Selamat jalan bung…

21 07 2008

“Bung anda punya obat turun panas nggak, badan saya panas” tanya Eri Jumat sore itu.

“Nggak ada bung, ada juga obat batuk, tapi ada penurun panasnya juga,” jawab saya sambil memperlihatkan kemasan obat batuk tersebut.

“Ah.. saya nggak biasa minum obat batuk,” jawabnya lagi. “Tapi obat turun panas saya nggak punya bung.” kata saya lagi.

Saya dan Eri memang saling membiasakan diri dengan memanggil bung.

Saya memanggil dengan bung Eri dan diapun memanggil saya dengan bung Imung. Supaya kesannya muda dan patriotik kali ya… ?

Beberapa detik kemudian dia kembali berbicara kepada saya, kali ini dia menanyakan, “Bung anda pernah mengalami panas kayak gini nggak.”

“Pernah bung, saya pernah… waktu itu sekujur tubuh saya panas seperti direbus, dan nggak lama muncul benjolan-benjolan berwarna merah,” timpal saya lagi.

“Oh… kalo saya nggak, badan saya cuma panas aja,” sahutnya. “Kalo gitu saya minta obat batuknya sedikit aja bung,” tambahnya lagi. Saya pun menuangkan cairan obat batuk ke dalam sendoknya.

“Kalau nggak sehat buru-buru pulang aja bung,” saran saya kepadanya. “Iya sebentar lagi nih,” jawabnya.

Nggak berapa lama kemudian saya ijin kepadanya untuk pulang.

Itulah percakapan terakhir saya dengan Eri Supriadi, rekan kerja dan atasan saya di divisi ini. Divisi Multimedia Gateway. Karena keesok harinya beliau dipanggil Sang Khalik dalam usia yang masih muda, 41 tahun. Inalillahi wa inailaihi raajiun.

Rekan Oktora adalah orang pertama yang mengabari saya soal kepergian si bung yang pendiam itu hari Sabtu sekira jam tiga sore.

Empat tahun sudah saya berpartner dengan bung Eri di divisi ini dengan segala suka-dukanya. Kami berdua memang tipe orang-orang yang introvert dan nggak terlalu banyak omong dalam bekerja. Kami lebih menyukai duduk di tempat masing-masing dan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.

Setiap harinya pun kami jarang sekali berbicara untuk hal-hal yang tidak perlu. Paling kalau saya menanyakan sesuatu, biasanya ada pembicaraan.

Memang nggak enak buat banyak orang dengan suasana kerja seperti ini. Tapi buat saya dan si bung, menjalankan kondisi kerja seperti ini selama bertahun-tahun sudah terbiasa. “Yang penting hasil kerja, bukan omongnya,” begitu kata bung suatu kali kepada saya.

Dalam keseharinnya bung Eri merupakan karyawan yang sangat disiplin dan berprinsip. Setiap setengah delapan pagi dia sudah lebih dulu hadir di ruangan, meski office boy belum datang. Saya yang berusaha untuk datang lebih pagi dari bung Eri tapi selalu saja “dilibas” oleh kedisiplinannya.

Saya selalu geleng-geleng kepala setiap akan memarkir motor. Meski saya sudah berusaha datang sepagi mungkin, tapi motor Supra-X merahnya si bung pasti lebih dulu ada. “Wah nih orang berangkat dari rumah habis Subuh kali ya,” pikir saya.

Disamping itu bung Eri termasuk orang yang teguh memegang prinsip. Malah kadang-kadang saya melihatnya terlalu kaku dan egois. Tapi saya pikir, ah… tiap-tiap orang pasti beda isi kepala.

Pernah suatu kali kami saling berbeda prinsip. Hasilnya, selama sepuluh bulan saya dan bung Eri tak  bertegur-sapa. Ini kenyataan. Meski begitu dalam hal pekerjaan kami tetap bekerjasama.

Semua rekan-rekan di divisi ini mungkin tak percaya bahwa saya dan beliau pernah saling tak berteguran dalam jangka waktu yang cukup lama, walau kami duduk bersebelahan. Karena kami “pada dasarnya” adalah orang-orang yang tak banyak cakap. Jadi mereka anggap tidak ada apa-apa diantara kami. Itulah kenangan “terbaik” saya dengan si bung.

Di hari-hari terakhirnya, si bung sering berdiskusi tidak resmi dengan saya soal apa saja. Mulai soal agama, perpolitikan sampai kondisi di divisi ini. Di saat makan siang atau sarapan. Dia memang agak mengeluh dengan kondisi di divisi ini. Sebenarnya dia mau membantu kepala proyek Multimedia Gateway untuk membenahi keadaan ini, tapi Allah SWT keburu memanggil dirinya.

Di lain kesempatan, jika ada masalah dengan kerjaan, bung juga nggak segan-segan datang ke kantor meski itu hari libur atau hari besar. Walaupun kadang dalam keadaan badan yang tidak sehat dia selalu memaksakan diri untuk datang. Dalam hal kerjaan Bung Eri orang yang sangat bertanggungjawab dan setia kawan. He’s such man.

Namun, ada satu permintaan bung Eri yang saya belum penuhi. Yakni dia ingin sekali “tukar-pakai” sepeda motor dengan motor saya. Dua kali dia mengajukan permintaan itu. Namun dua-duanya belum saya penuhi.

“Bung, tukeran motor dong, saya pengen ngerasain motor yang 2-tak kayak punya bung Imung,” demikian pintanya.  “Jangan bung, motor ente kan masih baru, ntar kalo ada apa-apa saya nggak bisa gantinya. Kalo motor saya kan udah jadul,” jawab saya. Mendengar jawaban saya dia cuma tersenyum.

Dia beberapa kali juga meminta pendapat saya soal motor yang sesuai dengan ukuran fisiknya.

Itulah kenangan saya dengan Eri Supriadi, seorang sahabat dan juga guru. Tidak sedikit ilmu yang dia turunkan kepada saya dan teman-teman yang lain. Mudah-mudahan kemurahan ilmunya itu pula yang dapat memperlancar perjalanan beliau di alam kubur.

Bung, saya dan teman-teman tidak bisa memberikan apa-apa selain doa tulus dari hati yang terdalam dan ucapan selamat jalan. Tenanglah di alam sana. Di alam keabadian yang sesungguhnya.

Selamat jalan bung…  (*)

Iklan

Aksi

Information

3 responses

22 07 2008
ricka

Rest in peace pak’eri.. may Allah give you a beautiful place in heaven 🙂

23 07 2008
arien

Selamat Jalan Pak Ery, semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan diampuni dosa-dosanya. Amien

15 08 2008
prasasti

Selamat jalan sobatku, guruku……… semoga Allah mengampuni semua kesalahanmu dan engkau mendapatkan tempat yang paling indah di sisiNYA AMIEN…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: