Ketika hujan es turun …

31 03 2008

hujanes.jpgAhad pagi kemarin (30/3) hingga tengah hari yang awalnya terang benderang, mendadak tertutup gulungan mendung hitam disertai lidah kilat yang menyambar-nyambar. Benar saja, tak berapa lama hujan deras disertai angin mengguyur wilayah pemukiman kami dan mungkin di seluruh penjuru Jabodetabek.

Di musim pancaroba seperti saat ini, turunnya hujan memang sulit diprediksi. Orang sering menyebutkannya hujan “ngabisin”, yaitu hujan yang hanya tinggal sisa-sisanya saja.

Namun ada yang tak biasa dengan hujan kali ini. Disamping angin, curahan hujan siang itu juga disertai turunnya butiran es. Awalnya saya tidak mendengar kalau butiran-butiran es itu menghujani atap rumah karena bunyinya tertutupi suara angin dan lebatnya hujan. Namun karena suaranya keras sekali, apalagi saat menghantam atap genting yang terbuat dari fiberglass. Lama-kelamaan saya bertanya-tanya mengapa suara curah hujan begitu keras?

Setelah saya melihat keluar melalui jendela, ternyata benar, butir-butiran es tersebut berjatuhan bersamaan dengan derasnya curah hujan. Meski kejadian itu hanya berlangsung selama 10 menit, namun membuat saya dan keluarga merasa kaget dan khawatir.

Kedua anak saya yang masih kecil, langsung ikut melihat fenomena alam yang jarang terjadi ini sambil menutup telinganya. Bahkan mereka ingin sekali untuk melihat dari dekat butiran es yang jatuh di halaman belakang rumah kami itu.

Fenomena hujan es, menurut Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Bandung, Hendri Surbakti seperti dikutip dari sebuah harian ibukota, merupakan hal yang wajar dan biasa terjadi pada musim pancaroba seperti sekarang ini.

Hujan es terjadi akibat proses penguapan air secara cepat, menyebabkan tumbuhnya awan kumulonimbus dengan puncak tinggi yang mencapai 10.000 m di atas permukaan laut, dengan suhu mencapai -40 derajat celcius. Pada suhu sedingin itu, air bisa menjadi kristal es. Dan saat jatuh ke tanah kristal es itu tidak semuanya mencair sehingga menjadi hujan es.

Baca entri selengkapnya »





Republik Jaim dan kisah segerombolan semut

25 03 2008

Republik Jaim merupakan bentuk negara terkecil yang ada di negeri antah-berantah. Di republik ini penduduknya cuma beberapa gelintir. Cuma sembilan orang. Seorang presiden, dua orang menteri dan sisanya adalah rakyat.

Meski sedikit, namun sifat dari masing-masing penduduknya aneh-aneh. Ada yang sok dewasa, ada yang sifatnya persis siswa taman kanak-kanak, gampang ngambek. Ada yang merasa sok diperluin dan gede gengsinya. Sifatnya sangat beragam. Istilah “diversity in jaim ” cocok sekali buat moto republik ini.

Republik Jaim dipimpin oleh seorang presiden pilihan dewa kayangan, dibantu oleh dua orang menteri utama yang ditunjuk berdasarkan titipan dan teman dekat sang dewa. Untuk urusan ini, presiden tidak pernah menggunakan hak prerogratif-nya. Ia cuma menerima apa-apa yang disodorkan dari langit.

Presiden Republik Jaim merupakan figur yang cerdik namun terlalu pelit umbar omongan, sehingga semakin mengokohkan kejaiman dari republik yang didirikan pada awal abad 20 ini. Sayangnya, para pembantunya yakni dua orang menteri utama dan rakyatnya tidak bisa all-out membantu kerja sang presiden. Presiden seakan-akan bekerja sendirian. Tapi bisa juga memang presiden senang bekerja dalam kesendiriannya. One man show gitu dech.

Namun Republik Jaim belakangan ini menjadi sorotan dari beberapa pemimpin pemerintahan negara tetangga. Karena kabarnya sebuah proyek mercusuar sedang digarap di republik ini. Layaknya karung berisi gula, Republik Jaim banyak didatangi segerombolan semut-semut, yaitu para teknorat dan engineer terbaik asal negara tetangga. Mereka sebagian memang ingin bekerjasama, tapi ada juga yang hanya sekedar mengambil keuntungan dari megaproyek ini.

Ironisnya, sang kepala negara sangat-sangat terlalu gampang menerima “semut-semut dadakan” tersebut. Presiden tidak pernah –mudah-mudahan salah– melihat kebelakang untuk urusan merekrut semut. Mestinya presiden cari tahu, bagaimana track record semut-semut itu. Pernah terlibat makar atau tidak. Pernah menyalahgunakan wewenang dan keuangan negara atau tidak. Kenapa semut-semut itu tiba-tiba “mengerubungi” negeri Jaim ini? Padahal dahulu semut-semut itu, jangankan bertandang, menengok pun tidak.

Presiden terlalu lemah dalam urusan ini. Di kabinet-nya sendiri sang presiden tak berani mengambil tindakan terhadap menteri dan rakyat yang kinerjanya sangat-sangat dibawah form. Banyak juga saran yang masuk ke Kotak Pos 12345 agar presiden tak salah memilih semut-semut tersebut.
 
Dan andai proyek prestisius ini berhasil diluncurkan, bukan tak mungkin Republik Jaim makin berkibar ke-exist-annya di dunia antah-berantah ini. Ia bisa menjadi “a wide open window” buat investasi dan penguatan citra baik bagi republik ini.

Kalau boleh sedikit flashback, sepuluh tahun lalu Republik Jaim tak dipedulikan siapa-siapa, bahkan sang dewa kayangan tidak melihat sedikit pun sisi baik dari republik ini. Republik Jaim waktu itu sangat menderita. Kalimat “hidup segan mati tak mau” sangat pantas disandangnya. Bahkan ada beberapa petinggi negara tetangga yang masih menyangsikan kalau Republik Jaim masih berdiri.

Sang dewa lebih menyayangi negeri-negeri yang bisa menghasilkan dolar. Di negeri itu para menteri dan rakyat hidup berkecukupan, karena sistem “reward” sudah diterapkan di sana, meski diberlakukan juga “punishment”. Sang dewa dan para pembantunya selalu sigap dan cekatan bila menyangkut hal-ikhwal negeri penghasil dolar ini.

Perlu juga dicatat, meski diperlakukan tidak adil, Republik Jaim masih bisa mencari uang sendiri dan menyetorkan ke istana dewa kayangan. Republik Jaim tak pernah mengemis meminta-minta fasilitas seperti yang dilakukan negeri-negeri lain.

Republik Jaim patut berbangga karena kini menjadi sorotan. Entah itu sorotan yang mendukung usaha-usahanya, atau sorotan nanar dan sinis. Maklum di awal menggeliatnya, Republik Jaim sudah menggusur satu negara penghasil dolar. Ini bukan bentuk aneksasi negara tetangga, namun Republik Jaim memang butuh “wilayah” yang lebih luas guna menampung rakyatnya dan semut-semut pendatang itu. Upaya aneksasi ini pun sudah direstui sang dewa kayangan. 

Kini Republik Jaim pun mulai diperhitungkan di panggung politik negeri-negeri antah-berantah.  Maka tak salah, kalau saat ini rakyat Republik Jaim boleh menikmati secuil euphoria yang sedang menghampiri negerinya. Janganlah terlalu dipermasalahkan dan jangan dianggap sesuatu yang menghebohkan kalau ada suara yang tidak percaya akan hal ini. Semua itu berlaku hukum alam. Tidak semua yang dibawah akan selamanya dibawah, suatu waktu pasti akan diatas. Cakra Manggilingan kata orang Jawa. Karena memang, roda akan terus berputar. Bravo Republik Jaim! (*)





Kemal, kini tujuh tahun usianya

24 03 2008

s3010041.jpg

Kemarin anak kami yang pertama, Kemal lengkapnya Fazlurrahman Kemal sudah berumur tujuh tahun, meski baru segitu usianya namun buat urusan ukuran badan, dirinya sudah termasuk bongsor.

Bingung juga tanggal tua begini, mau ngasih apa buat dia ya? Untungnya dia nggak minta macam-macam. Ia cuma mau ditraktir makan di sebuah mal di daerah Buaran. “Aku mau makan ayam goreng aja pak,” katanya merajuk. “Wah nauin banget nih anak, pas bapaknya nggak punya uang, mintanya cuma segitu doang,” kata saya dalam hati. Kalau ibunya sih udah janji mau beliin meja belajar, dengan harapan agar belajarnya lebih semangat.

Maka segera kami sekeluarga segera meluncur ke arah Buaran Plaza, sebuah plaza baru yang didirikan hanya untuk menambah kemacetan di kawasan itu.

Untuk kali ini saya membebaskan dia mau makan ayam sekenyangnya. Namun akhirnya dia cuma sanggup menghabis dua potong ayam saja. Adiknya, Ratri yang super ‘imut’ ikut merasakan kebahagiaan kakaknya itu. Ia sangat asyik menikmati satu potong ayam tanpa nasi. “Nanti aku kalo ulang tahun makan disini lagi ya bu,” katanya seolah nggak mau kalah, pengen juga minta makan ditempat yang sama.

“Kok disini lagi,” tanya ibunya. “Iya aku suka disini aja,” jawabnya sambil mulutnya terus menikmati sisa-sisa daging yang masih menempel di sela-sela tulang ayam.

Sungguh, meski ‘dirayakan’ cuma di restoran cepat saji, tapi kenyataannya Kemal tetap bahagia memasuki usia yang ke-7 tahun ini. “Ingat loh mas, kalo udah tujuh tahun harus rajin solat, jangan malas-malasan. Itu kan pesan mbah kakung dan mbah putri,” kata ibunya menasihati. Dinasihati seperti itu, Kemal cuma senyum-senyum aja. “Kalo tidak mau solat ntar dipukul loh sama Bapak,” tambah ibunya.

Sesuai tujuan semula bahwa kami datang ke sini khusus untuk menemani Kemal makan. Selesai makan, kamipun langsung pulang. Tidak ada acara lain. Karena memang tanggung bulan. Selamat ulang tahun ya mas. Bapak, ibu dan adik sayang mas Kemal. (*)
 
 





Berharap si burung hati hinggap di Luzhniki

18 03 2008

liverbird.jpgLiverbird atau si burung hati boleh jadi spesies keluarga burung-burungan yang mengerikan saat ini di daratan Eropa. Karena liverbird sudah merupakan reinkarnasi dari kesebalasan kota pelabuhan, Liverpool. Sang burung telah menjadi simbol pemersatu jutaan liverpudlian di seantero bumi ini, disamping lagu kebangsaan ‘YNWA’.

Setelah di 16 besar piala Champion menghabisi “Nerazzurri” di kandang yang sangat kramat, San Siro dan ‘menggagalkan’ hajatan akbar, yakni peringatan ulang tahun ke-100 kesebelasan asal kota mode tersebut, liverbird di perdelapan final juga berusaha akan membungkam bising The Gunners.

Memang pertarungan liverbird selanjutnya tidak akan mudah, mengingat lawan yang akan diajak ‘tarung’ bukan lagi kelas ayam sayur, tapi Arsenal. Tim yang memiliki petarung-petarung muda dengan kecepatan dan stamina yang mumpuni.

Meski saling ambil-alih pemuncak klasemen di EPL dengan MU, namun Arsenal bukanlah tim yang tidak bisa dikalahkan. Setelah dipecudangi MU 4-0 beberapa waktu lalu, grafik penampilan Arsenal tidak lagi melulu menanjak. Ini kontras sekali dengan The Reds, setelah gagal di piala FA karena dikalahkan Barnsley, The Reds langsung berbenah dan terbukti penampilan SG8 dan kawan-kawan semakin ciamik.

Apalagi makin gemilangnya aksi Fernando “El Nino” Torres yang kian ditakuti penjaga gawang dan pemain belakang lawan. Saking khawatirnya akan badai El Nino, sampai-sampai pelatih The Gunners, Arsene Wenger memberikan sinyal buat skuadnya. “Torres harus dihentikan atau dia akan menghukum kami, Dia sangat cepat, kuat dan berani. Dan makin tak terkendali jika bertanding di kandang lawan,” kata Wenger yang sudah menukangi Arsenal selama 11 tahun tersebut.

Namun kekhawatiran Wenger tidak serta-merta membuat Liverpool merasa diatas angin. Kehadiran Francesc Fabregas dan kembali merumputnya Robbie van Persie, akan menambah kekuatan lini depan tim mapan asal tenggara kota London itu. Ditambah makin tajamnya striker berambut kriwil Emanuelle Adebayor.

Sejatinya, ini ajang pembuktian bagi Liverpool di liga champion, karena untuk mengejar Arsenal di piala liga primer tak akan mudah. Apalagi harus melewati klub-klub kuat macam MU dan Chelsea. Namun harus diingat, tuah liga champion sering berpihak kepada anak-anak asuhan Rafael Benitez ini. Boleh saja pengembaraan liverbird di EPL tersendat-sendat, tapi untuk ukuran benua biru, sang burung hati masih disegani, baik kawan maupun lawan.

Bukan juga sih mau berbangga-bangga soal kehebatan Liverpool di daratan Eropa, namun dibanding klub-klub asal Ingris Raya lainnya, di liga champion The Reds masih yang terbaik. Sebab dari empat klub Inggris yang hadir di perdelapan final kali ini, hanya Liverpool dan MU yang sudah pernah memenangi tropi bergengsi itu. The Reds empat kali memboyong gelar, dan Red Devils baru dua kali.

Maka untuk berharap liverbird tetap terbang lebih jauh dan hinggap di Luzhniki, Rusia, langkah selanjutnya adalah ‘mematuk’ Arsenal baik di Anfield atau Emirates Stadium. Memang ini tugas berat. Namun, cuma itu caranya kalau tidak ingin liverbird cepat kembali ke kandang. (*)





AAC sejenak lupakan pocong dan kuntilanak

17 03 2008

 Sampai kini rekor jumlah penonton film Ayat-Ayat Cinta (AAC) masih merajai bioskop-bioskop ibukota dan sekitarnya. Film AAC berhasil meneruskan kesuksesan dari versi novel dengan judul yang sama karya Habbiburrahman El Shirazy alias Kang Abik. AAC mengalahkan film-film bertema horor dan kisah remaja yang selama ini sudah kadung “dicintai” oleh sutradara muda kita.

Terlepas dari komentar pro dan kontra soal film AAC, saya cuma mau menceritakan sedikit pengalaman saya saat menonton film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini. Karena menurut kabar, memasuki pekan kedua sejak awal penayangannya, hampir dua juta orang sudah membanjiri bioskop hanya untuk melihat film yang pengambilan gambarnya sebagian di Mesir, India dan kota Semarang ini.

aac.jpg

Saya tidak akan menceritakan jalan cerita tentang film ini, tapi dari sisi lain, yakni antusiasme penonton terhadap “film dakwah” karya anak negeri sendiri.

Ayat-Ayat Cinta (AAC) benar-benar membuat penasaran masyarakat pecinta film nasional. Ini terlihat dari selalu “sold out”-nya tiket yang dijual hampir di semua bioskop. Pun sewaktu saya dan istri mengantre di loket sang petugas loket sudah menempelkan tulisan “Habis” di kaca loket. Padahal banyak pengantre yang masih berjejer di belakang saya. Tampak pula beberapa ibu yang membawa anaknya kecewa karena tidak kebagian tiket.

Keadaan ini mengingatkan saya akan stasiun Gambir atau Jatinegara saat menjelang Lebaran harus antre tiket kereta buat mudik ke kampung halaman.

Telanjur sudah datang ke bioskop, terpaksa saya membeli tiket untuk penayangan pada jam selanjutnya. Hebatnya lagi, dari empat studio yang dibuka hari itu, tiga studio khusus menayangkan AAC. Bahkan buat yang ingin menonton besok atau lusa, tiket masuk sudah bisa dibeli mulai hari ini.

Saya dan istri terheran-heran melihat fenomena ini. Mungkin dalam sejarah industri perfilman nasional, baru kali ini sebuah film lokal mampu “membius” masyarakat tanah air. Bahkan… dua orang ibu yang difable, satu berkursi-roda dan satunya lagi menggunakan tongkat ikut “terhipnotis’ AAC meski sang anak yang antre tiketnya.

Yang membuat saya lebih terheran lagi adalah penontonya. Lintas usia. Mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek ikut rela mengantre. Padahal buat anak-anak seumuran mereka, pesan-pesan dalam film ini tidak cocok dan tidak mengena. Alasannya karena memang bukan untuk konsumsi mereka.

Saya coba bertanya-tanya dalam hati, kenapa AAC begitu diminati segala usia? Jawaban saya adalah, karena memang selama ini tidak ada lagi tontonan yang bagus. Sutradara kita lebih senang mengangkat cerita soal hantu, pocong, kuntilanak dan turunannya. Atau sekuel yang menampilkan gaya hidup hedonis dan konsumtif di kalangan remaja.

Maka kalau ditanya, bagaimana penilaian saya terhadap AAC yang baru saja saya lihat? Maka jawabannya adalah lebih bagus melihat AAC daripada film-film remaja atau film hantu yang berdarah-darah.





Hujan (mungkin) belum akan berhenti

13 03 2008

Dahulu, sewaktu saya, mungkin juga pembaca masih duduk di sekolah dasar (SD) ketika ditanya oleh guru kelas tentang kapan musim penghujan dan kemarau tiba. Jawabannya pasti dan tak pernah meleset. Musim kemarau pada April-September dan sebaliknya September-April dapat dipastikan menjadi bulan-bulan yang penuh curahan air.

Ternyata prediksi itu benar, sebab dua musim tersebut memang sudah ditakdirkan hanya akan menjamah negeri ini pada waktu-waktu yang telah diramalkan. Karena dua musim sudah dapat diprediksi, maka seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para petani bisa langsung menyesuaikan, kapan harus menanam dan kapan bisa memanen. Begitu juga para nelayan. Mereka akan tahu saat-saat terbaik buat mencari ikan.

Namun saat ini –di tengah isu global warming— para petani mulai bingung kapan harus memulai awal musim tanam, karena salah memprediksi kapan awal musim hujan dan akhir musim kemarau. Padahal informasi prediksi akhir musim hujan dan awal musim kemarau sangat diperlukan untuk menentukan apakah musim tanam berikutnya menanam padi lagi atau menanam tanaman pengganti.

Perubahan musim yang terkait dengan musim tanam bagi petani memang sangat membingungkan, atau malah menyusahkan. Sebab pengaruhnya sangat besar bagi pemerintah dan urusan perut 230 juta rakyat Indonesia. Pemerintah terpaksa harus impor beras untuk mencukupi stok beras nasional akibat gagal panen.

Persoalan kegagalan panen dikhawatirkan tak hanya berdampak pada stok pangan semata. Juga korban sosial dan material yang dialami petani cukup besar. Umumnya petani penggarap mengerjakan lahan dengan imbalan dari padi hasil panen. Karena tidak ada yang dipanen, mereka pun tak ada penghasilan.

Wah sori nih, kok saya ngelantur jauh banget ya ??!!

Saya cuma mau bercerita soal tidak menentunya cuaca berdasarkan pengalaman pribadi. Iya cuaca di Jabodetabek khususnya, saat ini memang nggak bisa diprediksi. Bahkan prediksi BMG pun sering meleset.

Contohnya minggu-minggu ini, pagi hari di Jabodetabek cerah berawan, tiba-tiba siang hari berubah hujan. Atau menjelang malam baru hujan turun dengan intensitas ringan. Waktunya pun nggak lama, paling cuma 15-20 menit.

Saya yang cuma berkendara sepeda motor, kadang-kadang ikut jengkel juga menghadapi fenomena cuaca ini. Maksudnya saya jengkel karena harus buka-pakai jas hujan yang merepotkan. Bukan jengkel sama yang membuat hujan. Hujan kan sebagian dari rahmat-Nya buat kita. Tul kan?

Kepengennya sih, hujan tuh pas saya sudah nyampe kantor, atau pas udah ngumpul sama keluarga di rumah. Pengennya sih kayak gitu. Jangan sampe deh, hujan turun pas lagi di jalanan. Wah, repot banget.

Kayak kejadian tempo hari, mau pulang dari kantor hujan turun lumayan deras, mau nggak mau kan mesti dan kudu pake jas hujan. Di daerah Salemba menuju Matraman hujan masih turun rintik-rintik. Eh, pas di Jatinegara sampe rumah kagak hujan. Mau buka jas hujan, malas dan ribet banget. Kalau dipake keringat terus ngucur dan diliatin orang. Nggak ada hujan kok pake jas hujan. Serba salah.

Itu cerita pertama. Cerita yang kedua, biasanya kalo pulang kerja kehujanan buru-buru deh cuci motor biar nggak keliatan kumuh gitu, dengan harapan besok pas mau dibawa kerja, tuh motor udah kinclong. Nggak disangka tau-taunya pagi-pagi hujan turun. It’s unpredictable! Bakalan dekil lagi nih motor. Ya gitu deh dilema. Abis dicuci tau-tau hujan turun, kalo nggak dicuci ntar nggak beda dong sama motornya tukang ayam potong atau tukang ojek.

Ya udah deh… mulai sekarang saya ikhlas aja, karena semua itu rejeki yang harus kita terima. Karena Allah SWT menciptakan semuanya nggak ada yang sia-sia. Tapi dasar aja manusia yang nggak tahu diri (termasuk saya kali). Dikasih hujan besar pasti nggak terima, bilangnya banjir.

Ntar pas musim panas bakal mengeluh lagi, kok hujan nggak turun-turun ya? Air di rumah pada kering nih. Macam-macam alasan seolah “menyalahkan” Tuhan. Padahal timbulnya climate change ini 100 persen adalah ulah manusia sendiri.

Maka dari itu, saya sekarang menikmati saja musim hujan yang belum tampak akan berkesudahan ini. Karena saya yakin dari jutaan mililiter air yang jatuh dari langit, mungkin ada satu tetes yang boleh jadi adalah rejeki khusus buat saya. (*)





Akhirnya sikap tegas itu datang juga

5 03 2008

marty.jpg

 Setelah sebelumnya melakukan “blunder” dengan menyetujui Resolusi 1747 DK PBB  (24/3/2007) tentang pengenaan sanksi terhadap program nuklir Iran, Indonesia akhirnya berani menyatakan abstain pada pemungutan suara oleh DK PBB di Markas Besar PBB di New York (3/3).

Indonesia menjadi satu-satunya dari 15 negara anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tidak menyetujui pengesahan Resolusi 1803 tentang sanksi tambahan buat Iran terkait program nuklir di negara para Mullah tersebut.

Ini sangat betolak belakang dengan apa yang pernah dilakukan negeri ini setahun lalu ketika “tanpa sadar” ikut mendukung Resolusi 1747 DK PBB yang konon sudah disiapkan oleh Prancis, Inggris dan Jerman. Dan sudah tentu saja zionis Israel.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Mutammimul Ula, seperti dikutip ANTARA News di Jakarta, (4/3) menilai Indonesia membuat langkah mengejutkan, dengan memilih abstain di Dewan Keamanan PBB saat voting terhadap resolusi tahap ketiga yang menjatuhkan sanksi terhadap Iran.

“Sikap ini benar-benar mengejutkan banyak pihak, karena biasanya Indonesia mengikuti kecenderungan Amerika Serikat. Apalagi semua anggota Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), baik yang tetap maupun tidak tetap, menyetujui resolusi itu,” ungkapnya.

Sebagai anggota tidak tetap DK PBB, Pemerintah Indonesia cukup berani menjalankan diplomasi politik yang bebas aktif. Nampaknya, Indonesia ingin lebih jernih melihat kasus pengayaan nuklir Iran. Berdasarkan laporan badan pengawas atom PBB (IAEA), faktanya Iran memang tidak memproduksi senjata massal dan tidak ditemukan penyimpangan yang mengarah kepada kepentingan militer.

Terlepas dari banyaknya masalah yang terus membelit negeri ini, namun sikap yang ditunjukkan para wakil Indonesia di DK PBB sungguh menjadikan harga diri bangsa ini kembali terhormat. Sikap tegas untuk tidak bisa didikte oleh negara-negara “penyamun” inilah yang membuat nama Indonesia kembali diperhitungkan di dunia internasional.

Indonesia Bisa!! Be the leader among developed countries and give a course to those hypocrites. (*)