Jerman sebenarnya

20 06 2008

“Hentikan Jerman di awal, atau dia akan merajalela di pertandingan berikutnya”. Pameo di jagat sepakbola soal kekhawatiran terlindas tim panser ternyata masih terbukti sampai kini.

Buktinya, keterampilan individu para pemain Portugal besutan Luiz Felipe Scolari ternyata belum mampu memperdaya permainan kolektif dan disiplin anak-anak asuhan Joachim Loew, meski mereka diposisikan sebagai underdog.

Hasilnya, pada pertandingan perempat final yang menggunakan sistem gugur, Der Panzer menggilas Seleccao das Quinas 3-2 dalam perempat final Piala Eropa 2008.

Di tiga pertandingan awal penampilan Die Nationalelf memang tidak mengesankan. Menang 2-0 atas Polandia, dihajar Kroasia 2-1 dan terakhir cuma memasukkan satu gol ke jala Austria. Permainan yang disuguhkan tim Bavaria saat itu membosankan dan tidak menarik untuk ditonton.

Para pemain layaknya robot yang dioperasikan oleh sang pelatih di sisi lapangan. Hanya Michael Ballack  dan Philipp Lahm yang begitu mobile mengalirkan bola-bola ke Lukas Podolski atau Miroslav Klose. Sisanya pemain masih mempraktikkan text-book yang diberikan Joachim Loew.

Klose dan Mario Gomez yang diharapkan sebagai penyelesai akhir masuknya bola ke jaring lawan sampai babak penyisihan justru mandul. Hanya Podolski yang menjadi second striker justru lebih produktif dengan sumbangan tiga gol hingga akhir babak penyisihan.

Tim Portugal yang dikomandoi Nuno Gomez tidak bermain jelek. Namun Jerman telah menemukan bentuk permainan terbaiknya. Laju mesin panser yang awalnya tersendat dan nyaris mati, kini mulai meningkat akselerasinya. Di tiap turnamen sepak bola bergengsi, perjalanan tim hitam-putih memang seperti itu. Lambat di awal lalu perlahan menaikkan tempo permainan di pertandingan selanjutnya.

Tanpa didampingi sang pelatih —karena terkena hukuman FIFA buntut perseteruannya dengan pelatih Austria Josef Hickersberger— Jerman tampil memukau. Setiap lini bermain all-out. Inilah permainan Jerman sebenarnya. Permainan ala blitzkrieg, dimana serangan dilancarkan secara menderu-deru namun tidak lupa membentengi daerah pertahanan.

Kembalinya gelandang serang Bastian Schweinsteiger setelah terkena kartu merah saat bertanding melawan Kroasia seakan menghidupkan roh Die Mannschaft. Gol pembuka yang dilesakkannya membuat tim ini seakan sudah menuju semi final.

“Saya telah melakukan kesalahan, saya sadar. Hari ini saya mencoba untuk membantu tim sebisa mungkin dan ternyata berjalan baik,” kata Schweinsteiger, seperti dilaporkan Reuters sesaat usai pertandingan.

“Kami harus melakukan ini lagi pada pertandingan berikutnya. Saya sangat gembira menang pada pertandingan ini. Kami menyingkirkan tim, yang menurut saya, terbaik di turnamen ini,” tuturnya.

Sementara itu Joachim Loew, yang dilarang mendampingi tim untuk satu pertandingan, hanya bisa menyaksikan perjuangan skuadnya dari tribun stadion.

“Lebih menegangkan urat saraf kalau jauh dari lapangan. Anda memang bisa melihat segalanya lebih jelas, tetapi jauh dari lapangan sungguh menegangkan,” kata Loew.

“Setelah pertandingan melawan Austria kami melihat bahwa kami harus melakukan perubahan. Kami ingin menutup pergerakan Portugal di lapangan tengah. Kami berhasil melakukannya,” jelasnya.

Asisten pelatih Hansi Flick mengambil alih tanggung jawab di sisi lapangan dan Loew sangat terkesan.

“Ia bekerja sangat baik. Beberapa hal dilakukannya dengan sangat bagus, seperti menempatkan Michael Ballack lebih ke belakang saat kami tertekan,” jelas Loew.

Bermain dengan staying power, bagi pemenang tiga kali juara dunia itu tak ada kamus menyerah sebelum peluit akhir dibunyikan. Inilah determinasi khas Jerman. Sebuah usaha yang membuat sebuah tim secara terus menerus mencoba melakukan sesuatu bahkan ketika hal tersebut merupakan hal yang sulit.

Kalau melihat permainan Jerman seperti menghadapi Portugal, bukan tak mungkin der panzer akan kembali ke jalur yang sesungguhnya. Jalur menuju juara. Dan ini membuat tim unggulan macam Italia dan Belanda semakin tidak nyaman dengan kehadiran Michael Ballack dan kawan-kawan.

Tentu saja akan ada drama pembalasan terhadap Kroasia yang telah mempermalukan “ras Aria” di partai penyisihan. Dengan catatan Kroasia harus melewati tim “Bulan-Bintang” Turki.

Jadi kalau panser sudah dijalankan, maka siapa yang sanggup menghalangi? (*)

 

 

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: