Jakarta banjir? Ah, itu biasa …

1 02 2008


Hujan yang kelewat deras dan nggak berhenti hasilnya adalah genangan-genangan air di hampir seluruh daratan Jakarta.

Mengawali Februari, limpahan air hujan dari langit yang terlalu ekstrim akhirnya menjadikan Jakarta lazimnya disaster area.

Jalan-jalan protokol dari dan ke lima penjuru kota ini hampir semuanya sudah ‘verboden’ buat dilewati kendaraan. Tak terkecuali rute beberapa koridor busway yang ‘takut’ melawan dahsyatnya air.

Kabarnya jadual penerbangan di bandara Soekarno-Hatta pun banyak yang terlambat dan terhambat.

Banjir juga tak sungkan mendatangi zona ‘ring-1’ dimana kantor saya terletak. Malah 300 meter ke arah timur terdapat istana dan kantor wakil presiden. Air ternyata tak pandang bulu, zat kimiawi berlambang H2O itu mulai berani-beraninya menantang petugas Paspampres dan memasuki halaman dimana RI-2 berkantor.

Dan 200 meter ke arah yang sama, berkantor Gubernur DKI Jakarta yang konon seorang yang ahli dalam hal tata kota, dan ternyata sampai kini pun tak sanggup mengendalikan musibah tahunan tersebut.

Salah satu penyebab banjir di ibukota adalah, green area atau kawasan hijau yang harusnya diperuntukan buat daerah resapan air … abrakadabra tiba-tiba disulap menjadi mall atau pusat perkantoran. Kalaupun ada beberapa penyangga air, kualitas dan kuantitasnya terus berkurang.

Danau dan sungai mulai tersedimen oleh banyaknya lumpur, sampah dan tumbuhan macam eceng gondok dan alang-alang. Rumah-rumah penduduk juga ikut mewarnai, tumbuh berjejer di pinggir-pinggirnya.

Namun, banjir membuat warga Jakarta tidak gampang panik. Penduduk yang tinggal di bantaran sungai-sungai sudah kebal dan justru disana mereka bisa menikmati hidup.

Para ibu yang masih rajin mencuci di sungai, walau sungai kotor dan keruh. Kaum bapak yang masih setia menggunakan flying helicopter alias jamban gantung setiap pagi hari sambil menyedot rokok dalam-dalam.

Mereka paham bahwa pemerintah kota –meski setahun sekali– pasti peduli dengan nasib mereka. Derita korban banjir biasanya menjadi headlines pada media cetak atau elektronik, sesaat mengalahkan berita polah para politikus atau gosip infotainment.

Masalah musim penghujan ibukota kayaknya nggak jauh beda dari tahun ke tahun. Banjir yang nggak bisa tertangani, wajah korban dan lokasi yang itu-itu juga, pemberi bantuan itu-itu juga.

Para pejabat dan politikus seolah-olah the saviors who comes down to the earth yang membawa bertruk-truk bantuan logistik bagi rakyat dengan gaya bicara yang sangat lancar dan terarah ketika disorot kamera. Boleh dong… setahun sekali nampang di media.

Well... sekarang kita lihat dan tunggu saja aksi sang ahli tata kota pilihan warga bersama tim-nya, bisakah mereka merealisasikan salah satu janjinya saat kampanye pilgub tempo hari. Membebaskan Jakarta dari banjir. (*)

Iklan

Aksi

Information

2 responses

1 02 2008
Ecko

Biasa bukan berarti dibiarkan tho, Mas? Yg sedih itu Foke koq malah seperti gak tanggap gitu ya? Apa gak malu ngeliat Pak Presiden yg notabene adalah atasannya sendiri juga jadi korban. Duh….

Ecko

4 02 2008
imung murtiyoso

mas ecko, maksudnya biasa … biasa repot kalau pas musim penghujan saja. salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: