Howdy mudik, i’m coming…

4 09 2008

Mendekati lebaran adalah saat-saat dimana gue banyak merenung. Merenung soal dosa yang udah diperbuat? Bukan. Jadi ngerenungin apaan dong? Ngerenungin soal udah nggak punya kampung halaman lagi buat mudik.

Gue kayaknya enggak sebahagia teman-teman gue yang lain. Maaf nih coy, ente sebenarnya lagi ngomongin apaan sih?

Ini soal mudik. Emang kenapa? Elu kan tiap tahun juga mudik. Iya bener sih, tapi kan ke kampungnya bini gue. Nah itu udah kejawab masalahnya, terus apa lagi yang elu pikirin?

Elu mestinya tahu dong, biarpun gue lahir dan gede di Jakarta tapi kan tetap masih ada darah jawa –meski nggak berwarna biru– yang buat warganya berhukum wajib mudik saat lebaran. Tiap tahun sepanjang hidup.  But me and my family.

Konon ritual ‘buang-buang uang’ yang dijalani mostly oleh orang Jawa ini, baru muncul sekitar awal tahun tujuh puluhan.

Yang gue tahu sih, awalnya mereka menggunakan motor secara berkelompok. Secara bokap gue dan poro sedulur lanang juga pernah ngelakuin mudik dengan mongtor sekitar tahun 1970-an. Gue sendiri kaget waktu liat foto-foto mereka yang lagi ngaso di Alas Roban. Jadi tren turing sesungguhnya udah pernah dilakoni oleh para mudiker sejak hampir setengah abad lalu.

Gue dan keluarga harusnya juga wajib menyambangi mbah-mbah gue di Jawa sono buat silaturahmi. Tapi disebabkan mbah-mbah gue udah pada wafat –baik dari bokap maupun nyokap– jadinya gue udah nggak punya kampung halaman lagi buat mudik.

Sedang dari tahun 1980 nyokap-bokap udah jadi permanent resident di Bekasi. Ya, akhirnya mudiknya ke Bekasi aja. Yah… itu mah bukan mudik namanya, itu namanya piknik.

Mudik menurut gue adalah suatu eksodus masyarakat kota ke kampung halaman mereka masing-masing dengan menggunakan semua jenis moda transportasi, baik pesawat udara, kapal laut, kereta api, juga kendaraan pribadi. Enggak cuma itu, segepok duit dan sekoper pakaian buat sanak sodara di kampung juga nggak bakal ketinggalan.

Gue mudik terakhir kali kira-kira 20 tahun lalu, waktu itu yang masih hidup adalah mbah putri gue yang tinggal di Madiun. Perjalanan mudik terakhir dengan berkereta ekonomi Matarmaja (Malang-Blitar-Madiun-Jakarta) dari Gambir ke Madiun sungguh pengalaman yang mengesankan.

Walaupun 13 jam ‘terpenjara’ di dalam kereta, tapi gue, kakak dan adik gue sangat menikmati perjalanan ke kampung halaman nyokap gue itu. Bagaimana enggak enjoy, di dalam kereta yang panas dan sesak itu, semua penumpang justru saling berkenalan dan berbagi penganan. Nggak ada tuh yang menampakkan muka sedih atau gelisah. Mereka semua hepi-hepi aja. Pokoknya spirit never dies.

Bertemu sesegera mungkin sanak sodara kayaknya prioritas utama, walau dengan cara apapun. Tersiksa selama 13 jam di dalam sepur juga nggak dihiraukan, yang penting bisa sungkeman sama orang tua. Pikiran gue juga kayak mereka waktu itu.

Kalo gue sendiri, pulang mudik ke Madiun banyak tujuannya. Pertama ya itu, pengen ketemu sama mbah putri gue yang tinggal seorang diri. Kedua, gue juga pengen ketemu sama guru dan temen-temen gue sewaktu di TK dulu.  FYI,  dulu gue sekolah taman kanak-kanak sampai kelas 1 SD di kota brem ini. Terakhir yang nggak terlewat adalah puas-puasin makan pecel Madiun yang enaknya tanpa tanding, tanpa banding.

Eh.. ini bener loh, meski banyak jenis pecel, tapi pecel Madiun emang nggak ada duanya. Top markotop deh. Bayangin, tuh bayangin aja… tiap pagi gue mesti ngabisin dua pincuk besar nasi pecel. Ngomong-ngomong gue sebenernya doyan apa nggragas sih.

Begitu deh “a glimpse of old story over my joyful mudik” dua dasawarsa lalu.

Nah sejak mbah putri gue wafat, praktis gue sekeluarga nggak lagi ngadain ritual tahunan ke sana. Ada sih beberapa famili yang rumahnya nggak jauh dari rumah mbah gue, tapi kan nggak mungkin kalo gue mudik ke rumah mereka.

Makanya kalo gue denger temen-temen gue pada mau mudik, gue jadinya sedih. Bukan kenapa-kenapa, tapi ya agak ngenes aja, orang jawa kok nggak punya kampung buat mudik. Udah gitu bokap gue yang pensiunan juga nggak kepikiran pulang ke kampung buat mbangun deso. Dia malahan betah tinggal di Bekasi. Kalo kata orang Betawi, gue bisa-bisa bakalan keilangan obor nih alias missing link.

Tapi “kekalahan ritual mudik” gue, sedikit terobati karena istri gue yang Wong Cerbon kebetulan masih punya kampung dan orang tua yang komplet. Jadinya walau nggak jauh-jauh banget sekarang tiap tahun gue juga bisa mudik kayak yang lain. Intinya sih gue bisa cerita soal mudik lagi. Howdy mudik i’m coming… (*)

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: