Hujan (mungkin) belum akan berhenti

13 03 2008

Dahulu, sewaktu saya, mungkin juga pembaca masih duduk di sekolah dasar (SD) ketika ditanya oleh guru kelas tentang kapan musim penghujan dan kemarau tiba. Jawabannya pasti dan tak pernah meleset. Musim kemarau pada April-September dan sebaliknya September-April dapat dipastikan menjadi bulan-bulan yang penuh curahan air.

Ternyata prediksi itu benar, sebab dua musim tersebut memang sudah ditakdirkan hanya akan menjamah negeri ini pada waktu-waktu yang telah diramalkan. Karena dua musim sudah dapat diprediksi, maka seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para petani bisa langsung menyesuaikan, kapan harus menanam dan kapan bisa memanen. Begitu juga para nelayan. Mereka akan tahu saat-saat terbaik buat mencari ikan.

Namun saat ini –di tengah isu global warming— para petani mulai bingung kapan harus memulai awal musim tanam, karena salah memprediksi kapan awal musim hujan dan akhir musim kemarau. Padahal informasi prediksi akhir musim hujan dan awal musim kemarau sangat diperlukan untuk menentukan apakah musim tanam berikutnya menanam padi lagi atau menanam tanaman pengganti.

Perubahan musim yang terkait dengan musim tanam bagi petani memang sangat membingungkan, atau malah menyusahkan. Sebab pengaruhnya sangat besar bagi pemerintah dan urusan perut 230 juta rakyat Indonesia. Pemerintah terpaksa harus impor beras untuk mencukupi stok beras nasional akibat gagal panen.

Persoalan kegagalan panen dikhawatirkan tak hanya berdampak pada stok pangan semata. Juga korban sosial dan material yang dialami petani cukup besar. Umumnya petani penggarap mengerjakan lahan dengan imbalan dari padi hasil panen. Karena tidak ada yang dipanen, mereka pun tak ada penghasilan.

Wah sori nih, kok saya ngelantur jauh banget ya ??!!

Saya cuma mau bercerita soal tidak menentunya cuaca berdasarkan pengalaman pribadi. Iya cuaca di Jabodetabek khususnya, saat ini memang nggak bisa diprediksi. Bahkan prediksi BMG pun sering meleset.

Contohnya minggu-minggu ini, pagi hari di Jabodetabek cerah berawan, tiba-tiba siang hari berubah hujan. Atau menjelang malam baru hujan turun dengan intensitas ringan. Waktunya pun nggak lama, paling cuma 15-20 menit.

Saya yang cuma berkendara sepeda motor, kadang-kadang ikut jengkel juga menghadapi fenomena cuaca ini. Maksudnya saya jengkel karena harus buka-pakai jas hujan yang merepotkan. Bukan jengkel sama yang membuat hujan. Hujan kan sebagian dari rahmat-Nya buat kita. Tul kan?

Kepengennya sih, hujan tuh pas saya sudah nyampe kantor, atau pas udah ngumpul sama keluarga di rumah. Pengennya sih kayak gitu. Jangan sampe deh, hujan turun pas lagi di jalanan. Wah, repot banget.

Kayak kejadian tempo hari, mau pulang dari kantor hujan turun lumayan deras, mau nggak mau kan mesti dan kudu pake jas hujan. Di daerah Salemba menuju Matraman hujan masih turun rintik-rintik. Eh, pas di Jatinegara sampe rumah kagak hujan. Mau buka jas hujan, malas dan ribet banget. Kalau dipake keringat terus ngucur dan diliatin orang. Nggak ada hujan kok pake jas hujan. Serba salah.

Itu cerita pertama. Cerita yang kedua, biasanya kalo pulang kerja kehujanan buru-buru deh cuci motor biar nggak keliatan kumuh gitu, dengan harapan besok pas mau dibawa kerja, tuh motor udah kinclong. Nggak disangka tau-taunya pagi-pagi hujan turun. It’s unpredictable! Bakalan dekil lagi nih motor. Ya gitu deh dilema. Abis dicuci tau-tau hujan turun, kalo nggak dicuci ntar nggak beda dong sama motornya tukang ayam potong atau tukang ojek.

Ya udah deh… mulai sekarang saya ikhlas aja, karena semua itu rejeki yang harus kita terima. Karena Allah SWT menciptakan semuanya nggak ada yang sia-sia. Tapi dasar aja manusia yang nggak tahu diri (termasuk saya kali). Dikasih hujan besar pasti nggak terima, bilangnya banjir.

Ntar pas musim panas bakal mengeluh lagi, kok hujan nggak turun-turun ya? Air di rumah pada kering nih. Macam-macam alasan seolah “menyalahkan” Tuhan. Padahal timbulnya climate change ini 100 persen adalah ulah manusia sendiri.

Maka dari itu, saya sekarang menikmati saja musim hujan yang belum tampak akan berkesudahan ini. Karena saya yakin dari jutaan mililiter air yang jatuh dari langit, mungkin ada satu tetes yang boleh jadi adalah rejeki khusus buat saya. (*)

Iklan

Aksi

Information

One response

19 03 2008
arba7k

hiiiii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: