They did nothing…

10 04 2008

Ini adalah kisah lain dari Republik Jaim. Sebuah republik mini yang berisi sekumpulan orang-orang dengan perangai yang aneh-aneh.

Tersebutlah Amri, yang diberi kepercayaan presiden untuk mengerjakan sebuah proyek kerjasama dengan sebuah departemen urusan langit. Proyek ini memang selalu dipercayakan kepada Republik Jaim dan sudah dua tahun terakhir ini Amri-lah yang selalu mengerjakan proyek itu. Walau kadang-kadang ada beberapa teman dari negara lain ikut dilibatkan dan cawe-cawe, namun tetap saja hasil kerja Amri yang paling banyak.

Dengan segala keterbatasannya, Amri mengerjakan itu semua dengan ikhlas, meski seorang diri tapi ia tetap konsisten dan bertanggungjawab. Bahkan untuk hari-hari yang bertanggal merah, Amri rela datang ke kantor hanya untuk tidak mengecewakan amanat presiden. Sebulan selesailah proyek kerjasama itu. Tepatnya akhir tahun kabisat.

Tepat pada bulan keempat di tahun yang baru, seorang negoisator dari negeri tetangga datang membawa kabar gembira. Kabar tentang komisi yang diterima untuk proyek yang dikerjakan Republik Jaim dari departemen urusan langit.

Dalam hati Amri senang bukan kepalang, karena di saat-saat yang tepat rejeki bakal menghampiri dirinya. Dia pun sadara bahwa rejeki itu, bukan melulu buat dirinya. Kawan-kawannya di Republik Jaim juga harus dibagi. Itu Amri sangat setuju. Semua penduduk di republik ini harus mencicipi rejeki yang datang setahun sekali ini.

Selesai sang negoisator menyelesaikan pay-cash dengan presiden di ruang oval, maka pemimpin tertinggi di republik ini mulai hitung-hitungan pendapatan proyek kerjasama itu. Berapa talen (mata uang Republik Jaim. Red) yang harus dibagi kepada rakyatnya.

“Amri sini kamu,” tiba-tiba presiden memanggil dirinya masuk ke ruang dinas sang presiden. Namun sebelum melakukan sesuatu, presiden menyuruh Amri untuk memanggil pula seorang menteri utama.

Lalu sang presiden memberikan beberapa lembar talen kepada Amri. Amri lalu menghitung dengan senyum mengembang, kemudian presidenpun memberi talen dalam jumlah yang sama kepada menteri utama.

Amri kaget saat itu. Ia tak menyangka, presiden memberi talen dengan jumlah yang sama kepada menteri utama. Sejurus kemudian Amri keluar dari ruang presiden sambil terus bertanya-tanya dalam dirinya, mengapa proyek yang ia kerjakan sendiri, tapi pembagian komisinya tidak beda. Ah ini tidak adil, pikirnya. Amri berusaha berteriak, tapi tak ada yang menanggapinya. Bahkan suaranya semakin parau dan hilang.

Esoknya, iapun iseng-iseng sempat bertanya kepada seorang penduduk lainnya. Sudahkan presiden memberikan komisi kepada kamu? Berapa banyak? Meski agak malu-malu orang itu menjawab sudah dan dengan nilai talen yang sama juga dengan Amri. Ia makin kaget, ternyata hasil kerjanya tak dihargai presiden.

Amri tidak narsis. Dirinya bukan tipe megalomania  atau merasa paling numero uno. Ia cuma ingin menuntut haknya setelah ia tunaikan semua kewajibannya.  Apa-apa yang dikerjakan Amri semuanya jelas dan terekam dengan baik oleh presiden. Parameternya jelas.

Amri terus bertanya dalam dirinya, mengapa presiden memberikan reward kepada dirinya tidak proposional dengan apa yang ia sudah perbuat. Apa ada yang salah, gumamnya dalam hati.

You did what you got

Secara akal sehat, mestinya presiden tahu siapa yang bekerja dan tidak bekerja. Malah ada beberapa penduduk lainnya tidak ambil peduli dengan apa yang Amri kerjakan. Mengapa presiden menjadi seolah membuta-tuli akan keadaan ini? Atau memang ada Brutus di sekeliling Amri?

Amri tidak marah dan benci dengan rekan-rekannya, cuma ia menyayangkan keputusan presiden yang tidak adil terhadapnya. Ini namanya pembagian”sama rasa sama rata” . What an unwise decision.  Dalam kasus ini kawan-kawan Amri yang tadinya vokal dan moderat, tiba-tiba “sesak nafas”, tak lagi berpihak kepadanya bila berhadapan dengan talen.

Dalam sistem pemberian komisi atau bonus, reward and punishment masih menjadi yang terbaik. Karena sistem itu memperlakuan penduduk dengan adil. Yang kamu dapat adalah hasil dari yang kamu kerjakan. But you did nothing, you got nothing.

Pada English Wikipedia akan dijumpai kalimat, reward and punishment is the idea that people perform better when offered rewards, or when threatened with punishment. Jadi jelaskan! Yang kerja banyak mendapat banyak. Yang sedikit ya…  sedikit. Apalagi yang nggak kerja dan nggak peduli sama sekali. Wow…. buat yang terakhir ini namanya ketiban duren 🙂

Dulu, pernah sekali Amri pergi ke pasar induk beras Kurusetra di negeri seberang untuk melihat-lihat pasar yang khusus menjual makanan pokok itu. Tiap harinya berpuluh-puluh truk dari luar daerah masuk ke pasar ini menurunkan karung-karung beras. Untuk menurunkan karung-karung itu maka disuruhlah para porter atau kuli panggul untuk menaruhnya di gudang-gudang yang telah disiapkan.

Maka, untuk porter yang paling banyak menurunkan karung beras, maka upahnya pun semakin besar, dan begitu urutan selanjutnya. Wah itu sistem pengupahan yang proporsional, kata Amri. Artinya porter itu mendapatkan upah sesuai apa yang dikerjakannya.

Namun di Republik Jaim sistem tidak berlaku. Tapi saya maklum, karena sang presiden selama memimpin belum pernah memberlakukan aturan ini. Padahal aturan ini jelas-jelas menghargai jerih payah seseorang. Tujuan cuma satu, meningkatkan motivasi kerja.

Amri berharap andai reward and punishment diterapkan, maka seluruh penduduk di Republik Jaim akan berlomba-lomba meningkatkan prestasi kerjanya. Tidak seperti sekarang. Yang bekerja “seperlunya” saja bonusnya begitu melimpah. They did nothing but they got!

Huh…. ternyata enak sekali tinggal dan hidup di Republik Jaim ini. Tapi menjadi ironis dan tidak nyaman buat orang seperti Amri. (*)

 

 

 

 

 

Iklan

Aksi

Information

7 responses

10 04 2008
thankscarlitos

saya ikut prihatin dengan apa yg terjadi di rep.jaim.. yang pasti saya tau sekali gmana kecewanya perasaan om amri.. tapi saran saya cepatlah bangkit dan tetap berkarya, biar energi positif ditabung aja.. jangan dendam om..

seorang teman saya yg kbetulan dekat dengan om amri di rep.jaim cerita kpd saya, dia jd bingung harus bagaimana, dia tau rasanya karena juga pernah diperlakukan sama.. dia juga sedikit sakit membaca kisah ini karena merasa bodoh, gatau diri dan gmana gtu sulit dijelaskan.. sebagai sahabat dia bisa tau kalau om amri jd bersikap agak aneh terhadapnya.. padahal dia sudah mncoba jujur trhadap si om..

tapi teman saya bilang dia mengerti akan sikap om amri yg sedang kecewa.. dan yakin kalau om amri will be okay soon.. karena om amri pernah berkata “cos ur my closest friend at all, so i only sent my annoyance to you. sorry…”
dan teman saya bilang tidak masalah soal itu..

yasudah sampaikan salam saya buat om amri…
hope om amri will be back on the track.. dan hidup narsis om…!!

salam

10 04 2008
none

gara-gara tindakan unfair ini.. si amri jadi tidak asik lagi deh…

semangattt!!

11 04 2008
imung murtiyoso

thank thankscarlitos for supporting me… hope we’ll enjoy this republic as we ever did!

11 04 2008
thankscarlitos

lho kok anda yg say thanks?

jd sbnarny amri itu siapa yah?
:p piss

14 04 2008
imung murtiyoso

sentence should be, “thank thankscarlitos for supporting amri… hope we’ll enjoy this republic as we ever did!”

thanks for correcting me. Pisss

15 04 2008
ninoel

nice job keep posting man….

salam

15 04 2008
imung murtiyoso

thank you man, i just remembered the reds striker, fernando “elnino” torres

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: