Republik Jaim di simpang jalan

26 05 2008

Meski berjalan sudah hampir satu kuartal, namun proyek prestisius yang digadang-gadang di Republik Jaim oleh sang dewa kayangan belum beringsut dari pola dan budaya lama. Belum ada sisi-sisi positif yang bisa dilihat.

Memang usia empat bulan belum bisa dikatakan itu gagal, tapi setidaknya bisa menjadi cermin buat presiden dan para petinggi Republik Jaim bahwa mereka sudah memulainya dengan start yang tidak bagus.

Kenapa tidak bagus? Ya, karena awalnya presiden merekrut personel-personel yang tidak kapabel. Personel yang tidak jelas track-record-nya. Bahkan personel yang “dibuang” di tempat sebelumnya pun disambut hangat disini. 

Ini hampir 100 persen adalah kesalahan sang presiden. Perekrutan mestinya didasari atas laporan dari bagian hukum dan personalia soal rekam-jejak calon yang akan direkrut, atau minimal mencari tahu tentang calon yang akan direkrut kepada atasannya masing-masing.

Ini tidak, dalam terawangan sang presiden yang penting dilihat dari luarnya cukup baik dan bisa kerja, so no problem. Entah dia pemalas, selalu berhitung soal kerjaan atau kasak-kusuk cari tambahan di luar, sang presiden seolah-olah tutup mata.

Kedua, tidak adanya budaya kerja yang mumpuni. Karena memang tidak ada perubahan kinerja. Cuma pindah tempat kerja, namun kinerja tidak bergerak ke yang lebih baik. Semuanya memperlihatkan keegoan pribadi masing-masing. Yang merasa hebat sudah tidak perlu dinasihati lagi, yang terpuruk silakan tersudut di pojok sempit.

Absensi yang menjadi acuan dasar dalam suatu perusahaan sama sekali diabaikan. Mereka sah-sah saja masuk sesukanya, tanpa ada teguran. Nggak ngerti juga kenapa mereka begitu menganggap enteng soal absensi. Padahal semua perusahaan besar akan memberikan hukuman bilamana ada karyawannya yang melanggar.

Tampaknya, sang presiden harus mengkaji ulang semua yang terkait dengan republik Jaim selama empat bulan belakangan ini. Tak ada perubahan yang signifikan di Republik Jaim. Penggabungan yang awalnya bisa menjadi mercusuar republik kayangan, ternyata tersendat atau lebih tepat jalan di tempat.

Malahan ada divisi yang dapat dikatakan tidak ada semangatnya sama sekali. Ini kemungkinan sang menteri yang memimpin memang selain nggak punya visi juga nggak paham pekerjaan, serta maaf… terbiasa datang telat dan nggak betah di ruangan.

Dan anehnya lagi, sang presiden tak berdaya menghadapi semua ini. Dia sudah terlalu jauh mendiamkan semua ini. No admonition. No action.  Presiden tampak one man show.

Beruntungnya, para ex-personel Republik Jaim (yang awalnya cuma segelintir) tidak terpengaruh keadaan ini. Mereka sudah terbiasa dengan ritme kerja selama ini. Meski dipandang sebelah mata, kerja mereka parameternya jelas dan yang terpenting tetap loyal kepada presiden dan republik.  Setoran tiap tahun ke pundi-pundi dewa kayangan juga tak dilupakan.

Syahdan, baru-baru ini ada proyek khusus yang diluncurkan, namun hasilnya tidak jelas. Karena memang tidak profesional mengelolanya. Proyek yang tidak membuat orang tertarik melihatnya, apalagi melakukan invest. Perencanaan di awalnya saja yang begitu heboh. Namun setelah itu, jauh panggang dari api. Nggak ada hasil apa-apa. Hear nothing say nothing.

Divisi lainnya pun idem ditto alias sami mawon. Malah terlalu banyak personel yang “nggak ngapa-ngapain” dan tidak jelas apa yang dikerjakan. Pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan satu-dua orang justru menumpuk tak karuan. Alhasil jika tak ada tugas khusus, divisi tersebut layaknya kelas kursus komputer.

Soal target? Jangan dulu deh bicara target. Target akan sulit diraih apabila kinerja tiap-tiap personel masih “seperti apa adanya”.  Presiden harus menginstruksikan agar akselerasi kerja seluruh kru ditingkatkan, bukan cuma sekedar “kejar setoran”.

Memang sangat tidak nyaman bekerja di Republik Jaim dengan kondisi seperti ini. Sangat dilematis. Kondisi dimana sebagian personel yang rajin dan jelas job description-nya, namun tak pernah “tersentuh” (baca: diperhatikan) dan dibiarkan menjadi “warga kelas dua”. Dan di sisi lain dijumpai pula personel-personel yang datang ke kantor “sak wudele dewe” dan merasa dirinya paling hebat.

Kemungkinan sang presiden masih bisa berdalih bahwa ini belum ada ketentuan baku soal tata tertib.  Namun apa salahnya, bila semua dimulai perlahan mulai dari sekarang. Bukan saat keluar peraturan baru dijalankan.

Apa bisa dijamin, presiden akan “tega” memberi teguran, baik lisan atau tertulis kepada seluruh rakyatnya yang sudah keluar rel bila peraturan resminya sudah ada? Yang sudah-sudah aja presiden terlalu ragu-ragu memberikan hukuman tersebut. Sebab kalau kondisi dibiarkan begini terus-menerus, bukan mustahil Republik Jaim akan kembali ke bentuk semula. Become the unknown republic!

Akankah presiden akan terus menolerir keadaan ini? Sejatinya, ia mulai menerapkan peraturan bayangan yang lebih tegas dan jelas. Jangan lagi menunggu aturan baru atau hal-hal yang belum jelas. Sebab ini adalah pertaruhan nama sang presiden. Citra republik ini ada di wajah sang presiden.  Baik atau buruk yang akan disorot pemimpinnya.

Presiden Republik jaim jangan pernah peduli hanya pada satu atau dua orang saja. Mulailah menjalin komunikasi dengan segenap personel. Jangan ada pikiran who do you thing you are.  Kalau selama ini presiden menjaga jarak dengan bawahan, maka mulailah talkactive dan kikis sifat jaim perlahan. Toh, nggak berkurang kewibawaan presiden jika mau berkomunikasi dengan bawahan.

Dan jika ada rakyatnya yang tidak perform jangan lagi dipertahankan. Ijinkan keluar dari Republik Jaim. Sebab masih ada rakyat yang loyal dan ingin sungguh-sungguh bekerja. Karena ini adalah proyek dimana hidup-mati sang presiden dan sang dewa kayangan dipertaruhkan. Bukan tempat para penjual kecap yang cuma bisa bercuap-cuap. (*)

 

 

 

Iklan

Aksi

Information

2 responses

29 05 2008
okto

I feel you explain about the office. In fact is true. Good idea, I agree the opinion.
I hope you always the wise guys.

3 06 2008
imung murtiyoso

thanks man, i just want to remain the boss that he had made a big mistake adopting the incapable persons !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: