A blessing of Ramadhan: nominee on the MH Thamrin journalism award

14 09 2007


Sehari sebelum Ramadhan, tepatnya tanggal 12 September 2007, PWI Jaya bekerjasama dengan Pemrov DKI Jakarta menyelenggarakan sebuah acara bertajuk ‘Anugerah Jurnalistik Mohammad Husni Thamrin tahun 2006/07’ yang diadakan di Balai Agung, Pemrov DKI Jakarta.

Para petinggi ibukota negara turut hadir. Gubernur Sutiyoso, Wagub Fauzi Bowo, Ketua DPRD DKI Ade Supriatna, dan yang punya acara tentunya Ketua PWI Jaya, Kamsul Hasan. Para wartawan senior juga hadir.

Lalu apa relevansinya dengan saya? Ceritanya begini, sebulan lalu, Pak Akhmad Kusaeni, Wapempelred Umum Perum ANTARA tiba-tiba menelepon saya memberitahukan bahwa tulisan saya yang berjudul, Sampah, ‘Spesies Baru’ Suaka Margasatwa Muara Angke (lihat arsip Februari 2007) masuk menjadi nominator dalam lomba anugerah jurnalistik yang diadakan tiap tahun tersebut.

Pak Akhmad Kusaeni meminta saya agar segera mengirimkan biografi beserta foto close-up ke panitia melalui sekretariat redaksi. Maka atas pertolongan dan jasa baik ibu Farida akhirnya persyaratan yang diminta panitia segera dipenuhi. Ibu Ida, thaks a lot for helping me. 

 

Anugerah Jurnalistik Mohammad Husni Thamrin diberikan pada karya-karya jurnalistik terbaik yang diterbitkan oleh media massa yang bercerita tentang ibukota Jakarta. Adapun katagorinya adalah, tajuk rencana, artikel pelayanan publik, artikel umum, fotografi dan karikatur yang disiarkan dalam rentang waktu 1 Juni 2006 sampai 31 Mei 2007.

Dari ANTARA sendiri, selain saya ada Maryati, reporter di desk Kesra yang menurunkan tulisan berjudul ‘Warga Condet Biarkan Dirinya Tergilas Arus’. Rekan Maryati memang seorang jurnalis andal, beberapa tulisannya pernah menyabet penghargaan, bahkan untuk tingkat nasional.

Khusus untuk artikel saya bersaing dengan empat nominee lainnya. Harian Kompas dan Suara Pembaruan oleh dua reporternya. Bukannya minder, nggak habis pikir juga kenapa tulisan saya tersebut bisa bersanding dengan mereka yang ‘jam terbang’-nya jauh diatas rata-rata.

Cuma ada satu pemenang dari tiap-tiap katagori, sehingga keseluruhannya ada lima pemenang dan selebihnya para nominator. Pemenang katagori artikel layanan publik –dimana tulisan saya disertakan– direbut harian Suara Pembaruan dan berhak atas tropi dan satu unit sepeda motor.

Untuk para nominator diberikan kenang-kenangan berupa micro-system dari sponsor sebuah perusahaan elektronik. It’s a miracle of Ramadhan!

Buat saya, posisi nominator adalah suatu kebanggaan, karena hasil karya saya dapat disejajarkan dengan tulisan dari rekan-rekan media cetak ibukota yang beroplag diatas 100 ribu eksemplar. Disamping itu juga mewakili dan membawa harum institusi dimana saya bekerja, Perum ANTARA.

Last but not least, tak lupa saya ucapkan terima kasih buat, Bapak Akhmad Kusaeni, Bapak Ismet Rauf dan Mas Theo Yusuf atas dukungannya. Mudah-mudahan tahun depan akan ada lagi tulisan saya yang menjadi nominee. The Gentlemen, could you teach me how to be a good writer? (*)





Happy Ramadhan

12 09 2007



Kami dan keluarga mengucapkan,
SeLaMaT MeNjAlAnKaN IbAdAh PuAsA RaMaDhAN 1428 H

semoga puasa kita diterima Allah SWT. Amien





KuMpUl SeDuLuR

11 09 2007

Kumpul sedulur atau ngumpul bersama saudara-saudara yang seumuran kayaknya bakalan jadi acara seru neeh. Disamping memperat silaturahmi juga menjadi ajang reuni ex-Menteng Pulo occupants. Apaan lagi tuh…

