Ada apa dengan jiran kita?

26 11 2007


Makin hari makin aneh saja memperhatikan kelakuan Malaysia yang makin serampangan mengklaim beberapa aset budaya Indonesia sebagai milik mereka.

Setelah sukses ‘menewaskan’ Indonesia melalui keputusan mahkamah internasional yang memenangkan kepemilikan atas pulau Sipadan dan Ligitan, ambisi jiran itu makin tak terkendali.

Berbekal keberhasilan kasus Sipadan-Ligitan, Malaysia pun mulai coba-coba mengakui pulau Ambalat sebagai bagian dari wilayahnya. Namun untuk kasus ini, pemerintah Indonesia sudah bisa membaca gelagat dari negara yang mengaku satu rumpun tersebut. Syukur Ambalat masih bagian sah NKRI.

Ternyata kegagalan menguasai daratan Ambalat, tak membuat mereka kapok. Banyak jalan menuju Roma pikirnya, maka banyak cara buat menaklukan Indonesia. Yang paling gampang adalah aneksasi budaya.

Melalui gimik “Budaya Nusantara” kementerian kebudayaan dan pariwisata setempat menjadikan lagu “Rasa Sayange` sebagai jingle untuk promosi pariwisata negeri itu. Lagu rakyat Maluku ini bisa-bisanya diklaim sebagai sebuah karya mereka. Pengakuan sepihak itu membuat rakyat Indonesia tersinggung.

Alasannya, karena Malaysia termasuk merasa bagian dari wilayah Nusantara, maka budaya yang ada di Indonesia, merupakan milik mereka juga. Nah dengan begitu, tari Kecak, karapan sapi, burung cendrawasih dan hasil budaya Indonesia lainnya akan diakui menjadi budayanya pula. Lha wong mereka mengaku bagian dari nusantara. Boleh aja ngaku bagian Nusantara, tapi harus jadi provinsi NKRI yang ke-34 dulu.

Namun seperti dilansir myRMnews, pemerintah Malaysia akhirnya menyerah soal polemik lagu Rasa Sayange. Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Rais Yatim telah bertemu dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Dalam pertemuan itu, jiran mengakui lagu Rasa Sayange sebagai lagu asli Indonesia.

Apakah persoalan sudah selesai? Ternyata belum.

Gagal klaim atas Rasa Sayange, mereka secara ngawur mengklaim Reog Ponorogo sebagai miliknya. Klaim ini lebih ngawur lagi! Mana mungkin sebuah kesenian yang sudah berusia ratusan tahun tiba-tiba dijumpai pula di negeri yang letaknya ribuan kilometer dari daerah asalnya.

Antara Jawa Barat dan Jawa Tengah yang letaknya sangat berdekatan, memiliki seni dan budaya yang berbeda. Lha ini sebuah negeri di semenanjung, tanpa dasar sejarah mengklaim seni reog sebagai warisan budayanya. Kalau Malaysia mengaku reog adalah budaya asli melayu, mestinya di Riau –yang notabene pusat budaya melayu– harusnya juga ada masyarakatnya yang bermain reog.

Seorang budayawan asal Ponorogo, Drs Sutejo, MHum mengemukakan bahwa pengakuan kesenian Reog oleh negeri jiran itu sangat lemah karena faktanya, secara nasional maupun internasional seni itu sudah diakui berasal dari Ponorogo, Jatim.

“Sederhana saja, coba cari tokoh-tokoh Reog di negeri jiran itu, paling-paling tidak ada. Kalau toh ada, mungkin mereka asalnya orang Jawa juga asal Ponorogo,” katanya seperti dikutip ANTARA News di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Ada benarnya pendapat budayawan Drs Sutejo karena imigran dari Indonesia, khususnya dari Jawa sudah ada di negeri itu konon sejak 1930-an. Sehingga secara tidak langsung mereka masih melestarikan seni dan budaya leluhur di perantauan. Kemungkinan dari sinilah budaya tanah air diakui oleh Malaysia.

Contoh bijak adalah para imigran asal Jawa yang bermukim di Suriname, meskipun sudah beberapa generasi bermukim di sana, namun budaya Jawa macam wayang kulit, keroncong, ludruk ataupun ketoprak tetap mereka lestarikan. Tapi pemerintah Suriname tidak pernah mengklaim bahwa seni budaya tersebut berasal dari Suriname.

Kesenian barongsai yang berasal dari Cina sudah dimainkan di Singapura sejak bertahun-tahun lalu, tapi Singapura tidak mengakui itu budaya mereka. Atau karate sudah masuk ke Indonesia sejak lama, namun tidak serta-merta karate diakui milik Indonesia.

Harusnya pemerintah Malaysia melakukan cek dan ricek dahulu sebelumnya mengakui sebuah seni atau budaya. Ini budaya asli miliknya atau milik tetangganya. Walaupun bentuk kesenian itu sudah ada bertahun-tahun di negeri mereka, tapi bukan otomatis mereka dapat mengklaim seenaknya.

Krisis identitas

Kasus-kasus ini merupakan dampak kemajuan ekonomi yang dialami negara jiran itu. Beberapa proyek prestisius (baca: mubazir) dibangun di Kuala Lumpur. Ada Petronas Tower, Sirkuit F1 Sepang dan terakhir mengirimkan “angkasawan” bersama kosmonot Rusia.Namun sayang sekali, kemajuan itu tidak diimbangi dengan menampilkan kejayaan budaya negeri sendiri. Program kunjungan wisata 2007 yang ditawarkan justru menampilkan sisi budaya yang bukan asli mereka. Lagu Rasa Sayange, dan Barongan (reong) adalah contohnya.

Bangsa Malaysia yang –lagi-lagi konon– terkenal santun dan agamis, tampaknya mulai khawatir akan eksistensi budaya dan jatidirinya sebagai sebuah bangsa, sehingga untuk “meramaikan” khasanah budayanya, diklaim-lah budaya tetangganya. Ironisnya yang dicomot justru nggak ada korelasinya dengan adat-istiadat melayu semenanjung.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Bulan Bintang, Yusron Ihza Mahendra menyatakan, krisis percaya diri sebagai bangsa kini melanda Malaysia, yang mendorong munculnya kebiasaan mencaplok budaya orang lain, terutama dari Indonesia.

“Kebiasaan mereka mencaplok budaya RI, apakah itu hasil kreasi pakaian (batik), musik (angklung), makanan, dan kemudian lagu-lagu, bahkan daratan (pulau), merupakan gejala kejiwaan yang mencerminkan krisis percaya diri sebagai bangsa,” ujarnya kepada ANTARA News.

Ia mengatakan itu, menanggapi informasi tentang diklaimnya lagi `Burung Kakatua` sebagai lagu rakyat warisan budaya jiran, menyusul hal sama berlaku untuk `Rasa Sayange`.

“Kebiasaan tidak beretika ini, sekaligus mencederai budaya Melayu yang seharusnya sopan santun dan berakhlak tinggi,” kata Yusron Ihza Mahendra yang masih berdarah Melayu dari wilayah Provinsi Bangka Belitung ini.

Mungkin gejala kejiwaan ini yang sekarang diidap tak kurang dari tiga juta warga Malaysia, sehingga mereka sudah tidak bisa lagi membedakan mana milik sendiri mana milik orang lain. Gejala kejiwaan ini dikenal dengan kleptorus homoklepto. (Imung Murtiyoso, November 2007)

Iklan




Communication Breakdown

6 11 2007

Judul tulisan ini memang sama persis dengan judul lagu yang dipunyai supergroup Led Zeppelin, Communication Breakdown. Lagu yang terdapat di album Led Zeppelin I itu menceritakan pemuda yang nervous menghadapi seorang gadis, sehingga komunikasi keduanya menjadi nggak jalan.

Tapi ntar dulu, saya nggak mau cerita hal-ikhwal tentang perjalanan grup asal Birmingham, Inggris Raya tersebut. Semua orang tahu kehebatan the magnificent four, Jimmy Page, Robert Plant, John Paul Jones dan John Bonham di era 1970-1980.

Namun judul communication breakdown sangatlah relevan dengan suasana di tempat saya kerja saat ini. Entah kenapa tiba-tiba komunikasi di divisi ini mendadak stuck.

Kalau lirik yang dibuat Page, Jones dan Bonham menceritakan tentang hubungan dua anak manusia yang nggak bisa nyambung, kalau di sini –di ruangan saya– ceritanya menjadi lebih spesifik dan menarik. Inter-personnel relation break down.

Gejala mulai tampak awal 2007, tatkala gonjang-ganjing antara dua divisi layanan publik siap di-regrouping, direncanakan hasil dari merger bisa dioperasikan awal 2008. Dengan performance yang sama sekali baru. Etos kerja, visi dan misi, logo, reward and punishment system, serta personel (sebagian) direncanakan baru dan gress. Yang nggak siap dengan perubahan ini dipersilakan balik kanan maju-jalan alias mundur.

Lha itu kan bagus? Making progress namanya! Betul saya pribadi sangat senang dan setuju dengan rencana tersebut. Apalagi dengan perubahan status di lembaga ini, yang mengharuskan setiap insan di dalamnya mau dan harus bersikap profesional.

Jadi apanya yang breakdown dong? Kalau menurut saya ya… semuanya. Mulai dari manajer sampai ke bawahannya. Komunikasinya nggak jalan. Ada yang tersumbat. Our throats are clogged up.

Saya berusaha fair, bahwa ini merupakan a collective fault, kesalahan bersama. Semua personel disini sedang dijangkiti sebuah penyakit, jaim syndrome (sindrom jaga imej). Saya yang tadinya bersikap moderat, lambat-laun akhirnya mengikuti atmosfir yang nggak kondusif ini.

Harusnya kondisi kayak begini jangan terlalu lama di’antepin’ kata orang Betawi. Tapi bagaimana caranya untuk mencairkan dinginnya ruangan ini? Ah… kalau saya sih… gampang aja. Sepanjang hari paling nyibukin diri sama kerjaan sambil nyumpel kuping dengerin Megadeth, System of A Down, plus nomor 80-an: a-Ha, atau Duran-Duran. It’s simply the best.

Yang lainnya? Idem Ditto. Sami mawon. Punya kesibukan masing-masing.

Suasana lumayan cair, paling pas mau makan siang. Biasanya suasana hening akan rada meriah, kalau ada yang ngomong, “Ada yang mau titip makan siang nggak?” Pas jam makan siang biasanya saya malas keluar kantor jadinya minta tolong dibungkusin aja. Ha… ha… ha…

Buat dong suasana yang nyaman dan happy jangan kayak orang yang pada baru kenal aja. Caranya? Pendapat pribadi saya, di ruangan ini kan pasti ada chairperson yang bertanggungjawab. Akan lebih elok-nya jika penanggungjawab (manajer atau asmen) mau mengorbankan sedikit waktunya untuk berakrab-ria. Paling lama sepuluh menit.

Saya pikir acara tegur-sapa ini nggak akan mengurangi kewibawaan seorang kepala atau para bawahan kok. Bahkan hal ini akan memompa semangat kerja dan kreativitas semua personel. Yang dengan sendirinya akan terbentuk sebuah sinergi antara bawahan dan atasan. Sebuah Simbiosis Mutualisma.Maka akan menjadi sangat wajib hukumnya bila suatu komunitas yang didalamnya berkumpul beberapa orang memanjangkan tali silaturahmi. Karena ini sama pentingnya seperti hubungan kekerabatan dengan keluarga atau saudara.

Nggak ada yang dirugikan dan diuntungkan. Asal rukun dan ikhlas seperti bunyi sebuah falsafah Jawa, Rukun Agawe Sentosa. Rukun menjadikan sejahtera. Maka akan sangat disayangkan bila divisi yang cuma dihuni oleh beberapa gelintir orang saja harus terlempar memasuki fase communication breakdown.Bukan apa-apa, maksud tulisan pribadi saya ini adalah buat kebaikan semuanya. Cos, komunitas ini dibentuk bukan untuk satu-dua tahun. Tapi sepanjang masih dalam kerangka teamwork dan menjadi rekan kerja. Selama itu pulalah kita saling memerlukan.

Oh begitu… ternyata mencairkan suasana kerja itu tidak sulit. Kuncinya ya.. itu tadi, saling membutuhkan dan melengkapi. Jadi kalau begitu tak perlu lagi communication breakdown di-request . Whotta Lotta Love kayaknya lebih bagus deh!
(Imung Murtiyoso, November 2007)