Nasi jamblang Mang Doel patoet dipoedjiken

11 07 2007

Ada dua tujuan saya selama masa liburan sekolah ini. Pertama adalah menemani anak-anak menemui kakek-neneknya di Cirebon. Kedua, adalah memburu nasi jamblang di kota pantai ini.

Awalnya adalah sewaktu Pak Bondan meliput aneka kuliner khas Cirebon, maka selama dua hari di kota Udang ini saya sempatkan melakukan pencarian apa-apa yang pernah dicicipi Pak Bondan. Pertama yang saya kunjungi adalah kedai makan khas wong Cerbon, namanya Nasi Jamblang Mang Doel.

Berlokasi di jalan Cipto, nasi jamblang Mang Doel buka tiap hari mulai pukul lima pagi sampai sekitar pukul 12 siang. Biasanya begitu ruko dibuka –kedai Mang Doel menempati sebuah ruko– maka para penikmat sarapan pagi sudah berjejer antre.

Karena cukup kondang, tidak sedikit para pelintas pantura yang akan menuju atau kembali dari Jawa Tengah atau Jawa Timur menyempatkan mampir ke sini.

Kekhasan sega jamblang adalah daun jati yang digunakan membungkus sekepal nasi putih hangat, dan ada sekitar 10-15 jenis lauk-pauk yang dihamparkan di meja persegi panjang. Ada tempe goreng, sate kentang, semur daging sapi, hidangan laut dan tak lupa sambal rajangan cabai merah.

Di Mang Doel penyajiannya ala prasmanan, maka pembeli dapat memilih sesuka hati jenis makanan yang disukainya. Disini tidak disediakan meja layaknya rumah makan, cuma ada bangku panjang saling berhadapan. Kayak naik angkot gitu.

Masalah harga jangan kuatir, di Mang Doel kantong anda dijamin nggak bakalan “babak belur”. Malah harga semua penganannya sangat masuk akal. Saya bersama keluarga makan sepuasnya disini nggak sampai lima puluh ribu tuch.

Buat yang pertama kali singgah di Cirebon, disarankan hari-hati untuk mencoba nasi jamblang yang dijajakan di tenda-tenda di depan Grage Mall. Mereka akan mengenakan harga lebih untuk sedikit menu. Artinya disitu berlaku “sistem tembak”. Inipun pernah saya alami. Maksud hati ingin ke Mang Doel, namun karena sold out, terpaksa saya coba nasi jamblang yang dijajakan di tenda-tenda itu.

Namun harapan saya jauh panggang dari api. Bagaimana mungkin makan bersama anak saya yang masih kecil dengan lauk yang nyaris semuanya dingin dikenakan harga dua puluh tujuh ribu?

Pokoknya untuk menikmati nasi jamblang di Cirebon cuma ada dua tempat: pertama di Mang Doel dan satu lagi di pelabuhan. Untuk yang di pelabuhan terus terang belum pernah saya singgahi. Menurut cerita dari famili nasi jamblang disini juga top markotop.

Namun bagi saya, Mang Doel masih menempati ranking teratas dalam hal berburu kuliner di kota paling timur Jawa Barat ini. Karena selain enak, murah dan bersih. Nasi jamblang Mang Doel-pun kabarnya banyak disinggahi pejabat-pejabat dari Jakarta. Sungguh nasi jamblang yang patoet dipoedjiken. ( photo by tiaaja)

 

 

Iklan




Satpol PP vs pedagang kaki lima, siapa menang?

11 07 2007


(Maaf sebelumnya, bukan maksud saya mengipas-ngipasi keadaan. Cuma mau sedikit bercerita soal pengalaman yang saya alami, soal kesemrawutan di sekitar stasiun Jatinegara. Karena kondisi di kawasan tersebut memang sering membuat jengkel para pengguna jalan)


Mengamati sepak terjang para pedagang kakilima dan petugas satpol PP Pemda DKI di sepanjang jalan Bekasi Timur, tepatnya mulai dari depan stasiun Jatinegara hingga perempatan lampu merah arah Klender layaknya menonton serial televisi Tom and Jerry. 

Tom diilustrasikan sebagai petugas satpol PP dan Jerry sebagai pedagang kaki lima (PKL).

Bilamana Tom hadir, maka Jerry tak akan menampakkan batang hidungnya, namun bila kendaraan operasional Tom tidak terlihat nongkrong disitu, itu artinya Jerry akan mengadu nasib lagi dengan berdagang.

Saling kejar, baku umpat merupakan pemandangan biasa tatkala operasi bersandi “Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat” tersebut digelar. Skuad Tom yang didukung oleh puluhan armada operasional yang warnanya senada dengan seragam, biasanya langsung mengambilalih lokasi sebelum diduduki kelompok Jerry.

Untuk beberapa hari kubu Tom sempat leading menguasai target operasi. Ini ditandai dengan tidak atau belum munculnya kelompok Jerry. Namun Jerry cs langsung sigap menggelar dagangan saat deru mobil Tom perlahan meninggalkan medan pertempuran.

Lucu! Memang lucu. Jenis olah raga petak-umpet yang sering dimainkan anak-anak zaman dulu kini hidup lagi seiring munculnya para pedagang kakilima di tempat-tempat yang memang dilarang untuk berjualan. Salah satunya ya.. di kawasan Jatinegara ini.

Publik pengguna jalan yang tiap hari melintasi wilayah ini, memang dibuat kesal oleh kelompok tikus putih ini. Hampir separuh ruas jalan habis digunakan buat menjajakan dagangannya. Belum lagi metromini dan mikrolet yang “ngetem” sesuka hati menunggu “sewa” yang biasanya turun dari KRL/kereta api.

Kantor polisi, atau tepatnya posko polisi yang berhadapan dengan stasiun KA bersejarah ini pun tak berdaya menghadapi para pengemudi plat kuning yang menebarkan polusi suara dan udara. Posko bahkan sering tertutupi oleh “rimbunnya” taksi, bajaj dan kedai-kedai makan yang justru “direstui” untuk parkir disitu.

Kembali ke … perseteruan Tom dan Jerry.
Kegagahan para punggawa Tom ternyata nggak sebanding dengan hasil kerjanya. Terbukti, dalam adu kuat “nongkrongin” medan, kelompok Jerry lebih militan dibanding Tom.

Intelijen Jerry lebih akurat. Mereka tahu, kapan Tom datang, kapan akan pergi serta jumlah kekuatan yang dikerahkan. Jerry paham betul peta kekuatan kelompok kucing berseragam itu.

Entah instruksi dari atasan yang sudah selesai, atau setoran dari kelompok Jerry mulai lancar, lama kelamaan Tom menjadi tidak betah dan gerah bertahan di tempat itu. Tugas penjagaan yang awalnya (mungkin) berkelanjutan, tak sampai sebulan selesai sudah. Menghadapi Tom, kelompok Jerry berhasil menerapkan strategi hit and run. Yang dalam bahasa mereka diartikan sebagai strategi “nongol-kabur”. Beda sekali dengan tak-tik kelompok Tom yang mengandalkan strategi seek and destroy. Strategi tangkap dan segera angkut ke truk.Biasanya dalam sebuah operasi strategis, Tom menyertakan pula kendaraan truk/semi truk di jejeran paling belakang dari armada mereka. 

Kalau Jerry berjaya, ini artinya kelengangan dan kenikmatan berkendara di sepanjang ruas dua arah itu akan pupus. Ditandai kalahnya Tom melawan Jerry. Tom yang yang didukung oleh para petinggi ibukota dan glontoran dana, nyatanya harus rela angkat-kaki dari kawasan itu.

Kini, Jerry dan kelompoknya kembali menduduki benefit center yang pernah mereka kuasai. Efeknya kemacetan muncul lagi, namun Jerry tak peduli, ia merasa sudah memenuhi “kewajiban-kewajiban”-nya kepada para kolega Tom. “Kewajiban” yang membuat Jerry kini bisa tenang dalam berniaga.

Jerry dan kelompoknya kembali memacetkan jalan dengan gerobak dan lapak berisi barang dagangan. Meski beralasan mencari nafkah dan menciptakan lapangan kerja, Jerry telah merugikan hak orang lain. Hak para pengguna jalan.