The Spider and The Fly

31 08 2007

clean-1.jpg

Bukan lagu milik The Rolling Stones
Bukan pula puisi Mary Howitt
Bukan untaian metafora
Bukan pula Kusni Kasdut yang konon mampu merayap
Tapi jiwa-jiwa pemberani seka keringat menguap

Bukan Alain Robert si Manusia Laba-laba
Namun hanya sedikit orang yang mau dan mampu
Tapi banyak mengganggap sebagai tontonan lucu
Pengorbanan tak sebanding dengan yang didapat
Kaca, sekat, debu pekat-melekat habis disikat

Sang Laba-laba dan sang lalat terus berkhitmad
Biar badan terasa pucat tapi kerja tetap dinikmat
Adakah anak-anak tahu perjuangan ayahnya
Istri merelakan pergi demi remah upah

Temen-temen liat dong bapak gue pemberani
Tuh liat sekarang dia lagi ada di langit
Bersihin kaca-kaca cuman pake tali doang
Nggak takut hujan, petir apalagi angin…

Hebat banget bapak elo kayak laba-laba
Kalo bapak gue pasti nggak berani
Hei liat tuh bapak elo goyang-goyang
Hii serem deh…
Bapak elo harusnya jadi pahlawan ya…

(photos by ricka)
 

Iklan




Sindrom nyemplung lubang

29 08 2007

Dari jalan Bekasi Timur (kolong bypass Jatinegara ) ke arah Klender motor matic itu udah digebernya. Kecepatannya mungkin mendekati 80 km/jam. Kecepatan yang sungguh tidak dianjurkan dalam keadaan jalanan yang lumayan jamming.

Berhenti di lampu merah di perlintasan kereta api Cipinang Melayu, bapak pengendara Yamaha Nouvo-Z warna merah itu berada tepat sejajar vertikal di depan gue.

Entah alasan apa sang bapak sehingga begitu terburu-buru berkendara, padahal suasana udah gelap. Walaupun dia ngebut, tapi gue usahain motor gue nggak tertinggal jauh dari bapak yang mungkin penggemar motoGP itu. Dari pabrikan motornya mungkin dia pengidola Valentino Rossi.

Enggak tau juga kenapa gue terus buntutin tuh bapak, padahal kalau mau bisa aja gue asepin. Tapi kayaknya ada yang mencegah gue supaya jangan ngelewatin si bapak. Akhirnya gue cuma jaga jarak aja. Yah… sekitar empat meteran deh.

Bener aja, nggak jauh dari stasiun pengisian bensin Cipinang Jagal masih ada lubang bekas banjir awal tahun lalu yang sampai sekarang belon ditambal. Si bapak nggak bisa mengendalikan motornya dan tiba-tiba braaaaghk… ban depannya masuk ke lubang, bapak dan motornya terpental.

Gue yang ada di belakang tuh bapak langsung menghindar dan berhenti. Alhamdulillah gue selamat, tapi si bapak? Kenapa juga dia nggak mau lepasin motornya, akhirnya dia terseret sama motornya ke tengah jalan. Kalau aja dia lepasin kuda besinya, mungkin lecet-lecet doang.

Si bapak tergeletak sama motornya di tengah jalan. Keliatannya nggak bergerak. Syukurnya banyak orang yang menolong. Gue sendiri sempat berhenti dan berdoa dalam hari mudah-mudahan si bapak nggak apa-apa dan bisa balik ke rumah ketemu keluarganya.

Gimana nih dinas PU, banyak jalan berlubang kok nggak buru-buru ditambal, apa nunggu korban jatuh lagi?! Terus terang gue sindrom banget sama yang namanya lubang di jalanan, karena gue sendiri udah pernah ngalamin kejeblos lubang. Mau tau ceritanya?

Here the story: Ceritanya pas gue pulang kuliah dulu, sama temen gue yang namanya Romi lagi menginvestigasi kasus affair antara dosen (…lupa tuh namanya) sama Fitri, teman satu kelas. (Romi, you ought to remember this!)

Ini adalah a true story antara Romi sama Fitri (… bukan Juli), karena gue paham kalo Fitri ini kesengsem berat sama Romi. Tapi Romi jual mahal meskipun sang putri udah mati-matian cari perhatian sama bapak yang sekarang udah punya dua anak ini.

Itulah kepongahan si Romi, meskipun dalam hatinya dia sebenarnya juga demen Fitri, tapi masih aja lagaknya ala Don Juan, senengnya ‘ngegantung’ harapan cewek-cewek.

Sore itu gue sama Romi mengamati sepak-terjang Fitri dan dosen berkumis itu. Pemantauan dilakukan dari jauh. Kalau pernah baca ‘Rahasia di Pulau Kirin’-nya Lima Sekawan karya Enyd Blyton, kayaknya yang gue sama Romi kerjain sekarang nggak beda. Maksudnya nggak beda jaraknya antara langit dan bumi gitu.

Penantian selama 30 menit akhirnya berbuah hasil, Fitri keluar dengan anggunnya dari gerbang kampus. Terus menyeberangi empat lajur jalan raya. Pas di depan halte dia nggak langsung naik kendaraan umum. Dia cuma duduk dan sebentar-sebentar berdiri gelisah sambil terus ngeliat jam.

Sejurus kemudian sebuah Daihatsu Taft merah menepi pelan. Gue sama Romi semakin semangat aja melakukan perburuan ini. Kita yakin banget tuh mobilnya dosen mata kuliah ‘Propanda’ di kampus kita. Tak lama mobil berlalu dan Fitri-pun lenyap dari pandangan.

Romi kasih instruksi untuk ngejar Taft merah itu. Die langsung nyemplak ke skuter gue. Aksi pengejaran agen partikelir dimulai. Taft menderu jauh meninggalkan skuter yang cuma berkekuatan 150 cc. Cuma sepersepuluh dari kekuatan four wheel drive itu.

Andai saja ada produser film yang lewat, mungkin kisah pengejaran ala Chase ini patut diangkat ke layar lebar. He… he… maaf ini lagi mengkhayal aja.

Sore menjelang, adzan magrib juga udah terdengar, tapi ‘tim buser’ terus mengejar target. Dari jauh keliatan mobil menuju by pass dan berbelok ke arah Halim.Gas skuter sudah dibejek sampai mentok, namun target makin menjauh. Terang aja nggak kekejar… emang sejak kapan motor dengan cc standar –100/150– bisa ngalahin larinya mobil.

Akhirnya kengototan dan keusilan mengejar target berbuah petaka. Di jalur lambat nggak jauh dari pintu masuk tol Kebon Nanas, lubang yang ter-cover air comberan menjerumuskan skuter, gue sama Romi. Skuter keluaran 1984 itu terlempar sejauh 10 puluh meter. Gue dan Romi juga sukses terpelanting. Gue yang paling parah, semua pergelangan kaki dan tangan gue berdarah-darah dan jempol tangan kayaknya mau patah.Jaket, celana robek abis. Sepatu jebol jahitannya. Yang gue sesalin itu, jeans Levi’s 501 kiriman sepupu gue dari LA juga robek di lutut dan pantatnya. Nggak bisa dipake lagi, boro-boro bisa kebeli.

Sembari pringas-pringis Romi nyamperin gue, dia cuma lecet-lecet doang. Untungya skuter udah dipinggirin sama abang yang jualan rokok. Jadi nggak ngalangin kendaraan yang dibelakangnya. Terima kasih bang!Gue cek tuas koplingnya patah, lampu depan ancur, bodinya sebagian penyok, tapi rem masih jalan. Meski menahan sakit, gue sama Romi bisa juga ketawa ngakak. Ngetawain kekonyolan kita.

Meski skuter cuma bisa dimasukin gigi-1 doang, akhirnya gue, Romi bisa juga pulang. Kali ini Romi mengambilalih kemudi. Gue jadi navigator. Bukan navigator deh… tapi boncenger. Romi nganterin gue dulu, baru die pulang ke rumahnya di Kalibata. — End of story

Sejak kejadian itu dan ngeliat langsung bagaimana si bapak nyemplung ke lubang, kayaknya sekarang hati gue ngerasa was-was aja kalo lihat lubang di jalan. Was-was, takut-takut gue mengidap penyakit baru: ‘sindrom nyemplung lubang’.(*)





Wisata rohani ke masjid Kubah Emas

20 08 2007

Sewaktu silaturahmi ke rumah kakak akhir Juli lalu di daerah Beji, Depok terpikir untuk sekalian mengunjungi masjid Kubah Emas.Ternyata keinginan ini ditanggapi positif oleh istri dan kedua anak saya. Akhirnya diputuskan berkunjung ke masjid yang berasitektur terbagus di Asia Tenggara itu.

Berbekal tanya sana-sini, akhirnya sampai juga di kompleks masjid yang memiliki areal 70 hektar. Maklum takut nyasar. Kan ada pepatah, malu bertanya sesat di jalan. Dari kejauhan kubah yang berlapis emas itu sudah memancarkan semburat kuning karenaterkena sinar matahari. Kelelahan selama perjalanan ke lokasi hilang seketika saat melihat pancaran keemasan yang sungguh membuat hati setiap orang yang melihatnya berucap memuji kebesaran Allah SWT.

Keindahan bangunan masjid yang luasnya 8000 m2 dan taman-taman di sekitarnya dari jauh sudah terlihat. Kedua anak saya tampaknya sangat enjoy menikmati ‘perjalanan wisata rohani’ ini, meskipun menuju ke lokasi bangunan masjid cukup jauh dan pada saat tengah hari bolong. 15 menit waktu yang diperlukan menyusuri mulai gerbang hingga ke kompleks masjid ini.

Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, saya pun langsung menuju ke tempat wudlu, mengingat tak lama lagi salat Dzuhur akan dimulai. Namun karena pintu masuk antara pria dan wanita berbeda terpaksa saya berpisah dengan istri dan kedua anak saya.

Di dalam masjid saya sangat takjub melihat keindahan interior dan eksteriornya. Pada langit-langit kubah terdapat lukisan langit yang warnanya dapat berubah-ubah sesuai dengan warna langit pada waktu-waktu salat. Hal ini dimungkinkan karena tata cahaya menggunakan teknologi yang terprogram komputer.

Di dasar kubah terdapat cincin yang diberi aksen warna emas seolah menjadi batas cakrawala. Diatasnya ada 33 jendela yang masing-masing tertulis tiga kaligrafi asma Allah SWT, sehingga seluruhnya berjumlah 99. Bilangan yang sama dengan jumlah nama Allah SWT. Di puncak langit-langit kubah terpampang ornamen kaligrafi berupa tulisan salawat yang terbuat dari lempengan kuningan berlapis emas. Untuk lampu utamanya terbuat dari kristal seberat 2,7 ton berlapis emas yang konon serupa dengan yang ada di masjid Sultan Oman.

Untuk melapisi dinding masjid yang menampung 8000 jamaah ini, seluruh materialnya menggunakan marmer yang didatangkan langsung dari Turki dan Italia. Sedang pilar-pilar mihrab dibalut dengan marmer porto rose dari Afrika Selatan.

Sayang sekali, keindahan masjid ini menurut saya masih menyisakan sedikit kekurangnyamanan buat pengunjung, pertama adalah dilarangnya anak dibawah usia tujuh tahun memasuki masjid.

Saya lihat sendiri bagaimana seorang bapak yang berbaju gamis menghardik anak-anak untuk keluar. Menurut saya justru anak-anak harus diperkenalkan sejak dini tentang apa itu masjid supaya di kemudian hari mereka akan menjadi pemuda-pemuda yang cinta dengan masjid. Pun tak ada hukum yang melarang anak-anak masuk ke dalam masjid, sepanjang mereka diawasi oleh orang tuanya.

Oh ya… sekedar perlu diketahui, masjid ini sebenarnya bernama Masjid Dian Al-Mahri, namun masyarakat sekitar telanjur menyebutkan dengan masjid kubah emas. Karena memang kubahnya eye catching banget.

Diresmikan pada 31 Desember 2006 bertepatan dengan pelaksanaan salat Idul Adha 1427 H oleh Ibu Hj. Dian Juriah Maimun Al Rasyid dan Bapak Drs H Maimun Al Rasyid. Lokasinya di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok.

Meskipun bukan satu-satunya masjid dengan kubah emas di dunia, karena ada tiga masjid sejenis lainnya di dunia, namun Masjid Dian Al-Mahri tetap saja membuat decak kagum para pengunjungnya. Ketiga masjid yang memiliki kubah emas lainnya adalah masjid Sultan Omar Ali Saifuddin di Brunei Darussalam, masjid Suneri di Lahore, di Pakistan dan Samarra, Irak.

Usai salat Dzuhur, saya belum juga beranjak, saya masih terpana akan keagungan sang Pencipta melalui keindahan masjid ini. Tapi saya harus keluar, mengingat ratusan pengunjung masih antre untuk menunaikan salah Dzuhur. Setelah bertemu dengan istri dan anak, kami pun segera meninggalkan masjid kebanggaan masyarakat Depok itu, dengan harapan suatu kali kami akan kembali lagi ke sini. Ke Masjid Kubah Emas. (*)