Melempar kail, menguji kesabaran

31 12 2007


Ada banyak cara untuk melatih kesabaran. Di Jakarta sendiri sangatlah mudah mengukur tingkat kesabaran seseorang. Bisa dilihat mulai dari antre minyak tanah, antre tiket transportasi umum, dan kedisiplinan berlalu lintas. Hal-hal tersebut bisa dijadikan parameter kesebaran warga ibukota.

Umumnya kesabaran penduduk yang tinggal di kota-kota besar sangat rendah. Pameo “Orang Sabar Disayang Tuhan” acapkali disingkirkan. Contohnya, bagaimana seseorang daripada harus antre berjam-jam maka dengan mudahnya menggadaikan “kesabarannya” kepada calo tiket. Atau para riders yang dengan santainya “ngeluruk massal” ke jalur khusus busway dengan alasan macet.

Kasus-kasus tersebut adalah contoh manusia yang kesabaran hatinya tertinggal di rumah. Di luar rumah adalah belantara yang berlaku hukum rimba. Siapa kuat dia menang. Sekarang sukar sekali membedakan mental antara pengemudi metromini, bajaj, mikrolet dengan pengendara motor/mobil pribadi yang notabene orang-orang kantoran. 11-12 alias Undispliner!

Saya tidak bermaksud menyamaratakan bahwa semua pengguna jalan di Jakarta tidak berdisiplin. Hanya memberi gambaran bahwa ada sebagian warga Jakarta yang tingkat kesabarannya sudah meluntur.

Baiklah, saya tidak lagi ‘meracau’ tentang tingkat kesabaran warga kota besar. Mungkin beritanya hampir tiap hari muncul di surat-surat kabar. Jadi nggak perlulah saya ‘sok tahu’ tentang hal ini.

Ada pengalaman saya tentang ujian kesabaran. Tapi ditilik dari sudut hobi lho. Memang ada hobi yang berguna melatih kesabaran seseorang? Ada dong. Itu memancing. Hobi yang sekaligus olahraga.

Minggu lalu, ada lomba mancing di Sawangan, Depok. Nah, saya termasuk peserta yang terdaftar untuk ambil bagian guna memeriahkan HUT ke-61 Perum ANTARA, sebuah BUMN termuda yang disahkan pada pertengahan 2007 lalu. Kegiatan ini diadakan oleh sejumlah karyawan ANTARA yang berdomisili di seputaran Depok dan Bogor.

Sumpeh deh, seumur-umur baru kali ini ngikutin lomba memancing. Semuanya serba bingung. Bingung pegang joran, pegang reel, bingung melempar mata kail. Apalagi saya datang ke tempat lomba tanpa ‘most needed equipments’ seperti joran, korang atau umpan. Dengan kata lain cuma ehem… modal dengkul.

Tapi, untungnya. Sekali lagi untungnya banyak kawan yang bermurah hati menawarkan perlengkapan buat mancing. Joran dipinjamkan oleh bapak Dedi, umpan dibuatkan rekan Sudjana, korang (jaring ikan) disiapkan oleh bung Eri. Bahkan, untuk minum, snak dan rokok, panitia sudah menyiapkan dengan begitu lengkap. Makasih ya.. buat panitia. You all did it well !

Daftar ulang dan pengundian lokasi lapak langsung ditentukan saat peserta mulai datang. Kebetulan lapak saya bersebelahan dengan Cang Wak atawa Riswandi –yang jam terbang mancingnya lumayan banyak– dan bung Eri yang udah kali kedua mengikuti lomba mancing ini.

Tepat jam 10.00 Wib, Direktur Utama Perum ANTARA, Bapak Ahmad Mukhlis Yusuf didampingi ketua lomba Majuni Syair membuka lomba mancing yang memperebutkan piala bergilir pimpinan tertinggi instansi ini.

Buat panitia, kedatangan seorang dirut adalah hal yang membanggakan. Salah seorang panitia, Sudjana sempat berkomentar bahwa baru kali ini seorang puncak pimpinan hadir untuk membuka secara resmi lomba mancing tahunan ini.

Dua untuk selamanya

Awal memancing saya malah menjadi bahan tertawaan rekan lainnya. Umpan yang nggak bisa dilempar. Ternyata reel belum dibuka. Sekalinya bisa, umpan bukan jatuh ke tengah kolam, malah jatuh diatap lapak. Huh… capek deh…

Justru di menit-menit awal, saya sukse menanggok dua ekor ikan emas. Riswandi yang lebih profesional malah heran dengan ‘kebolehan’ saya pagi itu. Dua ekor dalam waktu 10 menit. Hasil yang membanggakan buat pemula seperti saya.

Tapi kelihatannya rejeki saya hari itu cuma dua ikan aja kali ya… Peserta lainnya berkali-kali kailnya tersangkut di mulut ikan. Sementara kail saya setelah nyangkut di mulut ikan kedua, nggak pernah lagi ‘dicolek’, padahal konon ikan yang dilepas ke kolam sebanyak dua kuintal.

Bayangkan sejak jam 10 pagi sampai saat makan siang jam 12.30, nggak ada lagi ikan meminati umpan saya. Asal tahu aja umpan saya ini khusus dibuat oleh Sudjana yang namanya begitu ‘harum’ di jagat permancingan, karena seringnya menjuarai lomba memancing di wilayah Sawangan.

Lima menit umpan nggak disenggol ikan, saya paling nggak betah dan gelisah. Daripada ‘tersiksa’ ngeliatin pelampung, lebih baik jalan-jalan atau cari teman ngobrol. Buat rekan yang terbiasa memancing, hal-hal yang saya lakukan diatas dianggap sesuatu yang ‘tabu’.

Terus terang inilah momen yang paling membosankan, dimana saya tak berdaya saat diuji kesabaran. I’m sick of this situation.

Mereka yang biasa mancing, berjam-jam terpaku diam sambil tak berkedip memandang pelampung bukanlah sesuatu yang menyiksa. What an enjoyable day. Untuk menjaga ‘kekusyuan’ umumnya mereka mewajibkan adanya rokok dan kopi. Nggak ada tuh yang jalan-jalan atau ngobrol. Paling break pas mau buang air doang.

Saya pribadi nggak (baca: belum) pernah berminat sama olah raga yang namanya mancing ini, sebab saya pikir para penikmat hobi tersebut cuma buang-buang waktu. Bayangkan mulai pagi sampai sore nggak beranjak dari lapak, sepanjang hari tersandera oleh gerakan pelampung.

Namun ada pelajaran yang bisa diambil dari kaum pemacing ini. Sisi kesabaran yang patut diancungi jempol. Terus terang saya nggak bisa seperti mereka. Karena saat pertama mereka melempar kail, dari situ kesabaran mulai diuji.

Saya nggak tahu apa dua ekor ikan yang saya dapat dalam 10 menit tadi hanya buat menguji kesabaran atau membuat saya ‘adiktif’ memancing. Tapi yang jelas, memancing belumlah menjadi hobi favorit saya. But for anually event, it’s ok lah.

Kalo begitu memancing adalah satu kegiatan yang menguji tingkat kesabaran pesertanya. Kesabaran menatap, kesabaran berkonsetrasi dan kesabaran menahan kantuk. Dan saya belum bisa melakukan semua itu.

Jadi kesimpulannya saya termasuk orang yang nggak sabar dong? Mudah-mudahan nggak… lah, buat hal-hal lain saya usahakan bersabar. Tapi saya bisa menjadi orang yang nggak sabar kalau harus melototin pelampung.