FaMiLy GaThErInG JiO dI CiMaCaN

3 04 2007

Sehari sebelum keberangkatan ke lokasi family gathering yang diadakan divisi gue di Pusdiklat Indofood, Cimacan (31/3 – 1/4), keluarga gue mendadak demam dan flu. Walaupun sudah ‘disuntikan’ vitamin dan segala macam suplemen, namun karena penyakit datangnya dari Yang Maha Kuasa, maka gue terima dengan ikhlas.

Anak gue yang paling kecil, Ratri dari rumah sudah menunjukkan gelagat mau sakit, karena beberapa hari belakangan dia nggak berselera makan. Kakaknya Kemal sebelum berangkat sampai pulang lagi masih terus didera batuk berkepanjangan.

Istri gue yang nggak biasa berkendaraan jarak jauh dengan bus juga mulai mual-mual (bukan hamil), khawatir jangan-jangan entar dia muntah di bis. Gue sendiri abis dikerokin istri karena tiba-tiba meriang dan masuk angin.

Sejak gabung di Jasa Informasi Online (JIO) –divisi tempat gue kerja– belum pernah ada kegiatan kumpul-kumpul keluarga kayak gini, maka buat hormatin manajer dan rekan seruangan, maka gue putusin berangkat dan tetap semangat. Keep spirit man!

Divisi JIO yang strukturalnya berada dibawah Direktorat Pemasaran LKBN ANTARA ini punya delapan personel masing-masing satu manajer, dua asisten manajer (asmen), lima staf dan satu orang office boy (OB).

Jam 10.00 pagi bis berangkat dari start point di Wisma Antara membawa 20-an peserta. Perjalanan lancar, tapi keluar pintu tol Ciawi ratusan kendaraan sudah mengular terjebak macet.

Hampir satu jam kendaraan ‘parkir’ sepanjang lebih kurang 2 km. Saking macetnya, gue relain turun dari bis sambil ngegendong anak gue yang kecil, supaya bisa tukar udara yang lebih baik ketimbang di dalam bis yang pengap.

Tiba di lokasi jam 15.00, alhamdulillah anak-istri nggak ada yang sakit, cuman si kecil aja yang sering muntah. Langsung masuk kamar yang sudah disiapin, satu jam rebahan buat ngilangin penat dan ngantuk. Habis itu jalan-jalan deh keliling pusdiklat milik PT Indofood yang luasnya kira-kira dua kali lapangan bola itu.

Jam 16.30 di ruang tengah di Wisma Badranaya –salah satu wisma yang ada di pusdiklat– sudah berisik sama suara anak-anak yang becanda, suara keras Spongebob Squarepants sama Patrik di televisi juga tak kalah kerasnya. Di sudut lain tampak para istri personel JIO sudah saling bertegur-sapa dan bersenda-gurau.

Di susunan acara, jam 16.00 harusnya acaranya ramah-tamah, tapi kelihatannya nggak semuanya kumpul di ruangan itu. Mungkin masih istirahat atau punya acara masing-masing, jadinya ramah-tamah terpaksa ditunda sampai menjelang makan malam.

Ba’da maghrib, pukul 18.30 seluruh anggota keluarga sudah ngeriung di ruang tengah, kali ini semuanya segar dan wangi. Maklum abis mandi sama keramas.

Acara dibuka sambutan dari manajer JIO Bp. Anton Santoso, yang sekaligus memperkenalkan anggota keluarganya, disusul para asmen dan staf lainnya. Semua saling memperkenalkan anggota keluarganya masing-masing.

Selesai ramah-tamah, nyaris nggak ada lagi yang menarik buat diceritain. Garing. Kalau diurutin siklusnya sbb: makan malam, ada karaoke nggak ada penyanyi, main gaple sembari nahan ngantuk, trus masuk kamar… tidur. Nggak ngerti apa karena efek bawa keluarga, jadinya talenta nyanyi temen-temen nggak ada yang nongol. Padahal Oktora sudah rela berat-berat bawa karaoke set dari Ciledug lho!

Lomba bawa kelengkeng

Beruntung pagi harinya ada berbagai macam perlombaan buat anak-anak dan orang tua. Buat anak-anak, lomba memecahin balon dan bawa kelengkeng pakai sendok. Kelengkeng atau kelereng? Betul seharusnya memang kelereng, tapi karena panitia lupa bawa kelereng atawa gundu, jadinya kelengkeng sebagai pengganti kelereng. toh bentuk dan besarnya sama.

Sesi mecahin balon diikuti semua anak termasuk Fakhri, anak ibu Ida yang udah kuliah, tapi nggak jaminan dia bakal menang, buktinya dia dikalahin sama anak-anak usia 6-9 tahun. Sayang Kemal nggak mau ikutan, dia malah asyik duduk menyendiri di pojok lapangan. Hey my son … what are u thinking of ?

Pergelaran lomba bawa kelereng untuk ‘usia bayi’ banyak menarik perhatian penonton, karena pesertanya dua anak balita: Ratri dan Nurul, anaknya Ferly. Mestinya ada satu lagi Hafiz, anaknya pak Anton, tapi ngambek nggak mau ikutan.

Satu… dua… tiga… Bukan lombanya yang dilihat, tapi gemulainya jalan dua anak yang masih belum sekolah itu yang jadi bahan tertawaan. Abisnya jalannya geal-geol sih. Udah gitu makin ditepukin makin cuek aja mereka. Alhasil kelengkeng jatuh dari sendokpun mereka nggak peduli.

Terakhir lomba balap karung bapak-bapak. Kalau ini sih gue nggak mau nulis panjang-lebar, abisnya pasti nggak lucu kayak anak-anak. Yang penting ada juara 1,2,3 dan dapat hadiah. Eh.. tapi perlu dicatat juga sih.. di balap karung gue menyabet juara III.

Kelar acara, kembali ke kamar buat ngemasin barang-barang. Sebab abis makan siang jam 13.00 rencananya langsung pulang, karena takut kena macet lagi. Cuacanya juga mulai nggak bersahabat, gerimis dan mendung. Tapi kesimpulannya sih, acara kayak gini bagus buat ngendorin otot dan nyari udara segar, disamping bisa ngajak keluarga piknik gratis.

Ok gitu deh, sedikit cerita family gathering di Cimacan. Buat yang akan datang, boleh dong gue ngusulin supaya diadakan jangan di kawasan seputar Puncak. Bukan apa-apa, kasihan sama anak-anak, sebab kalau pulang via tol Jagorawi, biasanya gue minta sama pak sopir supaya diturunin di UKI, trus gue mesti ngelanjutin lagi ke rumah pake taksi (kalau ada duit), kalau tongpes yang pake mikrolet. Jadi capee deh… (Imung Murtiyoso, April 2007)

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: