Dimana tempat kami bermain?

19 04 2007

Tanah seluas 300 m2 di kompleks kami harusnya buat arena bermain, tapi lahan itu kini dijejali mobil-mobil yang nggak peduli dengan fasilitas umum satu-satunya buat warga, khususnya anak-anak.
 
Dulu setiap sore menjelang maghrib anak-anak riang bermain sepak bola plastik sambil bertelanjang dada, kini mereka harus mengalah dan cuma bisa memandang nanar hadirnya kendaraan roda empat warna-warni di lapangan itu.

Dulu setiap Ahad pagi, sebelum mobil-mobil angkuh itu datang, lapangan disesaki anak-anak yang ingin bermain basket three-on-three.

Tiang basket yang pernah mereka dirikan bersama-sama kini sudah mulai berkarat dan hilang papan pantulnya. Dan kini menjadi monumen ringkih dan bisu atas kenangan yang pernah mereka rasakan dahulu.

Tidak ada lagi Roni, sang pelatih bola basket yang menjadi kebanggaan kompleks kami, karena seringnya diundang menjadi pemain bayaran sampai ke luar kota. Tidak terlihat lagi gerakan lay-up-nya Onny yang mengundang decak kagum rekan-rekannya, atau sky-hook-nya Hendra layaknya Hakeem Olajuwon. Semuanya lenyap dalam sekejap. Tidak pernah lagi terdengar tawa lebar dan canda mereka.

Para orangtua wal bil khusus pengurus erte di kompleks kami seolah nggak mau tahu dengan kondisi ini. Jangankan mencarikan alternatif lahan buat mereka, mobil siapa-siapa saja yang parkir disitu juga mereka nggak peduli. Mobil maling kek, mobil tetangga kompleks sebelah kek, atau mobil rusak ngejogrog tiap hari disitu. Mereka –pemilik mobil dan para orangtua– mungkin secara tidak sadar sudah mencerabut hak anak-anak itu. Hak untuk bermain. Hak berkumpul dengan teman.

Mereka –pemilik mobil dan para orangtua– juga telah membuat hilang suasana riang dan gaduh. Mestinya sepanjang anak-anak itu berlaku positif, kegiatan-kegiatan mereka patut disokong dan dicarikan solusi bukan ‘dikalahkan’ hanya oleh beberapa lembar puluhan ribu.

Sekarang anak-anak baik itu bingung, tidak ada lagi tempat bermain. Bingung kepada siapa mereka harus bercerita. Komnas Anak atau Komnas HAM? Ah itu sih buat urusan yang berat-berat. Kalau urusan kayak gini ya… ke pengurus erte aja.

Oh ya, setelah lapangan nggak lagi bisa digunakan bermain, sekarang di kompleks kami ada olahraga yang lagi ngetrend lho. Peminatnya kebanyakan bapak-bapak. Tanpa perlu lapangan. Tanpa lari-lari. Bisa sambil minum, makan dan merokok. Olah raga apaan tuh? Itu … main gaple. Gaple?? Iya, toh gaple juga olah raga!? Ini kata bapak-bapak itu loh … mungkin.

Trus…
Lewat…
Trus…
Balak enam…
Balak song…
Gaple…
Ngocok dong loe… (*)

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: