Gaya pejabat menggunakan vooridjer

25 01 2008


Di jalanan ibukota, ternyata raja rimba bukan cuman dilakukan oleh pengemudi metromini, bajaj atau mikrolet saja. Pejabat pun rupa-rupanya nggak mau kalah dengan gaya ngoboy sopir-sopir ibukota.

Bedanya, kalo sopir angkutan umum grusak-grusuk karena rebutan penumpang dan kejar setoran. Kalau sang pejabat hanya buat kepentingan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan orang banyak.

Kejadiannya kemarin sore, Rabu (23/1) jam 5.30 sore, selepas orang pulang ngantor. Waktu padat-padatnya arus lalulintas. Coba cari jam segitu daerah mana di Jakarta yang bebas macet.

Nguing.. nguing… wookk…. nguing…. wookk. Raungan sirene dari jauh sudah terdengar. Wah… ada rombongan pejabat pulang nih, pikir saya.

Makin dekat suara sirine vooridjer semakin memekakkan telinga. Warga sipil yang bermobil dan bermotor mulai gelisah. Mereka sebentar-sebentar tengok ke belakang. Cuma ingin tahu, sebenarnya siapa sih yang mau lewat.

Kami-kami mungkin sangat maklum bila yang lewat adalah RI-1 atau RI-2, ambulan, atau rombongan Reo yang mengangkut personel TNI atau Polri yang biasanya mau ngandang ke markas masing-masing.

Bujug buneh kata orang Betawi, setelah orang-orang pada minggir nggak tahunya yang mau lewat cuma satu mobil pejabat dikawal dua orang vooridjer. Satu dari pihak kepolisian, satunya lagi dari Dinas Perhubungan DKI.

Dalam hati bertanya, apakah bapak pejabat ini baru pertama kali hidup di Jakarta atau mau pamer, ‘saya ini pejabat lho’. Mestinya kalo sudah terbiasa hidup di Jakarta beliau paham betul keadaan lalu lintas di Jakarta.

Apalagi pagi dan sore hari. Saat-saat tingkat stres masyarakat mulai memuncak. Pekerja yang seharian penat bergelut dengan tugas rutin dan ingin segera bertemu keluarga, tiba-tiba menjumpai ada pejabat yang maunya menang sendiri.

Sang pejabatpun semakin merasa gagah dan pongah tatkala dua vooridjer yang menggunakan motor ber-Cc besar meliuk-liuk menghalau ratusan kendaraan di depannya.

Saya yang bermotor ‘mengiringi’ –mulai dari bundaran Patung Pak Tani sampai sampai stasiun Cikini– mendengar tak henti-hentinya sang pengawal memainkan sirene. Sekedar mau menunjukkan, awas ada orang penting mau lewat.

Saya pikir, mental seperti bapak pejabat ini udah nggak ada lagi di Jakarta. Eh.. ternyata warisan feodal masih dibawa-bawa. Kayak jalan yang bangun bapak moyangya. Tahu nggak pak, kami juga ikut membangun jalan ini dengan membayar pajak.

Cobalah bapak atau ibu bertenggang rasa dengan pengguna jalan lainnya. Lihat bagaimana penumpang metromini terus mengipas-ngipas tubuhnya karena kepanasan. Juga pengendara roda dua yang setiap harinya bermandikan asap dan debu. Please deh… pak !

Kalo bapak pernah ngerasain susahnya jadi warga biasa, pasti bapak malu deh naik mobil mewah dikawal vooridjer. Bapak akan merenung, kok orang-orang lain pada kena macet, tapi saya yang sudah duduk nyaman di mobil ber-AC, kok bisa-bisanya pengen juga jalanan lancar.

Usul saya sebagai masyarakat kepada bapak/ibu yang terhormat, andai tidak terlalu penting-penting banget, janganlah pernah menggunakan jasa voordijer pada jam-jam padat. Suara sirenenya malah bikin panik dan keki pengendara lain. Untung kalo nggak sekalian disumpahin.

Cari waktu dimana jalan mulai lengang, biasanya diatas jam delapan malam, atau antara jam 1-2 siang. Waktu-waktu tersebut lumayan bebas macet.

Kalaupun bapak tetap mau menggunakan jasa pengawalan –karena bapak ingin sekali dianggap pejabat– tinggalkanlah kendaraan mewah bapak di kantor atau rumah. Mulai biasakan membonceng bersama vooridjer.

Dengan membonceng vooridjer, bapak akan mendapat dua keuntungan sekaligus. Pertama, tidak akan terjebak macet karena bapak bisa selap-selip naik motor bersama sang pengawal. Kedua, bapak masih tetap seorang pejabat kok, karena masih dikawal vooridjer. Walaupun cuma dibonceng. Hiks… hiks… hiks…. (*)

Iklan

Aksi

Information

2 responses

21 09 2012
Ardhyde

JOKOWI membuktikan! Lihat berita skrg.. Jokowi tak mau dikawal vooridjer.

8 11 2012
imung murtiyoso

Mudahan-mudahan pak Jokowi bisa memberi contoh dan teladan yang baik buat warga Jakarta. Thanks om udah mampir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: