Dialog di sebuah perkebunan karet

16 10 2009

Syahdan di pulau Semanggo, di timur benua Atlantis terdapat area perkebunan karet yang luasnya tak sampai 10 hektar persegi.

Pulau Semanggo dihuni tak lebih 20 buruh penyadap karet serta seorang mandor yang gayanya bikin sengak orang lain yang melihatnya.

Mandor ini dulu juga sebenarnya adalah supervisor buat para penyadap karet, karena sesuatu dan lain hal, maka mandor lama mengundurkan diri. Nah, mandor baru ini yang menggantikannya. Namanya mandor Gadang.

Pada suatu siang saat para buruh karet makan siang ala kadarnya, sang  mandor yang tampak jumawa mendatangi mereka dan terjadi percakapan sebagai berikut:

Mandor: Semua buruh kumpul disini, ada warta bahwa perusahaan berkenan memberi kita insentif buat dua bulan. Buat yang loyal dan dekat dengan aku, maka insentif 5 cent sebulannya,  jadi 10 cent buat dua bulan.

Buruh : Bagaimana ukuran loyal dan enggak loyal itu bang mandor?

Mandor : Seseorang yang dikatakan loyal adalah yang selalu dekat dengan aku, terutama mereka-mereka yang sudah punya hubungan kerja dengan aku di tempat sebelumnya. Aku akan tutup mata terhadap pencapaian mereka di perkebunan ini. Jelek-baik adalah mereka bawaan aku.

Buruh : Nggak bisa begitu dong bang mandor, meski saya bukan bawaan bang mandor tapi saya udah lama mengabdi disini bertahun-tahun. Masak kami cuma diberi 3 cent.

Mandor : Ah… persetan dengan alasan kalian. Itu adalah keputusan aku. Aku yang mengambil kebijakan dan keputusan. Kalian terima saja dan tutup mulut. Dan perlu diingat, kalian bukan dari “bagian kami”, sehingga kalian patut kami nomorduakan.

Buruh : Jangan begitu dong bang mandor, kami ini bekerja lebih baik dari bawaan bang mandor, kami datang lebih awal dan langsung bekerja. Beda dengan bawaan bang mandor yang datang siang dan boleh pilih-pilih jadwal sesukanya. Belum lagi punya kegemaran ngobrol ngalor-ngidul  kayak siaran infotainment.

Mandor : Walau kerja kami seperti yang engkau sebutkan tadi tapi kami punya hubungan batin yang kuat. Malah sangat kuat, sehingga siapapun yang tidak sejalan dan sepakat dengan kami, maka orang-orang tersebut akan kami singkirkan.

Buruh : Tapi kan semua kami semua hanya pekerja penyadap karet, cuma bang mandor yang menjadi penguasa disini. Meskinya insentif itu juga diberikan sama rata. Kalaupun mau buat hitung-hitungan, bang mandor bisa dicek hasil kerja mereka. Siapa yang lebih banyak menyadap karet di kelompok ini. Siapa yang cuma pandai berlagak saja.

Mandor : Sudah-sudah… saya nggak mau debat kusir sama kalian. Harusnya kalian bersyukur diberi insentif. Apa mau saya tarik kembali uang itu?

Buruh : Ya… bukan begitu bang mandor… Masak ada penyadap bau kencur juga dibayar lebih tinggi dari kami. Gimana itung-itungannya bang mandor? Bang mandor harusnya adil, jangan ada diskriminasi seperti itu. Wong semua sama-sama kerja, dan tugas kami adalah penyadap karet, bukan peragawan atau peragawati yang kerjanya mondar-mandir nggak karuan.

Mandor : Ssstttt… sudah jangan berisik. Perlu kalian ingat, saya memang menerapkan sistem like and dislike bukan punish and reward, jadi saya sengaja memberikan insentif dengan cara itung-itungan yang ngawur. Karena pada prinsipnya kalian bukan bagian dari kami.   Sudah.. saya mau keliling dulu. (*)

Iklan

Aksi

Information

2 responses

30 11 2009
Mansye

Memang hidup itu memang ga harus seperti yang kita mau, ada kalanya kita setuju dan kadang kita tidak setuju terutama berkenaan dengan kepentingan kita. kita akan dengan penuh semangat bilang setuju saat kita diuntungkan, tapi kita akan terus mengeluh saat kita “merasa dirugikan” padahal semua alasan telah di kemukakan dan didengar , juga dapat di debat. Anehnya memang ciri negeri bedebah, dan dialog antara penyadap dan mandor ada benang merahnya yaitu sifat pengecut dan hanya ingin mendengar hati dan pemikirannya sendiri. Setuju saat dikatakan bahwa like n dislike. tergantung kedekatan…bagaimana orang lain akan tau peran dan kegiatan seseorang saat kegiatan tersebut hanya terkesan lebih dimata sendiri. Intinya semua bisa didiskusikan dan setiap hasil diskusi harusnya jadi kesepakatan. belajar mendengar dan balajar memahami memang agak sulit kecuali kita ingin merubah mainset kita dari introvet menjadi extrovet. Peace….

23 12 2009
imung murtiyoso

Ada apa dengan tulisan saya bung Mansye? Saya hanya berusaha mengeluarkan uneg-uneg didalam tempurung kepala saya, dan tidak berusaha menyindir siapa-siapa. Apalagi dengan sikap yang nyinyir.

Terima kasih bung Mansye atas pendapatnya. Siapapun boleh dan halal berbeda berpendapat disini. Itulah gunanya blog. Thank a lot.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: