KuMpUl SeDuLuR

11 09 2007

Kumpul sedulur atau ngumpul bersama saudara-saudara yang seumuran kayaknya bakalan jadi acara seru neeh. Disamping memperat silaturahmi juga menjadi ajang reuni ex-Menteng Pulo occupants. Apaan lagi tuh…

Menteng Pulo occupants adalah permukiman warga yang letaknya hanya sejengkalan dengan tempat pemakaman umum (TPU) Menteng Pulo. Membentang mulai dari Menteng Atas, Menteng Pulo, Menteng Dalam, Pedurenan, dan Gelanggang Sumantri Brodjonegoro, Kuningan. (Betul nggak nih… tolong dong diralat)

Termasuk gue juga penghuni di sekitar kawasan pemakaman Menteng Pulo. Walapun di KTP masuknya Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet (wuihh… keren banget man), tapi karena mepet sama kuburan, hasilnya tetap aja disebut Menteng Pulo. Tapi nggak soal mau Menteng Pulo atawa Menteng Dalam, yang penting di akte kelahiran terketik kota Jakarta Selatan sebagai tempat lahir.

Kumpul sedulur atau bahasa kerennya family gathering yang diadain di Wisma Seruni, Cisarua, Bogor bulan kemarin (11/12 Agustus) adalah acara buat ngumpulin anak-anak dari pihak bapak-bapak kita yang kini tinggalnya berserakan di seantero Jabodetabek.

Gue sendiri sebenarnya bukan authentic member dari paguyuban ini, namun karena kedekatan emosional dan geografis dengan seluruh anggota dan ketuanya akhirnya ya… gue sekeluarga Alhamdulillah diundang. Free of charge lagi.

Pemberangkatan dengan bus dari Margonda, Depok jam tujuh pagi. Ditetapkannya Margonda sebagai start point, karena disini di Margonda ada pakde (uwak) atau sesepuh. Jadinya buat anggota yang tinggalnya di Tangerang atau Bekasi ngumpulnya mesti disini.

Buat keluarga gue yang dapat bye terpaksa pagi-pagi buta udah meluncur ke Depok. Nggak enak dong, udah diundang gratis masak mau datang telat. Bisa-bisa digerendengin sama yang lain. Ha.. ha.. ha…

Pagi jam 05.30 udah berangkat dari rumah. Udara masih segar dan nggak ada macet. Maklum juga pas tanggal merah jadi banyak warga Jakarta yang tidur sampai siang. Perjalanan ke Depok lancar banget, cuma 45 menit udah sampai di Margonda. Longok sana-sini, kok belom ada yang ngeriung di pinggir jalan. Jangankan orang-orangnya, bus-nya pun juga belon keliatan teronggok di pinggir jalan.

Daripada bengong berdiri di pinggir jalan akhirnya kita tunggu aja di rumah pakde yang rumahnya nggak jauh dari situ. Kan lumayan bisa istirahat dan minum teh hangat. Itung-itung sekalian silaturahmi. Maklum biasanya kalo datang kesini paling-paling pas lebaran doang. Huih… dasar bocah bader.

Kebetulan nggak lama, nongol tuh Tomi Priyono sama keluarganya, satu-satu pemuda di paguyuban ini yang udah hampir 20 tahunan tinggal di Los Angeles. Jadi ada yang bisa diajak ngobrol. Sejak Tomi mendarat di Indonesia, gue ketemuan sama dia baru dua kali.

Tapi nggak lama yang lainnya juga datang satu-satu, hasilnya cuman 15 menit udah pada ngumpul semuanya. Project officer, Om Basuki juga udah keliatan batang hidungnya. Om Bas, demikian panggilannya segera memerintahkan agar semua peserta naik ke bus yang sudah disediain. Kalo diitung-itung sih semuanya ada 15 kepala keluarga.

Macet? Itu sih biasa

Bus diberangkatkan pada jam delapan telat satu jam dari jadwal jam tujuh. Keluar Margonda jalan udah mulai macet, padahal hari masih pagi. Menjelang keluar pintu tol Ciawi luar biasa macetnya.

Berpuluh-puluh bus dengan tujuan sama menutupi hampir seluruh ruas pintu tol. Ini merupakan efek dari dua hari libur, menstimulasi orang untuk pergi ke luar kota, dan biasanya daerah yang dipilih adalah kawasan puncak.

Di dalam bus, dua peserta dewasa terlihat mulai mabuk darat. Yang tak lazim justru terjadi pada anak-anak. Mereka satupun nggak ada yang teler. Semua masih ceria. Untungnya, nah ini ada untungnya, dalam rombongan terselip peserta yang berprofesi sebagai suster. Jadinya… nggak bakalan kuatir, sebab ibu suster siap merawat peserta yang mabuk.

Setelah tersiksa kemacetan panjang, akhirnya sampai juga di lokasi. Di sebuah vila tiga lantai yang letaknya meninggi sehingga udara lebih sejuk dan paromananya pasti ciamik. Lumayan sejenak melupakan ingar-bingar kota Jakarta.

Sore hari deputy officer project, Edi Purwanto mengumumkan pergelaran perlombaan buat anak-anak. Ada lomba membawa kelereng dalam sendok, mecahin balon dan lomba mindahin bendera. Buat orang tua juga ada, lomba ngipasin balon?!?!?! Maksudnya balon didorong pake kipas mulai dari garis star sampai finish geetuu.

Masalahnya kan balon nggak gampang diatur, semakin didorong bukan maju malah terbang kemana-mana. Teorinya gampang, tapi pelaksanaannya susah banget. Coba aja deh.. kalo nggak percaya.

Menjelang maghrib perlombaan selesai. Semua menang. Semua dapat hadiah. Pembagian hadiah dan sekantong snack rata ke semua anak-anak. Sore ini suasana tidak menyiratkan pasca-perlombaan, lebih tepat menghadiri acara ulang tahun anak-anak. He… he… he…

Merangkak malam, udah ada yang mulai berkaraoke, meski suaranya pas-pasan banget, tapi keberanian malu menyanyi para ibu-ibu boleh diacungi jempol. Senandung dangdut jadi pilihan, disamping Indonesian old numbers yang bikin mata justru tambah ngantuk.

Tembang ‘Mandul’ milik bang haji Rhoma Irama masih mengalun dari kerongkongan ibu Tomi Priyono alias mbak Tati yang langsung ditimpali ibu-ibu lainnya. Meski enggak muda lagi, tapi itu loh… semangatnya, greengg!

Di sudut lain, asap yang keluar dari tempat pemanggangan ikan sudah mulai mengepul. Ada empat orang yang bertugas di sini, dengan super chef Mulyana sebagai ketuanya. Sementara di tempat lainnya ada yang dari sore nggak berhenti main bola sodok.

Kebetulan meja biliar lokasinya dekat sama yang bakar ikan, jadinya ikan-ikan yang baru mateng udah pada dicolekin [baca:dimakanin] sama sambel kecap. Padahal dari dalam ruangan udah pada gelisah nanyain ikan bakar. Gimana mau dibawain, baru mateng satu aja udah diembat sama yang pada main biliar. ihhh… kayak kucing garong deh.

Ikan berkilo-kilo yang dibawa dari Jakarta tandas juga diembat kucing garong… wow maaf sama segenap peserta malam itu. Jatah buat kucing beneran juga nggak disisain sedikitpun. Kenapa ikan bakarnya cepat habis. Ya abis enak sih… karena olahan dan racikan sang chef Mulyana.

Jam 01.30 dinihari semua acara kelar digelar. Semua udah mulai penat, letih dan mengantuk. Tinggal beberapa jam buat istirahat bekal pulang besok. Terima kasih dan salut untuk semua sedulur yang menyempatkan waktunya buat ngumpul disini. Di acara Kumpul Sedulur. (*)

 

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: