Tidak ada keajaiban keempat buat Al-Yildizlilar

26 06 2008

Hasan Lemal, kolumnis harian Turki, Milliyet menulis, “Terim tercinta, melawan Jerman kami ingin menang secara normal. Menang tanpa keajaiban. Kami semua tegang dan lelah setengah mati dengan kemenangan di menit-menit akhir,”.

Kehawatiran Hasan Lemal berasalan. Dari empat laga yang dimainkan tim asuhan Fatih Terim itu, tiga diantaranya merupakan keajaiban. Keajaiban karena mereka sanggup membalikkan keadaan di menit-menit akhir. Dari ketertinggalan menjadi sang kampiun.

Keajaiban pertama, di stadion St Jakob Park di kota Basel saat tim Bulan-Bintang menghadapi tuan rumah Swiss di menit-menit terakhir kedudukan masih imbang 1-1. Namun pemain asal klub Galatasaray Arda Turan memupuskan harapan tuan rumah pada menit kedua di perpanjangan waktu.

Di Geneva, dalam lima belas menit sebelum peluit akhir dibunyikan, Turki yang ketinggalan 0-2 dari Republik Ceko berhasil membalikkan keadaan menjadi 3-2 setelah sang kapten Nihat Kahveci membuyarkan harapan tim “Vatreni” melalui gol-golnya di menit 88 dan 90. Itu keajaiban kedua.

Keajaiban terakhir dan yang paling tragis dialami juara grup B Kroasia. Seakan memastikan satu tiket ke semi final berkat gol dari Ivan Klasnic di perpanjangan waktu menit ke-119. Namun Semih Senturk menghentikan kegembiraan sang pelatih urakan Slaven Bilic di menit ke-122 dan mengubur ambisi tim asal negeri Balkan itu melangkah ke semifinal.

Tiga keajaiban itulah yang selalu bisa meloloskan Al-Yildizlilar dari lubang jarum.

Namun saat menghadapi Der Panzer pada partai semifinal, keajaiban itu tidak lagi menghampiri Fatih Terim dan skuad-nya itu. Meski mampu mengimbangi permainan Michael Ballack dan kawan-kawan, tetap saja mental baja Jerman belum bisa tertandingi tim manapun, termasuk Turki.

Turki unggul lebih dulu 1-0 melalui sontekan Urgu Boral di menit ke-21. Namun lima menit kemudian atau di menit ke-26, lagi-lagi Bastian Schweinsteiger yang membuka gol bagi Der Panzer berkat kerjasama dengan Lukas Podolski.

Jerman sempat memimpin 2-1, saat Miroslav Klose berhasil menjaringkan gol melalui tandukannya setelah mendapat umpan silang dari bek kiri Philipp Lahm. Namun kubu Jerman kembali dihantui bakal datangnya “keajaiban” tim dua benua itu, ketika Sabri Sarioglu menyamakan kedudukan menjadi 2-2 di menit ke-86.

Tidak ada kata menyerah buat skuad Die Nationalelf  sebelum peluit akhir dibunyikan. Determinasi itu akhirnya berbuah manis di menit-menit akhir. Dan Philipp Lahm-lah yang membuyarkan harapan Turki maju ke final melalui gol indahnya di menit ke-90.

Namun catatan penting di laga itu adalah, meski menurunkan hampir semua pemain cadangannya, Turki tetap saja tidak mudah ditaklukan. Di paruh pertama tim yang pernah meraih peringkat ketiga di piala dunia 2002 itu justru mendominasi jalannya pertandingan. Mereka sama sekali tidak gentar dengan nama besar Jerman, pemenang tiga kali juara dunia dan piala Eropa itu.

Permainan atraktif yang dimainkan tim panser saat menghadapi Portugal sama sekali tidak terlihat. Bahkan penguasaan lapangan tengah, sang kapten Michael Ballack kalah piawai dibanding gelandang Turki yang bermain di Bayer Munich, Hamit Altintop.

“Gila! Saraf Kami Tegang!” tulis harian Bild dalam lamannya (www.bild.de) lalu menambahkan bahwa Jerman kalah dominan dari Turki dan harus memperbaiki permainan kalau ingin berpeluang menang pada final nanti.

“Tidak tampak jejak permainan mengesankan, cepat dan langsung seperti yang kami lihat ketika melawan Portugal di perempatfinal. Apakah itu karena arogansi atau kegugupan?” tulis koran itu.

Joachim Loew pun mengatakan, timnya beruntung bisa melangkah ke final Euro 2008 dengan kemenangan 3-2 atas Turki berkat gol pada menit terakhir di Stadion St Jakob Park, Basel, Swiss, Kamis dinihari WIB.

“Turki secara teknis adalah tim yang tangguh dan tidak ada bagian di lapangan yang bisa kami kuasai,” kata Loew setelah memimpin timnya yang sempat tertinggal 0-1 untuk akhirnya menang dengan skor 3-2 berkat gol Philipp Lahm pada menit ke-90.

“Kami melihat bagaimana Turki mampu bangkit sebanyak tiga kali untuk memenangi pertandingan, dan kami sadar bahwa itu juga bisa terjadi lagi. Pada menit-menit terakhir, kami sempat khawatir, tapi kami beruntung bisa mencetak gol menit ke-90,” kata Loew.

“Kami saat itu mulai yakin bahwa bahwa mereka  tidak akan bangkit untuk keempat kalinya,” katanya.

Langkah Bulan-Bintang sudah terhenti. Namun di piala Eropa 2008 ini performa Turki telah kembali bersinar, sama seperti ketika lolos ke semifinal Piala Dunia 2002 di Seoul, Korea Selatan.

Yang jelas Turki kini bukan lagi tim dari kasta terendah di Eropa. Turki sudah menjelma menjadi kekuatan baru sepak bola Eropa dengan segala “keajaibannya”. Ia mewarisi sepak bola “pantang menyerah” khas Jerman. Tim yang mengalahkan mereka di semifinal. (*)

 

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: