Ki Nartosabdo, sang troubadour

5 09 2007

Mungkin tidak ada orang Jawa yang tidak mengenal sosok Ki Nartosabdo, pun masyarakat Jawa yang kini menetap di berbagai belahan dunia pasti mengenal seniman besar yang ikut mewarnai sejarah budaya Jawa tersebut.

Sebagai orang yang terlahir di tengah hiruk-pikuknya the Rolling Stones, saya memang belum mengetahui beliau secara utuh dan mendalam.

Saat usia yang hampir mendekati 40 tahun dan isi otak sudah 100% contaminated bermacam budaya, saya justru semakin menikmati gendhing-gendhing kreasi dari seniman asal Desa Krangkungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten ini.

‘Persinggungan’ dengan Ki Nartosabdo dimulai saat bapak saya hampir setiap hari selalu memperdengarkan gendhing-gendhing beliau, baik melalui radio atau kaset, sehingga mau tidak mau saya yang waktu itu masih duduk di bangku SD terpaksa harus menikmati ‘genre Ki Nartosabdan’ (gendhing-gendhing yang diciptakan oleh Ki Nartosabdo).

Boleh jadi saya terkena falsafah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Gimana nggak tresno, wong tiap hari dicekoki jenis musik yang kini diakui dunia melalui World Heritage-UNESCO. Tidak hanya gendhing-gendhingnya, bapak saya juga seorang penikmat gaya mendalang yang dipertontonkan oleh Ki Nartosabdo, entah cara sabetannya atau cengkok suaranya.

Hampir tiap minggu saya ‘disuguhi’ berbagai lakon wayang kulit. Karena itu, saya pun hafal nama tokoh dan karakter dari dunia pewayangan tersebut. Apalagi jika sudah masuk sekuel goro-goro. Sekuel ini merupakan babak dalam pagelaran wayang yang ditandai dengan kemunculan para punakawan. Atau kemunculan ibu dan anak, limbuk – cangik. Disini penonton disuguhi humor yang ger-ger-an. 

Bapak saya pernah bercerita, Ki Nartosabdo adalah seorang seniman yang belum ada tandingannya. Ia bukan saja menghibur, tetapi juga memeberikan nasihat-nasihat melalui lakon-lakon wayang kulit yang dibawakannya.

Lagu-lagu Ki Nartosabdo banyak memuat nasihat, filosofi dan pelajaran hidup. Tak heran bila Bung Karno menjadikan Ki Nartosabdo sebagai dalang kesayangannya. Meski menganut gagrak Surakarta, Ki Nartosabdo tidak melulu fanatik dengan gaya tersebut.

Dalam setiap pementasannya, Ki Nartosabdo tidak jarang membawakan gagrak Yogyakarta atau Banyumasan. Saat memainkan lakon Kresna Duta di RRI Jakarta, 28 April 1958, Ki Narto mengkombinasikan dua gaya yang “berseteru” itu.

Disamping itu 319 gendhing yang sudah ia ciptakan, sehingga sampai kini karyanya masih mendapat tempat di hati para pencintanya. Secara kualitaspun belum ada yang mampu memyamainya. Karena memang karya-karyanya enak didengar dan easy listening.

 Sembilan kendang

Contoh dalam lagu Swara Suling. Ki Nartosabdo memainkan lagu itu dengan sembilan kendang sekaligus dan tiga tambur, sehingga suara kendang mendominasi lagu tersebut.

Cara memukul kendangpun menggunakan ibu jari. Sampai-sampai Swara Suling yang dimainkan oleh dalang siapapun dalam pementasan wayang kulit, tembang itu “sepersis” mungkin dimainkan seperti aslinya.

Gendhing-gendhing ciptaan Ki Nartosabdo lainnya yang cukup populer seperti, Praon atau perahu layar yang banyak dinyanyikan artis dangdut, Lumbung Desa, Lesung Jumenglung, Saputangan, Ojo Lamis, Ojo Dipleroki dan masih banyak lagi.

Ki Nartosabdo lahir pada 25 Agustus 1925 dengan nama kecil Sunarto. Dia bungsu dari delapan bersaudara pasangan Partotanayo, seorang pengrawit, dan Madiah, seorang mranggi atau pembuat rangka keris. Sunarto kecil yang berusia 11 tahun telah mampu memainkan ricikan rebab, kendang, dan gender. Pada 1940 dia bergabung dengan grup ketoprak Budi Langen Wanodya. Dia bertahan dua tahun dalam kelompok itu.

Pada 1945 dia menjadi pemain kendang pada grup Sri Wandawa sebelum bergabung dengan Ngesti Pandawa pimpinan Sastrasabda. Lelaki itulah yang memberi nama Nartosabdo pada 1950. Tahun itu pula dia menikah dengan Tumini dan memiliki seorang anak bernama Jarot Sabdono.


Pendidikan formal Sunarto hanya sampai kelas IV Standar School Muhammadiyah di Wedi. Keterampilan sebagai dalang wayang kulit diperoleh secara otodidak dan belajar pada beberapa dalang ternama seperti Ki Gitocarito dari Sukoharjo yang bermukim di Semarang.

Selain itu dia juga belajar mendalang pada Ki Pujosumarto dan Ki Wignyo Sutarno. Dari guru yang disebut terakhir itu, Ki Nartosabdo belajar banyak mengenai dramatika pewayangan.

Pada era 1950 sampai 1970, jadat karawitan Jawa memiliki tiga komposer yang hebat dan saling mengisi, yakni Tjakrawarsita, RL Martopangrawit dan Ki Nartosabdo. Sebenarnya ada satu lagi komposer yang segenerasi namun kurang begitu terkenal, RC Hardjo Subroto.

Kalau dahulu saya sempat nggak mudeng dengan lagu-lagu beliau, sekarang saya berusaha menyempatkan waktu –walau seminggu sekali– untuk mendengarkannya. Meski menggunakan bahasa Jawa, saya lumayan mengerti walau bingung jika menemukan bahasa tinggi khas priyayi, krama inggil.

Genjer-genjer

Salah satu lagu ciptaan Ki Nartosabdo yang menimbulkan kontroversi adalah Genjer-genjer. Di zaman Orde Baru lagu ini menjadi sangat “haram” dinyanyikan. Lagu yang selalu dihubungkan dengan pergerakan partai komunis Indonesia yang sampai kini pun belum ada kejelasan dimana dari syair lagu yang berlawanan dengan rezim saat itu.

Menurut Ki Manteb Sudarsono seperti dikutip Suara Merdeka, lagu ciptaan almarhum dalang Ki Nartosabdo itu sama sekali tak memuat syair atau kata-kata yang mengeritik pemerintah, ataupun memuat ajaran komunis di dalamnya.

“Silakan diperiksa lirik lagunya, apakah ada kata-kata yang mengkritik pemerintah, ataupun ada ajaran komunis yang sengaja diselipkan di dalamnya,” kata Ki Manteb Soedarsono, yang pernah belajar kepada Ki Nartosabdo di Solo.

Ia menjelaskan, lirik lagu Genjer-genjer sebenarnya menggambarkan kerukunan sepasang suami istri yang sedang memetik daun genjer-genjer untuk dijadikan hidangan makan di rumah.

“Jika lagu ini lantas dikaitkan dengan peristiwa G-30-S PKI, itu salah orang itu sendiri. Tetapi yang jelas, lirik lagu tersebut hanya menggambarkan kerukunan hidup sepasang suami isteri,” ujarnya. Terlepas dari kontroversi lagu tersebut, Ki Nartosabdo telah meninggalkan banyak pembaruan dalam seni perkeliran, pedalangan dan karawitan Jawa. Rekan-rekannya pun mengakui bahwa beliau merupakan dalang terbaik yang pernah dilahirkan.

Beberapa saat sebelum Ki Nartosabdo wafat, beliau menciptakan sebuah gendhing yang ia beri judul Lelayu (kematian). Ki Nartosabdo wafat pada tanggal 7 Oktober 1985 dalam usia 60 tahun. Lelayu pulalah yang mengiringi jenazah sang maestro ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Semarang.

Walau jasadnya sudah terkubur tanah, namun karya-karya Ki Nartosabdo tak lekang dimakan usia. Semua bisa menikmati, bukan saja masyarakat Jawa tapi seluruh masyarakat Indonesia. Karena Ki Nartosabdo bukan hanya seorang dalang, ia seorang penggubah, pencipta lagu dan gendhing-gendhing Jawa. Seorang penghibur yang lengkap dan mumpuni. Seorang troubadour. (*)

Iklan

Aksi

Information

24 responses

21 11 2007
REZA

Mas Imung,
Saya pernah baca blog (kalo gak salah dari kelompok kiri, wong bermarkas di luar negeri). Intinya membantah bahwa genjer2 itu ciptaan nartosabdo. Blog itu menyebutkan bahwa lagu genjer2 sudah dimainkan saat ki narto belum menjadi dalang terkenal. Sayangnya saya lupa dimana saya baca blog itu.
Pada hemat saya itu mrpkn masukan yg baik. Mungkin mas imung bisa melacak?

21 02 2014
Rus Rusman

Kalau ada yang tahu mohon diceritakan bagaimana kondisi keluarga Mabha Narto saat ini. Tinggal dimana dan berkarir sebagai apa? Mt nuwun.

29 07 2008
imung murtiyoso

Betul Reza, beberapa kabar menyebutkan Muhammad Arief adalah pencipta lagu genjer-genjer pada tahun 1942. Dia bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memiliki hubungan ideologis dengan Partai Komunis Indonesia.

–Tabik–

14 05 2009
tiara

aku suka banget dengan ki narto sabdo…tapi kok gak ada video yang bisa di download ya di sini

16 06 2009
imung murtiyoso

Wah… saya memang nggak ada/punya versi videonya mbak, terima kasih sudah berkunjung…..

14 05 2009
tips kita

salam kenal dari blogger pemula semoga bisa menjadi persahabatan yang akrab mas

16 06 2009
imung murtiyoso

salam kenal juga mas/mbak…..

26 01 2010
Hasmadji

Pertama kali mendengar lagu genjer-genjer seingat saya sekitar tahun 1964/65 an dinyanyikan oleh sebagian orang lelaki dewasa di desa yang memang punya hoby menyanyi/bersenandung. Ketika itu usia saya sekitar 8 atau 9 tahunan. Memang sih lagu itu juga tidak lama terdengar karena keburu menjadi larangan. Sedangkan tentang Ki Nartosabdo yang hebat itu, sekali pun saya belum pernah menontonnya, karena di desa daerah saya tinggal ( Kab. Purworejo/Jateng ) belum pernah ada yang menanggap, konon sangat mahal, dan agaknya memang kurang “sreg” dengan gagrag Surakarta, tetapi lebih cocok dengan gagrag Jogjakarta. Di era 1970-an saya lebih sering mendengarkan kiprah Ki Nartosabdo via RRI Jakarta yang sering mementaskan secara langsung, dan saya sangat menikmatinya bahkan sampai kini beberapa siran radio swasta di Jakarta masih sering memutarkan suara rekaman kasetnya/CD. Tanpa bermaksud membandingkan dengan dalang-dalang wayang kulit lainnya yang juga masyhur, menurut saya Ki Nartosabdo memang belum ada tandingannya, termasuk kehebatan waranggana terkenal Bu Tjondro Loekito.Itulah komentar saya. Terima kasih.

28 01 2010
imung murtiyoso

Pak Hasmadji terima kasih buat tambahan pengetahuan soal genjer-genjer, sebab kala itu saya belum lahir. Tapi memang Ki Nartosabdo termasuk dalang yang nomor wahid pada zamannya.

Sampai-sampai setiap ada arisan keluarga, entah dimanapun diadakan, gending-gending Ki Nartosabdo wajib hukumnya diperdengarkan.

19 05 2010
hasto

mas imung, mohon ijin untuk copas tulisannya tentang Ki Nartosabdo di page Campursari. matur sembah nuwun & salam kenal.
http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest&note_id=421922131638&id=50325626016

20 05 2010
imung murtiyoso

silaken mas Hasto….

26 10 2010
Teguh Tri Haryono

Salam kenal mas
Saya juga salah satu penggemar berat Ki Nartosabdo, kalau boleh tau bagaimana sekarang kabar tentang petilasan (rumah), keluarganya , condong raosnya, dll

2 11 2010
imung murtiyoso

Maaf mas Teguh, sungguh saya sendiri belum pernah tahu/berkunjung ke rumah almarhum Ki Nartosabdo. Saya hanya penikmat karya-karya beliau saja, itupun hanya sedikit saja. Tks sudah berkunjung ke blog saya…

26 10 2010
KARJONO,S.Pd

terima kasih mas imung, saya termasuk penggemar wayang walaupun terkadang nggak bisa menghafal atau mengingat jenis watak dan nama2 tokoh wayang namun kita sebagai anak bangsa patut melestarikan budaya luhur ini. Suwun

2 11 2010
imung murtiyoso

setuju mas Karjono, saya sendiri nggak banyak hafal tokoh2 pewayangan… paling cuma yang ngetop-ngetop aja macam, gatot koco, werkudoro, atau hanoman. tks mas atas kunjungannya.

16 09 2011
Rus Rusman

Saya sangat setuju bahwa KNS adalah dalang yang belum ada duanya sampai kini. Meskipun saya juga menghormati perjuangan dalang masa kini. Salah satu kehebatan beliau adalah kemampuannya membawa para penonton/pendengar/penikmat nya ikut larut dalam adegan yang beliau tampilkan. Di saat adegan sedih saya tidak jarang ikut mengeluarkan air mata, saat adegan serius (misalnya Prabu Salya yang marah pada Raden Karna) saya juga ikut bersikap tegang terhanyut di dalamnya. Suluk yang disajikan dengan vokal yang tegas dan melodi yang sangat pas pula, wah .. pokoknya luar biasa beliau. Kalo ada video saat beliau dimakamkan, tolong saya dioperi via email: rusman245@yahoo.com. Makasih semua yang sehati dan senurani.

27 10 2011
imung murtiyoso

Setuju pak rusman, KNS memang belum ada dalang yang sebanding dan setanding dengan beliau. Soal video maaf saya nggak punya pak.

1 12 2011
heri m

mohon ijin untuk di muat di blog saya

12 06 2012
imung murtiyoso

silakan mas, cantumin juga ya.. link atau sumbernya… thanks ya udah mampir

30 12 2011
Senibud Pujakesuma

Salut dan Hormat buat mbah Nartosabdo

12 06 2012
imung murtiyoso

setuju mas, sudah seharusnya mbah Narto dijadikan pejuang budaya…

4 02 2012
Ki Nartosabdo, sang troubadour » P.R.A.B.U

[…] Sumber : Blog Imung Murtiyoso […]

30 12 2012
osingkertarajasa

dari mana jalan critanya klu ki narto pencipta genjer2.???..lha wong sairnya menggunakan boso using banyuwangi.

1 02 2013
imung murtiyoso

bener om, lagu ini memang bersyair banyuwangi, namun ada pengakuan yang berpendapat bahwa lagu ini ciptaan Ki Nartosabdo. Terima kasih koreksinya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: