15 menit terperangkap di dalam lift

23 05 2008

Seumur-umur baru kali ini gue kejebak di dalam lift sampe segitu lamanya. Meski udah hampir 11 tahun turun-naik lewat lift di kantor gue di Wisma Antara, namun kejadian kemarin lumayan bikin panik dan lemes.

Kejadiannya pas pulang ngantor jam limaan. Emang di kantor gue lift nya udah parah banget, maklum gedungnya juga udah berumur lebih dari dua dasawarsa. Selama ini sebenarnya udah banyak keluhan dari pengguna atau pengontrak gedung soal “nggak nyaman”-nya menggunakan lift. Namun pihak manajemen gedung selama ini cuma me-maintenance doang, dan sekarang pun baru satu lift yang diganti.

Lift sebetulnya udah “ngambek” saat berhenti tiba-tiba di lantai 10, namun nggak lama bergerak lagi. Namun saat di lantai 1 lift mendadak berhenti total, udah gitu diperparah lampu penerangnya juga ikut mati. Sebagai pengganti cahaya penerang, kami menyalakan handphone, minimal bisa menerangi muka-muka yang pada pucat-padam.

Meski udah berkali-kali minta bantuan melalui alat yang terhubung langsung ke control room, namun jawaban operator selalu meminta kami untuk bersabar. Dan sebanyak itu pula operator selalu berucap “sabar, sedang diperbaiki”.

Beruntung gue nggak sendiri di dalam alat transportasi vertikal itu, ada tujuh orang lagi yang sependeritaan. Cuma semuanya nggak sama cara menyikapi kepanikan tersebut. Kalo gue cuma diem (baca: takut) aja sambil berharap lift bisa jalan lagi. Yang paling gue takutin kemungkinan mulai menipisnya oksigen (betul nggak nih), jadi bikin susah nafas aja.

Yang lainnya malah ada yang cengengesan kesannya nggak takut aja. Padahal sebenarnya sama saja, jantungnya berdegub kencang juga. Alih-alih melupakan rasa takut, sebagian mereka cerita lucu-lucuan, yang sebenarnya dalam keadaan gini justru jadi sangat nggak lucu.

Udah gitu gue merasa berdosa aja sama temen gue, Anastom. Bukan apa-apa, tadinya dia nggak kepengen naik lift ini. Dia udah mau masuk ke lift lainnya, tapi karena gue paksa akhirnya dia mau juga. Ya… jadinya dia ikut “tersiksa” juga.

Ukuran lima belas menit di dalam lift buat yang penakut sama aja seperti terperangkap berjam-jam. Apalagi menunggu dalam ketidakpastian kayak gini. Gue sendiri kalo tahu kayak gini mendingan turun lewat tangga darurat aja. Biar capek tapi nggak deg-degan tur sehat.

Lima belas menit tetap stuck, akhirnya gue usul untuk membuka paksa pintu lift. Karena gue pikir, udah segini lama teknisi a.k.a. operator belum bisa kasih kabar baik. Beberapa orang akhirnya membuka paksa, untung nggak terlalu sulit dibukanya. Ya… Alhamdulillah bisa keluar semua dengan lega.

Jadi saran gue kalau mau naik atau turun menggunakan lift sebisanya jangan sendiri, cari teman. Ini gunanya untuk menghindari panic-disorder. Minimal kepanikan nggak dinikmati sendirian. Bisa di-share ke orang lain. Apalagi buat mereka yang jantungan. (*)

 

 

 

 

Iklan

Aksi

Information

One response

12 09 2008
anastom.sy

lu inget aja mung.
kalo kenape-kenape waktu entu, wah! bisa jadi innalillah…..dech

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: