Masih ada orang baik di Jakarta

17 03 2009

Kejadiannya sore kemarin (16/3), saat gue pulang cari sesuap nasi segenggam berlian :).

Menjelang maghrib gue yang pulang dengan motor udah ceritanya udah sampe kampung Bulak, Klender. Mengejutkan tiba-tiba tali kopling motor gue putus.

Gue bingung, kenapa nih tali kopling tau-tau putus, padahal suasana di jalanan udah temaram karena menjelang malam. Yah… jalan satu-satunya mesti didorong nih motor.

Tapi dorong sampe mana? Wong, kejadiannya di Klender, sedang rumah gue di Bekasi. Udah gitu arah pulang jelas nggak ada “kehidupan”. Pasalnya, pararel sama rel kereta. Udah gitu mana mungkin ada bengkel yang masih buka.

Kayaknya daripada mikirin yang kayak gitu, bakalan gue nggak nyampe rumah. Terpaksa dengan sisa tenaga yang ada gue tuntun tuh si kuda besi. Dapat seratus meter gue istirahat sebentar. Jalan lagi. Gue mikir, kalo gue dorong sampe rumah bisa-bisa nyampe jam sembilan malam.

Lagi asyiknya gue ngedorong motor, ujug-ujug ada suara dari belakang yang menegor gue. “Mas motornya kehabisan bensin ya,”? tanyanya.

Gue langsung muterin kepala gue ke belakang. Ternyata ada seorang anak muda berjaket kulit, rambut gondrong, bercelana jins sedengkul yang robek-robek. Dia pake motor dua tak yang bunyinya lumayan manasin kuping. “Enggak nih cuma tali koplingnya putus,” jawab gue sambil kasih tampang sangar juga.

“Di sini nggak ada bengkel yang bang,”?  Kali ini gue yang nanya. “Enggak ada mas, udah pada tutup, ada paling di Buaran,” sahutnya. Di Buaran? Wah bakalan gue ngedorong lebih jauh lagi nih.

“Kalo gitu biar saya dorong aja, udah mas naikin motornya aja,  saya yang ngedorong” pintanya.

Tanpa tanya lagi langsung gue nyemplakin tuh motor sambil dalam hati berpikir, gue bakal dipalak berapa nih ditolong sama anak muda ini.

Baca entri selengkapnya »





Akhir Kisah Republik Jaim

12 03 2009

Sudah dua tahun Republik Jaim berdiri. Sepanjang usia itu pula nasibnya tak beda seperti satu tahun lalu.

Republik yang awalnya diharapkan menjadi mercusuar kebanggaan sang dewa kahyangan, sampai detik ini langkahnya tak tentu arah.

Ada yang salah dengan republik ini?

Jelas, meski tidak bisa disebutkan apa penyebabnya namun republik yang usianya seumur jagung ini jalannya sudah terseok-seok, kalau tidak bisa dikatakan terbentur tembok kokoh.

Friksi tajam antar-top manajer telah melemahkan kekuatan republik ini. Doa yang dipimpin seorang rohaniwan ternama saat berdirinya republik ini juga tak banyak menolong. Sudah tak ada lagi kesatuan dalam kata dan pendapat diantara para pembesar di negeri ini.

Presiden Republik Jaim terlalu pede dengan apa-apa yang telah diperbuatnya. Dia seolah tak butuh orang lain. Kalau kenyataannya begitu, anda salah besar bung presiden. Anda tidak bisa bekerja sendiri walau anda pintar. Anda pasti butuh orang lain. Entah orang-orang yang diatas maupun yang levelnya di bawah anda.

Kembali kita harus berkata jujur bahwa di republik ini tak ada yang dijadikan panutan. Begitu banyak rakyat yang berotak encer disini, namun mereka cukup bangga dengan kepintaran yang sebenarnya relatif. Dan ironisnya mereka cuma –maaf– jago kandang.

Masing-masing penduduknya juga bebas berlagak dan bekerja sesukanya. Di republik ini setiap orang bebas menentukan jam kerja, kapan harus masuk dan pulang kerja. Terserah. Parahnya lagi mereka juga menuntut kelebihan tiap-tiap jam itu.

Sang presiden juga semakin nggak “mengenal” siapa-siapa bawahannya. Di level menengah alias para manajer juga nggak bisa diharapkan, mereka nggak dapat membaurkan rakyat. Terlalu banyak diskriminasi. Dua kelompok di republik ini semakin berasyik-masyuk dengan “kerjaannya”.

Ada yang sibuk mengumbar berita gosip ala sinetron. Ada yang tetap “aman” menerima order kerjaan dari pihak luar, meski dihadapan langsung sang presien. Ada lagi yang tiap harinya mondar-mandir nggak karuan. Waduh… pokoknya cilaka 12.

Presiden yang awalnya menggebu-gebu memimpin republik muda ini, belakangan justru menghadapi dilema. Dia tak berani berargumen frontal dengan rakyat. Banyak laporan terkait kinerja para menteri yang “tong kosong nyaring bunyinya” juga tak diindahkan.

Baca entri selengkapnya »





Mugedigan goes to Citarik

2 03 2009

171_171Judulnya kok terkesan mau nyama-nyamain grup band asal Inggris, Frankie Goes to Hollywood. Jelas beda banget. Yang satu tujuannya mungkin ke Hollywood, sedang satunya lagi cuma sekedar buat gagah-gagahan aja.

Memang sejak munculnya grup Frankie Goes to Hollywood di tahun 80-an, banyak grup band yang memakai kalimat sebagai nama band-nya, misalnya saja Michael Learns to Rock. Atau buat ukuran lokalnya adalah grup asal Bandung, Everybody Loves Irene.

Sengaja gue ngasih judul kayak gitu supaya kesannya rada keren aja. Tapi gue asli nggak ngomongin soal musik, gue cuma mau sedikit cerita soal cara jalan-jalan Mugedian.

Siapa dan apa sih Mugedian itu?

Mugedian adalah sekelompok orang yang tiap harinya bergelut dalam hal isi-mengisi konten berita di sebuah portal milik sebuah BUMN. Nama resminya nya sih divisi Muge. Kepanjangan dari Multimedia Gateway. Nggak nyambungkan?

dscn3680Kata sahabat gue, katanya sih, Muge itu cuma buat memudahkan untuk melafal aja. Tapi akhirnya di luaran, malah banyak yang memelesetkan Muge jadi muke gede atau mulut gede. Alah… whatever you say aja lah.

Akhir pekan lalu ceritanya divisi ini pengen mempererat seluruh personelnya dengan mengadakan outbond. Lokasi dipilih Citarik. Alasannya, disana buat outbond cukup representatif. Ada trekking, camping ground, off-road, paintball juga ada. Dan pastinya rafting alias arung jeram.

Guna memenuhi amanat kepala proyek Muge, maka pada Sabtu kemarin diberangkatkanlah sejumlah 20 jiwa menuju Citarik, Sukabumi.

Acaranya sendiri digelar selama dua hari (Sabtu/Ahad) berlabel “Mugedians Adventure 2009”. Wah tagline nya aja keren banget. Apalagi kalo dapat kucuran dana dari sponsor, bakalan ngalahin event yang diadakan oleh sebuah perusahaan rokok tuh.

Btw, kayaknya kalo gue ceritain bakalan panjang dan pada bosen bacanya, ada baiknya liat aja deh beberapa gambar yang gue tampilin. Dan silakan teman-teman mengira-ngira gimana serunya acara ini. (*)