Menteng Pulo occupants adalah permukiman warga yang letaknya hanya sejengkalan dengan tempat pemakaman umum (TPU) Menteng Pulo. Membentang mulai dari Menteng Atas, Menteng Pulo, Menteng Dalam, Pedurenan, dan Gelanggang Sumantri Brodjonegoro, Kuningan. (Betul nggak nih… tolong dong diralat)

Termasuk gue juga penghuni di sekitar kawasan pemakaman Menteng Pulo. Walapun di KTP masuknya Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet (wuihh… keren banget man), tapi karena mepet sama kuburan, hasilnya tetap aja disebut Menteng Pulo. Tapi nggak soal mau Menteng Pulo atawa Menteng Dalam, yang penting di akte kelahiran terketik kota Jakarta Selatan sebagai tempat lahir.

Kumpul sedulur atau bahasa kerennya family gathering yang diadain di Wisma Seruni, Cisarua, Bogor bulan kemarin (11/12 Agustus) adalah acara buat ngumpulin anak-anak dari pihak bapak-bapak kita yang kini tinggalnya berserakan di seantero Jabodetabek.

Gue sendiri sebenarnya bukan authentic member dari paguyuban ini, namun karena kedekatan emosional dan geografis dengan seluruh anggota dan ketuanya akhirnya ya… gue sekeluarga Alhamdulillah diundang. Free of charge lagi.

Pemberangkatan dengan bus dari Margonda, Depok jam tujuh pagi. Ditetapkannya Margonda sebagai start point, karena disini di Margonda ada pakde (uwak) atau sesepuh. Jadinya buat anggota yang tinggalnya di Tangerang atau Bekasi ngumpulnya mesti disini.

Buat keluarga gue yang dapat bye terpaksa pagi-pagi buta udah meluncur ke Depok. Nggak enak dong, udah diundang gratis masak mau datang telat. Bisa-bisa digerendengin sama yang lain. Ha.. ha.. ha…

Pagi jam 05.30 udah berangkat dari rumah. Udara masih segar dan nggak ada macet. Maklum juga pas tanggal merah jadi banyak warga Jakarta yang tidur sampai siang. Perjalanan ke Depok lancar banget, cuma 45 menit udah sampai di Margonda. Longok sana-sini, kok belom ada yang ngeriung di pinggir jalan. Jangankan orang-orangnya, bus-nya pun juga belon keliatan teronggok di pinggir jalan.

Daripada bengong berdiri di pinggir jalan akhirnya kita tunggu aja di rumah pakde yang rumahnya nggak jauh dari situ. Kan lumayan bisa istirahat dan minum teh hangat. Itung-itung sekalian silaturahmi. Maklum biasanya kalo datang kesini paling-paling pas lebaran doang. Huih… dasar bocah bader.

Kebetulan nggak lama, nongol tuh Tomi Priyono sama keluarganya, satu-satu pemuda di paguyuban ini yang udah hampir 20 tahunan tinggal di Los Angeles. Jadi ada yang bisa diajak ngobrol. Sejak Tomi mendarat di Indonesia, gue ketemuan sama dia baru dua kali.

Tapi nggak lama yang lainnya juga datang satu-satu, hasilnya cuman 15 menit udah pada ngumpul semuanya. Project officer, Om Basuki juga udah keliatan batang hidungnya. Om Bas, demikian panggilannya segera memerintahkan agar semua peserta naik ke bus yang sudah disediain. Kalo diitung-itung sih semuanya ada 15 kepala keluarga.

Macet? Itu sih biasa

Bus diberangkatkan pada jam delapan telat satu jam dari jadwal jam tujuh. Keluar Margonda jalan udah mulai macet, padahal hari masih pagi. Menjelang keluar pintu tol Ciawi luar biasa macetnya.

Berpuluh-puluh bus dengan tujuan sama menutupi hampir seluruh ruas pintu tol. Ini merupakan efek dari dua hari libur, menstimulasi orang untuk pergi ke luar kota, dan biasanya daerah yang dipilih adalah kawasan puncak.

Di dalam bus, dua peserta dewasa terlihat mulai mabuk darat. Yang tak lazim justru terjadi pada anak-anak. Mereka satupun nggak ada yang teler. Semua masih ceria. Untungnya, nah ini ada untungnya, dalam rombongan terselip peserta yang berprofesi sebagai suster. Jadinya… nggak bakalan kuatir, sebab ibu suster siap merawat peserta yang mabuk.

Setelah tersiksa kemacetan panjang, akhirnya sampai juga di lokasi. Di sebuah vila tiga lantai yang letaknya meninggi sehingga udara lebih sejuk dan paromananya pasti ciamik. Lumayan sejenak melupakan ingar-bingar kota Jakarta.

Sore hari deputy officer project, Edi Purwanto mengumumkan pergelaran perlombaan buat anak-anak. Ada lomba membawa kelereng dalam sendok, mecahin balon dan lomba mindahin bendera. Buat orang tua juga ada, lomba ngipasin balon?!?!?! Maksudnya balon didorong pake kipas mulai dari garis star sampai finish geetuu.

Masalahnya kan balon nggak gampang diatur, semakin didorong bukan maju malah terbang kemana-mana. Teorinya gampang, tapi pelaksanaannya susah banget. Coba aja deh.. kalo nggak percaya.

Menjelang maghrib perlombaan selesai. Semua menang. Semua dapat hadiah. Pembagian hadiah dan sekantong snack rata ke semua anak-anak. Sore ini suasana tidak menyiratkan pasca-perlombaan, lebih tepat menghadiri acara ulang tahun anak-anak. He… he… he…

Merangkak malam, udah ada yang mulai berkaraoke, meski suaranya pas-pasan banget, tapi keberanian malu menyanyi para ibu-ibu boleh diacungi jempol. Senandung dangdut jadi pilihan, disamping Indonesian old numbers yang bikin mata justru tambah ngantuk.

Tembang ‘Mandul’ milik bang haji Rhoma Irama masih mengalun dari kerongkongan ibu Tomi Priyono alias mbak Tati yang langsung ditimpali ibu-ibu lainnya. Meski enggak muda lagi, tapi itu loh… semangatnya, greengg!

Di sudut lain, asap yang keluar dari tempat pemanggangan ikan sudah mulai mengepul. Ada empat orang yang bertugas di sini, dengan super chef Mulyana sebagai ketuanya. Sementara di tempat lainnya ada yang dari sore nggak berhenti main bola sodok.

Kebetulan meja biliar lokasinya dekat sama yang bakar ikan, jadinya ikan-ikan yang baru mateng udah pada dicolekin [baca:dimakanin] sama sambel kecap. Padahal dari dalam ruangan udah pada gelisah nanyain ikan bakar. Gimana mau dibawain, baru mateng satu aja udah diembat sama yang pada main biliar. ihhh… kayak kucing garong deh.

Ikan berkilo-kilo yang dibawa dari Jakarta tandas juga diembat kucing garong… wow maaf sama segenap peserta malam itu. Jatah buat kucing beneran juga nggak disisain sedikitpun. Kenapa ikan bakarnya cepat habis. Ya abis enak sih… karena olahan dan racikan sang chef Mulyana.

Jam 01.30 dinihari semua acara kelar digelar. Semua udah mulai penat, letih dan mengantuk. Tinggal beberapa jam buat istirahat bekal pulang besok. Terima kasih dan salut untuk semua sedulur yang menyempatkan waktunya buat ngumpul disini. Di acara Kumpul Sedulur. (*)

 





Ki Nartosabdo, sang troubadour

5 09 2007

Mungkin tidak ada orang Jawa yang tidak mengenal sosok Ki Nartosabdo, pun masyarakat Jawa yang kini menetap di berbagai belahan dunia pasti mengenal seniman besar yang ikut mewarnai sejarah budaya Jawa tersebut.

Sebagai orang yang terlahir di tengah hiruk-pikuknya the Rolling Stones, saya memang belum mengetahui beliau secara utuh dan mendalam.

Saat usia yang hampir mendekati 40 tahun dan isi otak sudah 100% contaminated bermacam budaya, saya justru semakin menikmati gendhing-gendhing kreasi dari seniman asal Desa Krangkungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten ini.

‘Persinggungan’ dengan Ki Nartosabdo dimulai saat bapak saya hampir setiap hari selalu memperdengarkan gendhing-gendhing beliau, baik melalui radio atau kaset, sehingga mau tidak mau saya yang waktu itu masih duduk di bangku SD terpaksa harus menikmati ‘genre Ki Nartosabdan’ (gendhing-gendhing yang diciptakan oleh Ki Nartosabdo).

Boleh jadi saya terkena falsafah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Gimana nggak tresno, wong tiap hari dicekoki jenis musik yang kini diakui dunia melalui World Heritage-UNESCO. Tidak hanya gendhing-gendhingnya, bapak saya juga seorang penikmat gaya mendalang yang dipertontonkan oleh Ki Nartosabdo, entah cara sabetannya atau cengkok suaranya.

Hampir tiap minggu saya ‘disuguhi’ berbagai lakon wayang kulit. Karena itu, saya pun hafal nama tokoh dan karakter dari dunia pewayangan tersebut. Apalagi jika sudah masuk sekuel goro-goro. Sekuel ini merupakan babak dalam pagelaran wayang yang ditandai dengan kemunculan para punakawan. Atau kemunculan ibu dan anak, limbuk – cangik. Disini penonton disuguhi humor yang ger-ger-an. 

Bapak saya pernah bercerita, Ki Nartosabdo adalah seorang seniman yang belum ada tandingannya. Ia bukan saja menghibur, tetapi juga memeberikan nasihat-nasihat melalui lakon-lakon wayang kulit yang dibawakannya.

Lagu-lagu Ki Nartosabdo banyak memuat nasihat, filosofi dan pelajaran hidup. Tak heran bila Bung Karno menjadikan Ki Nartosabdo sebagai dalang kesayangannya. Meski menganut gagrak Surakarta, Ki Nartosabdo tidak melulu fanatik dengan gaya tersebut.

Dalam setiap pementasannya, Ki Nartosabdo tidak jarang membawakan gagrak Yogyakarta atau Banyumasan. Saat memainkan lakon Kresna Duta di RRI Jakarta, 28 April 1958, Ki Narto mengkombinasikan dua gaya yang “berseteru” itu.

Disamping itu 319 gendhing yang sudah ia ciptakan, sehingga sampai kini karyanya masih mendapat tempat di hati para pencintanya. Secara kualitaspun belum ada yang mampu memyamainya. Karena memang karya-karyanya enak didengar dan easy listening.

 Sembilan kendang

Contoh dalam lagu Swara Suling. Ki Nartosabdo memainkan lagu itu dengan sembilan kendang sekaligus dan tiga tambur, sehingga suara kendang mendominasi lagu tersebut.

Cara memukul kendangpun menggunakan ibu jari. Sampai-sampai Swara Suling yang dimainkan oleh dalang siapapun dalam pementasan wayang kulit, tembang itu “sepersis” mungkin dimainkan seperti aslinya.

Gendhing-gendhing ciptaan Ki Nartosabdo lainnya yang cukup populer seperti, Praon atau perahu layar yang banyak dinyanyikan artis dangdut, Lumbung Desa, Lesung Jumenglung, Saputangan, Ojo Lamis, Ojo Dipleroki dan masih banyak lagi.

Ki Nartosabdo lahir pada 25 Agustus 1925 dengan nama kecil Sunarto. Dia bungsu dari delapan bersaudara pasangan Partotanayo, seorang pengrawit, dan Madiah, seorang mranggi atau pembuat rangka keris. Sunarto kecil yang berusia 11 tahun telah mampu memainkan ricikan rebab, kendang, dan gender. Pada 1940 dia bergabung dengan grup ketoprak Budi Langen Wanodya. Dia bertahan dua tahun dalam kelompok itu.

Pada 1945 dia menjadi pemain kendang pada grup Sri Wandawa sebelum bergabung dengan Ngesti Pandawa pimpinan Sastrasabda. Lelaki itulah yang memberi nama Nartosabdo pada 1950. Tahun itu pula dia menikah dengan Tumini dan memiliki seorang anak bernama Jarot Sabdono.


Pendidikan formal Sunarto hanya sampai kelas IV Standar School Muhammadiyah di Wedi. Keterampilan sebagai dalang wayang kulit diperoleh secara otodidak dan belajar pada beberapa dalang ternama seperti Ki Gitocarito dari Sukoharjo yang bermukim di Semarang.

Selain itu dia juga belajar mendalang pada Ki Pujosumarto dan Ki Wignyo Sutarno. Dari guru yang disebut terakhir itu, Ki Nartosabdo belajar banyak mengenai dramatika pewayangan.

Pada era 1950 sampai 1970, jadat karawitan Jawa memiliki tiga komposer yang hebat dan saling mengisi, yakni Tjakrawarsita, RL Martopangrawit dan Ki Nartosabdo. Sebenarnya ada satu lagi komposer yang segenerasi namun kurang begitu terkenal, RC Hardjo Subroto.

Kalau dahulu saya sempat nggak mudeng dengan lagu-lagu beliau, sekarang saya berusaha menyempatkan waktu –walau seminggu sekali– untuk mendengarkannya. Meski menggunakan bahasa Jawa, saya lumayan mengerti walau bingung jika menemukan bahasa tinggi khas priyayi, krama inggil.

Genjer-genjer

Salah satu lagu ciptaan Ki Nartosabdo yang menimbulkan kontroversi adalah Genjer-genjer. Di zaman Orde Baru lagu ini menjadi sangat “haram” dinyanyikan. Lagu yang selalu dihubungkan dengan pergerakan partai komunis Indonesia yang sampai kini pun belum ada kejelasan dimana dari syair lagu yang berlawanan dengan rezim saat itu.

Menurut Ki Manteb Sudarsono seperti dikutip Suara Merdeka, lagu ciptaan almarhum dalang Ki Nartosabdo itu sama sekali tak memuat syair atau kata-kata yang mengeritik pemerintah, ataupun memuat ajaran komunis di dalamnya.

“Silakan diperiksa lirik lagunya, apakah ada kata-kata yang mengkritik pemerintah, ataupun ada ajaran komunis yang sengaja diselipkan di dalamnya,” kata Ki Manteb Soedarsono, yang pernah belajar kepada Ki Nartosabdo di Solo.

Ia menjelaskan, lirik lagu Genjer-genjer sebenarnya menggambarkan kerukunan sepasang suami istri yang sedang memetik daun genjer-genjer untuk dijadikan hidangan makan di rumah.

“Jika lagu ini lantas dikaitkan dengan peristiwa G-30-S PKI, itu salah orang itu sendiri. Tetapi yang jelas, lirik lagu tersebut hanya menggambarkan kerukunan hidup sepasang suami isteri,” ujarnya. Terlepas dari kontroversi lagu tersebut, Ki Nartosabdo telah meninggalkan banyak pembaruan dalam seni perkeliran, pedalangan dan karawitan Jawa. Rekan-rekannya pun mengakui bahwa beliau merupakan dalang terbaik yang pernah dilahirkan.

Beberapa saat sebelum Ki Nartosabdo wafat, beliau menciptakan sebuah gendhing yang ia beri judul Lelayu (kematian). Ki Nartosabdo wafat pada tanggal 7 Oktober 1985 dalam usia 60 tahun. Lelayu pulalah yang mengiringi jenazah sang maestro ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Semarang.

Walau jasadnya sudah terkubur tanah, namun karya-karya Ki Nartosabdo tak lekang dimakan usia. Semua bisa menikmati, bukan saja masyarakat Jawa tapi seluruh masyarakat Indonesia. Karena Ki Nartosabdo bukan hanya seorang dalang, ia seorang penggubah, pencipta lagu dan gendhing-gendhing Jawa. Seorang penghibur yang lengkap dan mumpuni. Seorang troubadour. (*)