Republik Jaim dan kisah segerombolan semut

25 03 2008

Republik Jaim merupakan bentuk negara terkecil yang ada di negeri antah-berantah. Di republik ini penduduknya cuma beberapa gelintir. Cuma sembilan orang. Seorang presiden, dua orang menteri dan sisanya adalah rakyat.

Meski sedikit, namun sifat dari masing-masing penduduknya aneh-aneh. Ada yang sok dewasa, ada yang sifatnya persis siswa taman kanak-kanak, gampang ngambek. Ada yang merasa sok diperluin dan gede gengsinya. Sifatnya sangat beragam. Istilah “diversity in jaim ” cocok sekali buat moto republik ini.

Republik Jaim dipimpin oleh seorang presiden pilihan dewa kayangan, dibantu oleh dua orang menteri utama yang ditunjuk berdasarkan titipan dan teman dekat sang dewa. Untuk urusan ini, presiden tidak pernah menggunakan hak prerogratif-nya. Ia cuma menerima apa-apa yang disodorkan dari langit.

Presiden Republik Jaim merupakan figur yang cerdik namun terlalu pelit umbar omongan, sehingga semakin mengokohkan kejaiman dari republik yang didirikan pada awal abad 20 ini. Sayangnya, para pembantunya yakni dua orang menteri utama dan rakyatnya tidak bisa all-out membantu kerja sang presiden. Presiden seakan-akan bekerja sendirian. Tapi bisa juga memang presiden senang bekerja dalam kesendiriannya. One man show gitu dech.

Namun Republik Jaim belakangan ini menjadi sorotan dari beberapa pemimpin pemerintahan negara tetangga. Karena kabarnya sebuah proyek mercusuar sedang digarap di republik ini. Layaknya karung berisi gula, Republik Jaim banyak didatangi segerombolan semut-semut, yaitu para teknorat dan engineer terbaik asal negara tetangga. Mereka sebagian memang ingin bekerjasama, tapi ada juga yang hanya sekedar mengambil keuntungan dari megaproyek ini.

Ironisnya, sang kepala negara sangat-sangat terlalu gampang menerima “semut-semut dadakan” tersebut. Presiden tidak pernah –mudah-mudahan salah– melihat kebelakang untuk urusan merekrut semut. Mestinya presiden cari tahu, bagaimana track record semut-semut itu. Pernah terlibat makar atau tidak. Pernah menyalahgunakan wewenang dan keuangan negara atau tidak. Kenapa semut-semut itu tiba-tiba “mengerubungi” negeri Jaim ini? Padahal dahulu semut-semut itu, jangankan bertandang, menengok pun tidak.

Presiden terlalu lemah dalam urusan ini. Di kabinet-nya sendiri sang presiden tak berani mengambil tindakan terhadap menteri dan rakyat yang kinerjanya sangat-sangat dibawah form. Banyak juga saran yang masuk ke Kotak Pos 12345 agar presiden tak salah memilih semut-semut tersebut.
 
Dan andai proyek prestisius ini berhasil diluncurkan, bukan tak mungkin Republik Jaim makin berkibar ke-exist-annya di dunia antah-berantah ini. Ia bisa menjadi “a wide open window” buat investasi dan penguatan citra baik bagi republik ini.

Kalau boleh sedikit flashback, sepuluh tahun lalu Republik Jaim tak dipedulikan siapa-siapa, bahkan sang dewa kayangan tidak melihat sedikit pun sisi baik dari republik ini. Republik Jaim waktu itu sangat menderita. Kalimat “hidup segan mati tak mau” sangat pantas disandangnya. Bahkan ada beberapa petinggi negara tetangga yang masih menyangsikan kalau Republik Jaim masih berdiri.

Sang dewa lebih menyayangi negeri-negeri yang bisa menghasilkan dolar. Di negeri itu para menteri dan rakyat hidup berkecukupan, karena sistem “reward” sudah diterapkan di sana, meski diberlakukan juga “punishment”. Sang dewa dan para pembantunya selalu sigap dan cekatan bila menyangkut hal-ikhwal negeri penghasil dolar ini.

Perlu juga dicatat, meski diperlakukan tidak adil, Republik Jaim masih bisa mencari uang sendiri dan menyetorkan ke istana dewa kayangan. Republik Jaim tak pernah mengemis meminta-minta fasilitas seperti yang dilakukan negeri-negeri lain.

Republik Jaim patut berbangga karena kini menjadi sorotan. Entah itu sorotan yang mendukung usaha-usahanya, atau sorotan nanar dan sinis. Maklum di awal menggeliatnya, Republik Jaim sudah menggusur satu negara penghasil dolar. Ini bukan bentuk aneksasi negara tetangga, namun Republik Jaim memang butuh “wilayah” yang lebih luas guna menampung rakyatnya dan semut-semut pendatang itu. Upaya aneksasi ini pun sudah direstui sang dewa kayangan. 

Kini Republik Jaim pun mulai diperhitungkan di panggung politik negeri-negeri antah-berantah.  Maka tak salah, kalau saat ini rakyat Republik Jaim boleh menikmati secuil euphoria yang sedang menghampiri negerinya. Janganlah terlalu dipermasalahkan dan jangan dianggap sesuatu yang menghebohkan kalau ada suara yang tidak percaya akan hal ini. Semua itu berlaku hukum alam. Tidak semua yang dibawah akan selamanya dibawah, suatu waktu pasti akan diatas. Cakra Manggilingan kata orang Jawa. Karena memang, roda akan terus berputar. Bravo Republik Jaim! (*)

Iklan

Aksi

Information

2 responses

26 03 2008
semut kecil

freeezzzeeeeeee… its gettin cold…….hellloooowwww

hope this wont take a long time ya..

hidup republik jaim 🙂

26 03 2008
imung murtiyoso

thanks semut kecil, hope the republic of jaim will put out the antah-berantah’s flag.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: