AAC sejenak lupakan pocong dan kuntilanak

17 03 2008

 Sampai kini rekor jumlah penonton film Ayat-Ayat Cinta (AAC) masih merajai bioskop-bioskop ibukota dan sekitarnya. Film AAC berhasil meneruskan kesuksesan dari versi novel dengan judul yang sama karya Habbiburrahman El Shirazy alias Kang Abik. AAC mengalahkan film-film bertema horor dan kisah remaja yang selama ini sudah kadung “dicintai” oleh sutradara muda kita.

Terlepas dari komentar pro dan kontra soal film AAC, saya cuma mau menceritakan sedikit pengalaman saya saat menonton film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini. Karena menurut kabar, memasuki pekan kedua sejak awal penayangannya, hampir dua juta orang sudah membanjiri bioskop hanya untuk melihat film yang pengambilan gambarnya sebagian di Mesir, India dan kota Semarang ini.

aac.jpg

Saya tidak akan menceritakan jalan cerita tentang film ini, tapi dari sisi lain, yakni antusiasme penonton terhadap “film dakwah” karya anak negeri sendiri.

Ayat-Ayat Cinta (AAC) benar-benar membuat penasaran masyarakat pecinta film nasional. Ini terlihat dari selalu “sold out”-nya tiket yang dijual hampir di semua bioskop. Pun sewaktu saya dan istri mengantre di loket sang petugas loket sudah menempelkan tulisan “Habis” di kaca loket. Padahal banyak pengantre yang masih berjejer di belakang saya. Tampak pula beberapa ibu yang membawa anaknya kecewa karena tidak kebagian tiket.

Keadaan ini mengingatkan saya akan stasiun Gambir atau Jatinegara saat menjelang Lebaran harus antre tiket kereta buat mudik ke kampung halaman.

Telanjur sudah datang ke bioskop, terpaksa saya membeli tiket untuk penayangan pada jam selanjutnya. Hebatnya lagi, dari empat studio yang dibuka hari itu, tiga studio khusus menayangkan AAC. Bahkan buat yang ingin menonton besok atau lusa, tiket masuk sudah bisa dibeli mulai hari ini.

Saya dan istri terheran-heran melihat fenomena ini. Mungkin dalam sejarah industri perfilman nasional, baru kali ini sebuah film lokal mampu “membius” masyarakat tanah air. Bahkan… dua orang ibu yang difable, satu berkursi-roda dan satunya lagi menggunakan tongkat ikut “terhipnotis’ AAC meski sang anak yang antre tiketnya.

Yang membuat saya lebih terheran lagi adalah penontonya. Lintas usia. Mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek ikut rela mengantre. Padahal buat anak-anak seumuran mereka, pesan-pesan dalam film ini tidak cocok dan tidak mengena. Alasannya karena memang bukan untuk konsumsi mereka.

Saya coba bertanya-tanya dalam hati, kenapa AAC begitu diminati segala usia? Jawaban saya adalah, karena memang selama ini tidak ada lagi tontonan yang bagus. Sutradara kita lebih senang mengangkat cerita soal hantu, pocong, kuntilanak dan turunannya. Atau sekuel yang menampilkan gaya hidup hedonis dan konsumtif di kalangan remaja.

Maka kalau ditanya, bagaimana penilaian saya terhadap AAC yang baru saja saya lihat? Maka jawabannya adalah lebih bagus melihat AAC daripada film-film remaja atau film hantu yang berdarah-darah.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: