak-anak usia 6-9 tahun. Sayang Kemal nggak mau ikutan, dia malah asyik duduk menyendiri di pojok lapangan. Hey my son … what are u thinking of ?

Pergelaran lomba bawa kelereng untuk ‘usia bayi’ banyak menarik perhatian penonton, karena pesertanya dua anak balita: Ratri dan Nurul, anaknya Ferly. Mestinya ada satu lagi Hafiz, anaknya pak Anton, tapi ngambek nggak mau ikutan.

Satu… dua… tiga… Bukan lombanya yang dilihat, tapi gemulainya jalan dua anak yang masih belum sekolah itu yang jadi bahan tertawaan. Abisnya jalannya geal-geol sih. Udah gitu makin ditepukin makin cuek aja mereka. Alhasil kelengkeng jatuh dari sendokpun mereka nggak peduli.

Terakhir lomba balap karung bapak-bapak. Kalau ini sih gue nggak mau nulis panjang-lebar, abisnya pasti nggak lucu kayak anak-anak. Yang penting ada juara 1,2,3 dan dapat hadiah. Eh.. tapi perlu dicatat juga sih.. di balap karung gue menyabet juara III.

Kelar acara, kembali ke kamar buat ngemasin barang-barang. Sebab abis makan siang jam 13.00 rencananya langsung pulang, karena takut kena macet lagi. Cuacanya juga mulai nggak bersahabat, gerimis dan mendung. Tapi kesimpulannya sih, acara kayak gini bagus buat ngendorin otot dan nyari udara segar, disamping bisa ngajak keluarga piknik gratis.

Ok gitu deh, sedikit cerita family gathering di Cimacan. Buat yang akan datang, boleh dong gue ngusulin supaya diadakan jangan di kawasan seputar Puncak. Bukan apa-apa, kasihan sama anak-anak, sebab kalau pulang via tol Jagorawi, biasanya gue minta sama pak sopir supaya diturunin di UKI, trus gue mesti ngelanjutin lagi ke rumah pake taksi (kalau ada duit), kalau tongpes yang pake mikrolet. Jadi capee deh… (Imung Murtiyoso, April 2007)