Pak Asro yang saya kenal

26 10 2007

“Assalamualaikum”, tiba-tiba seorang lelaki berkemeja putih, dibalut jas warna gelap dan tas kulit hitam tergantung di pundaknya seraya tersenyum datang menyambangi ruangan JIO yang dingin pagi itu.

Ia bergegas menjulurkan tangannya kepada saya, dan tiga rekan lainnya yang kebetulan sudah bergulat dengan kerjaan rutin sehari-hari. “Saya Asro, mohon saya dibantu,” begitu katanya seraya memperkenalkan dirinya.

Ternyata beliau Asro Kamal Rokan, pemimpin LKBN ANTARA yang baru. Kaget juga kami waktu itu, bagaimana seorang pemimpin umum sempat-sempatnya mengunjungi bawahannya, mungkin juga level yang terbawah dalam struktur di lembaga ini hanya untuk berkenalan dan memohon restu.

Mestinya bisa saja ia mengundang atau mengumpulkan seluruh karyawannya dalam suatu auditorium yang dimiliki lembaga ini tanpa harus “membuang-buang waktu” menemui seluruh anak buahnya. At the first sight, yang saya lihat adalah kesederhanaanya. Tapi auk ah gelap, saya pikir mungkin itu cara beliau mencari simpati bawahannya.

Tak terasa waktu terus bergulir. Setiap kebetulan saya berjumpa dengan Pak Asro, sampai kini ada yang tidak berubah dalam dirinya. Murah senyum dan selalu mendahului mengulurkan tangannya untuk berjabatan.

Beliau tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya orang nomor satu di lembaga ini. Tidak minta disalami atau disapa dahulu, bahkan kepada seorang office boy-pun. Dalam hal berpakaian pun Pak Asro tidak berubah, lebih menyukai batik atau berjas tanpa berdasi ala Mahmoud Ahmadinedjad.

Keiklhasannya pun kembali teruji, saat lembaga ini berubah status menjadi Perusahaan Umum (Perum). Berkali-kali dirinya ditawari oleh Meneg BUMN untuk kembali menakhodai lembaga pemberitaan bersejarah ini.

“Saya lebih baik menjadi wartawan dan menulis saja,” ucapnya saat upacara sertijab beberapa waktu lalu. “Lembaga ini kedepannya harus cari banyak uang, jadi biar para profesional saja yang menjalankan Perum ini,” tambah beliau.

Pak Asro dapat mengukur dirinya. He’s not a good money maker, he’s just a journalist. Pak Asro mungkin takut terkena hadits Rasulullah SAW, “sesuatu perkara yang diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancuran”. Maka ia pun mempercayakan pada ahlinya, kepada profesional yang juga seorang konsultan: Ahmad Mukhlis Yusuf sebagai direktur utama.

Pada resonansi sebuah terbitan ibukota pertengahan Oktober dalam satu alinea beliau menceritakan bahwa dompetnya terjatuh saat mobilnya terjebak macet di Ciawi Bogor, hari kedua lebaran kemarin.

Dia menganggap ini takdir Allah SWT. Mungkin saya kurang beramal, tulisnya tanpa menyerapahi pengambil atau penemu dompetnya. Terbukti beberapa hari kemudian dompet beliau dikembalikan oleh penemunya tanpa isinya ada yang hilang.

Sebuah pelajaran dapat dipetik bahwa keikhlasan membuat hati menjadi tenang. Kalaupun ada yang hilang maka itu adalah takdir dan bukan rejeki kita dan Allah SWT pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Saya mengenal Pak Asro bukan sebagai teman, kerabat atau punya hubungan keluarga. Perkenalan seorang bawahan kepada pemimpinnya.

Perjuangannya yang begitu besar juga membuat saya kagum akan keberanian lelaki kelahiran Medan ini. Pak Asro bukan tipe orang yang duduk di belakang meja, bukan orang yang mudah menyerah untuk berjuang demi kemajuan dan kelangsungan hidup lembaga ini.

Salah satu usaha besarnya adalah dengan terbitnya Peraturan Presiden tentang perubahan status lembaga menjadi Perum. “Kita tidak bisa berjuang tanpa status yang jelas, itu modal kita” katanya suatu waktu.

Ada satu kerja besar yang belum tercapai adalah mengambilalih Wisma Antara ini. “Ini jihad kita, kalaupun saya tidak menjadi pemimpin lagi, pengganti saya harus bisa meneruskan cita-cita saya,” tambahnya.

Dalam sambutannya pada acara sertijab dari dirinya kepada pemimpin yang baru, Pak Asro masih menyuntikkan semangat kerja. Lengsernya beliau dari tampuk tertinggi di lembaga ini tidak membuat dirinya berkeluh-kesah atau mengalami post-power syndrome.Menurutnya, jabatan adalah amanah yang sewaktu-waktu bisa dicabut oleh Sang Pemberi Amanah. Bahkan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Sungguh sebuah pelajaran teladan dan keikhlasan hati dari seorang yang amanah.

Dalam diri Pak Asro tidak ada yang berubah, sederhana dan rendah hati. Sama seperti yang ia tunjukkan dua tahun lalu saat pertama kali datang memperkenalkan diri dan menyalami kami. (Imung Murtiyoso, Oktober 2007)