Communication Breakdown

6 11 2007

Judul tulisan ini memang sama persis dengan judul lagu yang dipunyai supergroup Led Zeppelin, Communication Breakdown. Lagu yang terdapat di album Led Zeppelin I itu menceritakan pemuda yang nervous menghadapi seorang gadis, sehingga komunikasi keduanya menjadi nggak jalan.

Tapi ntar dulu, saya nggak mau cerita hal-ikhwal tentang perjalanan grup asal Birmingham, Inggris Raya tersebut. Semua orang tahu kehebatan the magnificent four, Jimmy Page, Robert Plant, John Paul Jones dan John Bonham di era 1970-1980.

Namun judul communication breakdown sangatlah relevan dengan suasana di tempat saya kerja saat ini. Entah kenapa tiba-tiba komunikasi di divisi ini mendadak stuck.

Kalau lirik yang dibuat Page, Jones dan Bonham menceritakan tentang hubungan dua anak manusia yang nggak bisa nyambung, kalau di sini –di ruangan saya– ceritanya menjadi lebih spesifik dan menarik. Inter-personnel relation break down.

Gejala mulai tampak awal 2007, tatkala gonjang-ganjing antara dua divisi layanan publik siap di-regrouping, direncanakan hasil dari merger bisa dioperasikan awal 2008. Dengan performance yang sama sekali baru. Etos kerja, visi dan misi, logo, reward and punishment system, serta personel (sebagian) direncanakan baru dan gress. Yang nggak siap dengan perubahan ini dipersilakan balik kanan maju-jalan alias mundur.

Lha itu kan bagus? Making progress namanya! Betul saya pribadi sangat senang dan setuju dengan rencana tersebut. Apalagi dengan perubahan status di lembaga ini, yang mengharuskan setiap insan di dalamnya mau dan harus bersikap profesional.

Jadi apanya yang breakdown dong? Kalau menurut saya ya… semuanya. Mulai dari manajer sampai ke bawahannya. Komunikasinya nggak jalan. Ada yang tersumbat. Our throats are clogged up.

Saya berusaha fair, bahwa ini merupakan a collective fault, kesalahan bersama. Semua personel disini sedang dijangkiti sebuah penyakit, jaim syndrome (sindrom jaga imej). Saya yang tadinya bersikap moderat, lambat-laun akhirnya mengikuti atmosfir yang nggak kondusif ini.

Harusnya kondisi kayak begini jangan terlalu lama di’antepin’ kata orang Betawi. Tapi bagaimana caranya untuk mencairkan dinginnya ruangan ini? Ah… kalau saya sih… gampang aja. Sepanjang hari paling nyibukin diri sama kerjaan sambil nyumpel kuping dengerin Megadeth, System of A Down, plus nomor 80-an: a-Ha, atau Duran-Duran. It’s simply the best.

Yang lainnya? Idem Ditto. Sami mawon. Punya kesibukan masing-masing.

Suasana lumayan cair, paling pas mau makan siang. Biasanya suasana hening akan rada meriah, kalau ada yang ngomong, “Ada yang mau titip makan siang nggak?” Pas jam makan siang biasanya saya malas keluar kantor jadinya minta tolong dibungkusin aja. Ha… ha… ha…

Buat dong suasana yang nyaman dan happy jangan kayak orang yang pada baru kenal aja. Caranya? Pendapat pribadi saya, di ruangan ini kan pasti ada chairperson yang bertanggungjawab. Akan lebih elok-nya jika penanggungjawab (manajer atau asmen) mau mengorbankan sedikit waktunya untuk berakrab-ria. Paling lama sepuluh menit.

Saya pikir acara tegur-sapa ini nggak akan mengurangi kewibawaan seorang kepala atau para bawahan kok. Bahkan hal ini akan memompa semangat kerja dan kreativitas semua personel. Yang dengan sendirinya akan terbentuk sebuah sinergi antara bawahan dan atasan. Sebuah Simbiosis Mutualisma.Maka akan menjadi sangat wajib hukumnya bila suatu komunitas yang didalamnya berkumpul beberapa orang memanjangkan tali silaturahmi. Karena ini sama pentingnya seperti hubungan kekerabatan dengan keluarga atau saudara.

Nggak ada yang dirugikan dan diuntungkan. Asal rukun dan ikhlas seperti bunyi sebuah falsafah Jawa, Rukun Agawe Sentosa. Rukun menjadikan sejahtera. Maka akan sangat disayangkan bila divisi yang cuma dihuni oleh beberapa gelintir orang saja harus terlempar memasuki fase communication breakdown.Bukan apa-apa, maksud tulisan pribadi saya ini adalah buat kebaikan semuanya. Cos, komunitas ini dibentuk bukan untuk satu-dua tahun. Tapi sepanjang masih dalam kerangka teamwork dan menjadi rekan kerja. Selama itu pulalah kita saling memerlukan.

Oh begitu… ternyata mencairkan suasana kerja itu tidak sulit. Kuncinya ya.. itu tadi, saling membutuhkan dan melengkapi. Jadi kalau begitu tak perlu lagi communication breakdown di-request . Whotta Lotta Love kayaknya lebih bagus deh!
(Imung Murtiyoso, November 2007)

Iklan

Aksi

Information

One response

9 11 2007
Anonymous

ya’ bagoooooooossssss..hehehe..

its called”jaim each other”hehe..

seharusnya kalo ngomong pun semua jangan pake otot.. trmasuk saya juga suka trpancing..

well hidup jio..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: