Wisata rohani ke masjid Kubah Emas

20 08 2007

Sewaktu silaturahmi ke rumah kakak akhir Juli lalu di daerah Beji, Depok terpikir untuk sekalian mengunjungi masjid Kubah Emas.Ternyata keinginan ini ditanggapi positif oleh istri dan kedua anak saya. Akhirnya diputuskan berkunjung ke masjid yang berasitektur terbagus di Asia Tenggara itu.

Berbekal tanya sana-sini, akhirnya sampai juga di kompleks masjid yang memiliki areal 70 hektar. Maklum takut nyasar. Kan ada pepatah, malu bertanya sesat di jalan. Dari kejauhan kubah yang berlapis emas itu sudah memancarkan semburat kuning karenaterkena sinar matahari. Kelelahan selama perjalanan ke lokasi hilang seketika saat melihat pancaran keemasan yang sungguh membuat hati setiap orang yang melihatnya berucap memuji kebesaran Allah SWT.

Keindahan bangunan masjid yang luasnya 8000 m2 dan taman-taman di sekitarnya dari jauh sudah terlihat. Kedua anak saya tampaknya sangat enjoy menikmati ‘perjalanan wisata rohani’ ini, meskipun menuju ke lokasi bangunan masjid cukup jauh dan pada saat tengah hari bolong. 15 menit waktu yang diperlukan menyusuri mulai gerbang hingga ke kompleks masjid ini.

Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, saya pun langsung menuju ke tempat wudlu, mengingat tak lama lagi salat Dzuhur akan dimulai. Namun karena pintu masuk antara pria dan wanita berbeda terpaksa saya berpisah dengan istri dan kedua anak saya.

Di dalam masjid saya sangat takjub melihat keindahan interior dan eksteriornya. Pada langit-langit kubah terdapat lukisan langit yang warnanya dapat berubah-ubah sesuai dengan warna langit pada waktu-waktu salat. Hal ini dimungkinkan karena tata cahaya menggunakan teknologi yang terprogram komputer.

Di dasar kubah terdapat cincin yang diberi aksen warna emas seolah menjadi batas cakrawala. Diatasnya ada 33 jendela yang masing-masing tertulis tiga kaligrafi asma Allah SWT, sehingga seluruhnya berjumlah 99. Bilangan yang sama dengan jumlah nama Allah SWT. Di puncak langit-langit kubah terpampang ornamen kaligrafi berupa tulisan salawat yang terbuat dari lempengan kuningan berlapis emas. Untuk lampu utamanya terbuat dari kristal seberat 2,7 ton berlapis emas yang konon serupa dengan yang ada di masjid Sultan Oman.

Untuk melapisi dinding masjid yang menampung 8000 jamaah ini, seluruh materialnya menggunakan marmer yang didatangkan langsung dari Turki dan Italia. Sedang pilar-pilar mihrab dibalut dengan marmer porto rose dari Afrika Selatan.

Sayang sekali, keindahan masjid ini menurut saya masih menyisakan sedikit kekurangnyamanan buat pengunjung, pertama adalah dilarangnya anak dibawah usia tujuh tahun memasuki masjid.

Saya lihat sendiri bagaimana seorang bapak yang berbaju gamis menghardik anak-anak untuk keluar. Menurut saya justru anak-anak harus diperkenalkan sejak dini tentang apa itu masjid supaya di kemudian hari mereka akan menjadi pemuda-pemuda yang cinta dengan masjid. Pun tak ada hukum yang melarang anak-anak masuk ke dalam masjid, sepanjang mereka diawasi oleh orang tuanya.

Oh ya… sekedar perlu diketahui, masjid ini sebenarnya bernama Masjid Dian Al-Mahri, namun masyarakat sekitar telanjur menyebutkan dengan masjid kubah emas. Karena memang kubahnya eye catching banget.

Diresmikan pada 31 Desember 2006 bertepatan dengan pelaksanaan salat Idul Adha 1427 H oleh Ibu Hj. Dian Juriah Maimun Al Rasyid dan Bapak Drs H Maimun Al Rasyid. Lokasinya di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok.

Meskipun bukan satu-satunya masjid dengan kubah emas di dunia, karena ada tiga masjid sejenis lainnya di dunia, namun Masjid Dian Al-Mahri tetap saja membuat decak kagum para pengunjungnya. Ketiga masjid yang memiliki kubah emas lainnya adalah masjid Sultan Omar Ali Saifuddin di Brunei Darussalam, masjid Suneri di Lahore, di Pakistan dan Samarra, Irak.

Usai salat Dzuhur, saya belum juga beranjak, saya masih terpana akan keagungan sang Pencipta melalui keindahan masjid ini. Tapi saya harus keluar, mengingat ratusan pengunjung masih antre untuk menunaikan salah Dzuhur. Setelah bertemu dengan istri dan anak, kami pun segera meninggalkan masjid kebanggaan masyarakat Depok itu, dengan harapan suatu kali kami akan kembali lagi ke sini. Ke Masjid Kubah Emas. (*)

Iklan