Pengkhianatan ala Juiwo

7 08 2008

 “Et tu Brutus” Itulah ucapan terakhir kaisar Julius Cesar saat mencabut belati di dadanya yang ditancapkan Brutus, orang yang selama ini sangat ia percaya.

Menjelang Pemilu 2009, sekuel pengkhianatan Brutus menjadi drama yang paling laris di ranah  politik tanah air. Para penggiat parpol ramai-ramai meneriakkan “… dan kau Brutus” pada tiap orang yang dicurigai sebagai pengkhianat.

Tapi kisah ini tidak membicarakan sejarah kaisar Julio Cesar asal negeri Romawi itu atau ingar-bingar soal ekskalasi suhu perpolitikan nasional.

Namun kasus yang agak mirip-mirip bisa dijumpai di Juiwo, sebuah kerajaan yang terletak di planet Vovodin. Planet dari galaksi Metafora.

Berikut kisah singkatnya:

Rosewyn berdiri angkuh. Tugas mulia telah ia mainkan dengan baik. Para punggawa kongsinya, tersenyum dan mengangguk.

Kini tak ada lagi yang menghalangi Rosewyn untuk berlaku sesukanya. Satu persatu penghalang telah tersingkir.

“Sekarang tak ada lagi yang bisa mengatur-atur aku,” teriak Rosewyn bangga. Ia sudah hilang kesadaran dan mabuk anggur kemenangan. Sokongan besar dari kongsinya telah membutakan matahatinya. Rosewyn ditempatkan pada maqam tertinggi. Puncak ketenaran. Meski itu semu.

Punggawa yang loyal terhadap sang raja Antonius Cesare mencoba untuk merajuk Rosewyn agar santun berpolitik di negeri ini. Tapi perempuan muda itu tak menggubrisnya, ia bahkan menantang Dante yang menjadi guru spiritualnya.

Selama ini Dante mencoba memberi arah kepada Rosewyn agar tak keliru jalan. Sebab ia khawatir sewaktu-waktu Rosewyn akan tergelincir menjadi pribadi yang sombong. Namun kepongahan Rosewyn mengalahkan nasihat bijak Dante. Rosewyn tak ambil peduli.

“Saatnya kini menunjukkan siapa aku,” ucap Rosewyn.

“Mumpung belum ada yang bisa mengalahkan aku saat ini, aku harus menanamkan doktrin “semua akan butuh aku tanpa kecuali”,” sambungnya.

Syahdan, di Kerajaan Juiwo, Rosewyn memang satu-satunya punggawa putri yang tak tersaingi. Untuk sementara ia seolah menjadi “shelter” diantara puluhan punggawa yang saat ini makin tak jelas tugasnya. Sendiri Rosewyn berusaha menampilkan citra seorang gadis yang perfecto.

“Di tahta kerajaan Rosewyn merasa diatas angin, ia tidak punya pesaing” kata seorang punggawa yang terlihat duduk tak bersemangat. Mulutnya terus bergumam seakan tak percaya hal ini bakal terjadi.

Memang semenjak kedatangan laskar dari kerajaan Mugelo, keadaan rakyat di Kerajaan Juiwo menjadi tidak jelas. Mereka bisa datang dan pergi sesukanya. Rakyat yang tak bisa bersaing boleh tetap bertahan, namun harus rela diolok-olok dan menjadi warga kelas dua.

Di saat-saat penderitaan rakyat yang memuncak, Rosewyn berbalik arah. Ia mulai berkeberatan  menjadi bagian rakyat kerajaan Juiwo. Sebuah kerajaan yang tidak pernah dikenal di dunia antah-berantah.

Kultur Juiwo yang mengutamakan azas kekeluargaan dan kebersamaan perlahan hilang di benak Rosewyn. Kini Rosewyn mereinkarnasi dirinya menjadi sosok yang tak lagi peduli pada pilar-pilar kebersamaan. Ke-juiwo-annya mulai tergerus euphoria Kerajaan Mugelo.

Tapi rakyat Juiwo maklum, karena awalnya Rosewyn memang selalu berusaha tampil dengan gaya beda. Ia terlalu memaksakan diri menjadi bagian dari medium-class rank, meski semua tahu kondisi sesungguhnya. Ia tak lebih dari warga biasa — yang kebetulan berada di lingkaran kekuasaan—tapi mencoba untuk tampil anggun tanpa perlu rival.

Perilaku Rosewyn memuncak saat secara frontal menolak memperpanjang relationship contract dari sang guru spiritualnya Dante. “Ah tanpa kau, aku lebih tenar kok, jadi aku tak memerlukan engkau lagi,” hardik Rosewyn saat Dante mencoba memberikan nasihat agar ia kembali menjadi pribadi yang santun.

Jika dinasihati Dante, Rosewyn selalu sadar akan kekeliruan dirinya, dan berusaha menjadi manusia yang bijak. Namun sesungguhnya hanya lips service saja. Setelah itu Rosewyn kembali ke sifat aslinya.

Melihat ulah Rosewyn yang selalu “mengancam-ancam”, Dante mulai tampak patah arang. Ia mulai kehilangan kesabaran. Namun Dante juga tidak mau kredibilitasnya dihinakan oleh Rosewyn di kerajaan ini. Ia berusaha sabar meski kadang-kadang emosinya juga memuncak.

“Guru, mengapa Rosewyn menjadi congkak dan berkhianat kepada kita,” tanya Filaz, seorang punggawa yang berkepala agak botak.

“Tak apa-apa, keangkuhan Rosewyn tak kan lama, suatu waktu dia akan merasakan seperti apa yang kita rasakan sekarang,” jawab Dante saat ditanya seorang punggawa atas ulah Rosewyn.

“Memang harus ada yang menjadi penyeimbang buat Rosewyn, ia tidak bisa didiamkan sendiri menjadi penentu arah di kerajaan ini. Mesti ada rivalitas, biar perjalanan kerajaan ini menjadi dinamis,” lanjut Dante.

“Biarkan saja, biarkan dia menikmati euphoria yang sesaat ini. Karena menurut berita tak lama lagi sang raja akan mengambil punggawa putri dari kerajaan lain. Ini bagus buat keseimbangan hidup. Itu bagian dari hukum alam,” tambah Dante.

“Amiin… semoga ini tak akan lama”, jawab serentak para punggawa yang duduk melingkar mengelilingi guru Dante.

Dahulu sebelum Ettchy, panglima kerajaan Juiwo wafat, ia pun sudah berniat akan mendatangkan seorang punggawa putri untuk meredam kepongahan Rosewyn. “Sekaligus untuk mewartakan kepada khalayak bahwa sudah saatnya ratu Rosewyn sadar diri,” kata Etcchy waktu itu. Tapi sayang sebelum terlaksana keinginannya, panglima sudah lebih dahulu wafat.

Namun, mereka —para punggawa— yakin soal perputaran roda kehidupan. Bisa saja sekarang Rosewyn menjadi buah bibir di Kerajaan Juiwo, namun siapa yang tahu nasib “Il Diva” di masa depan. Apakah ia masih bertahan di lingkaran kerajaan atau terlempar karena “pengkhianatan” kepada rakyat Juiwo? Kita lihat nanti. (*)

Iklan

Aksi

Information

4 responses

8 08 2008
no name

apa iya Rosewyn sejahat yg dikisahkan??
sadis sekali .. seakan si Rosewyn sudah melakukan kejahatan besar…

semoga orang pengganti itu cepat datang, biar Dante dkk punya orang yang bisa mereka sebut sahabat bukan musuh.. dan semoga tuhan memberi balasan yang setimpal atas perilaku rosewyn yang sangat jahat..

tuhan pasti maha tahu sejahat apa dia..

9 08 2008
imung murtiyoso

Terima kasih miss noname untuk kepeduliannya terhadap Rosewyn, tapi sayang cerita ini merupakan bentuk halusinasi sang penulis. Tidak ditujukan kepada seseorang atau menyasar kemana-mana.

Anyway, miss noname berhak dan boleh mempersepsikan tulisan ini dari sudut-pandang miss noname. Dan setiap orang punya cara yang berbeda dalam menilai isi tulisan ini.

Is there any relation between miss noname with Rosewyn?

But thanks for commenting this rubbish article. –Tabik–

9 08 2008
amin

ya semoga kelak dante dkk bisa hidup tenang di kerajaan juiwo tanpa rosewyn yg jahat.. amin..

10 08 2008
imung murtiyoso

betul miss noname, upss… maaf maksud saya pak amin,

tapi sekali lagi, kisah ini merupakan rekaan dan imajinasi sang penulis sendiri, namun bisa saja dijadikan “ibrah” buat semuanya. buat saya, miss noname ataupun pak amin sendiri.

===

but i don’t know why you have a great enthusiasm for responding to this “mambo jumbo story”.

…and for miss noname or mr amin, you could change your name as you pleases.

thanks for giving me a little terror. nevermind i like it very much. – Tabik –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: