Post-lebaran syndrom

21 10 2008

Meski lebaran sudah hampir sebulan terlewati, tapi penyakit post-lebaran syndrom masih saja menggerogoti tubuh ini. Penyakit ini memang menghinggapi hampir seluruh manusia Indonesia, khususnya pasca Idul Fitri kemarin hari.

Biasanya yang gampang dihinggapi adalah orang-orang yang pada saat merayakan lebaran merasa keenakan libur. Jadi sampai saat waktu kerja tiba, pengennya masih serasa liburan. Atau cuti berasama yang diberikan pemerintah dirasa masih kurang. Jadinya hasrat cuti bersama ingin diperpanjang sendiri.

Saya sendiri koq ya bisa-bisanya juga terkena wabah penyakit ini. Hampir dua minggu sudah masuk kantor, tapi bawaannya kayak masih suasana lebaran aja. Masih ingin bertemu sanak-keluarga, makan yang enak-enak dan masih kepengen banget gojegan sama anak di rumah. Itu juga yang menyebabkan lama sekali saya nggak bercerita di blog ini.

Ditambah lagi akan adanya satu perhelatan di rumah orang tua, yakni acara pernikahan kakak saya di penghujung bulan ini. Otomatis kumpul sedulur dan makan yang enak-enak akan digelar kembali.

Syndrom ini juga disebabkan karena adanya udara panas. Iya, suhu udara yang kelewat panas yang membalut kota Jakarta dan kota lainnya di Jawa belakangan hari ini, setidaknya bisa membuat kulit terasa terbakar sang surya. Karena itu, jadinya mau kemana-mana saya malas, takut kulit gosong dan dehidrasi. Alah… apaan sih.

Dan yang memperburuk penyakit ini adalah banyaknya todongan dari teman-teman di kantor yang menanyakan “buah-tangan” dari kampung halaman. Kebanyakan yang nanyain oleh-oleh sih mereka yang nggak pulang mudik atawa nggak punya kampung. 😛

Saya juga nggak bisa mengelak dari pertanyaan membingungkan ini. Lah wong walau saya juga pulang kampung, tapi kan buat saya hukumnya sunah ngebeliin oleh-oleh.  Artinya, kalau ada duit saya beliin, kalau nggak punya ya.. wassalam aja.

Sejatinya, keinginan saya buat membahagiakan teman-teman sih sangat menggebu, tapi kalau tidak diikuti kondisi dompet yang mumpuni hasilnya sama juga bohong. Paling cuma bilang, maaf saya ngga bisa beliin apa-apa. Abisnya waktunya mepet sih. BTW, Yang mepet waktu apa dompetnya mas?

Buat orang-orang yang mudik wajib hukumnya merawat isi kantong. Tahu sendiri lah… biasanya mereka harus berjibaku menahan syahwat konsumtif selama musim lebaran. Karena kalau pengeluaran terlalu longgar bisa dipastikan saat tiba kembali ke ibukota mereka akan meringis karena nggak punya pegangan buat satu bulan kedepan.

Eit… tapi entar dulu, cerita ini cuman diperuntukkan buat blue-collar workers seperti saya. Juga buat yang mudik berdesak-desakan dengan kereta ekonomi, mudik bareng yang diadakan partai-partai politik. Atau pulang kampung yang dimodali oleh perusahaan jamu. Dan last but not least, kepada saudara-saudaraku yang dengan gagah-beraninya bermudik pp dengan sepeda mongtor bersama keluarga.

Nah dari ketiadaan isi dompet yang mencukupi sampai hari ini, maka derita post-lebaran syndrom yang saya alami kelihatannya masih sulit dijinakkan, setidaknya sampai akhir bulan ini.  Itu karena-sebab kehampaan isi kantong. Percaya nggak? (*)

Iklan

Aksi

Information

2 responses

25 10 2008
femi adi soempeno

hahahaha
setudju mas!
sampe sekarang, aku kok ya masih maless …
(jangan-jangan memang pemalas)

28 10 2008
imung murtiyoso

Iya mas adi,
dompet pasti dodol-duwel pasca lebaran.
imbasnya bikin malas ngapa-ngapain
wah indonesian banget ya mas 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: