Hodgson, Belajarlah dari Shankly

14 10 2010


Musim ini mungkin merupakan fase terburuk yang dialami Liverpool FC (LFC). Betapa tidak, dari tujuh laga yang sudah dilakoninya The Reds hanya sanggup memetik enam poin. Kalah dari Manchester City dan Manchester United mungkin tak begitu mengejutkan, tapi ditekuk tim promosi Blackpool benar-benar mengherankan. Kemenangan mereka baru sebiji, itu pun diperoleh dari klub debutan West Bromwich Albion dengan gol semata wayang. Sisanya bedu alias seri. Apa mau dikata, The Reds pun terlempar ke posisi 18 di zona degradasi yang selama ini dianggap mustahil buat tim-tim berjulukan The Big Four.

“Inilah awal musim yang sangat buruk, sebuah start yang tak pernah bisa kami bayangkan,” kata sang manajer, Roy Hodgson. “Ini membuat kami sangat tidak senang tapi kami harus menerimanya bagaimana pun pahitnya.”

Alih-alih ingin mendongkrak kinerja Steven Gerrard cs, pelatih gaek yang pernah menangani klub Inter Milan dan Fulham itu justru membuat Si Merah kehilangan ruhnya. Selama tujuh pekan, tak ada match yang betul-betul enak buat ditonton. Tak ada pertunjukan khas Liverpool yang biasa mengeksplorasi kekuatan lini tengah dengan pola 4-2-3-1. Kepergian sang dirijen Xabi Alonso dan si monster Javier Mascherano meninggalkan titik lemah yang belum pulih hingga kini.

Memang, sang manajer lebih menyukai taktik “to kill and end the game”. Dengan formasi 4-4-2, dia ingin selekas mungkin melesakkan gol ke gawang lawan dan memenangkan pertandingan. Namun pola ini sangat berisiko di sektor tengah dan barisan belakang. Hodgson berargumen bahwa metode tersebut berjalan mulus saat dia menangani tim Halmstads, Malmo, Orebro, Xamax, timnas Swiss dan Fulham.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa Liverpool yang begitu perkasa di musim-musim lalu, tiba-tiba menjadi tim “salah asuhan”. Beberapa alasan coba dilemparkan, baik oleh pemain, eks-pemain, atau para liverpudlian. Mereka menganggap cara melatih Hodgson, yang mengubah pola permainan, tidak cocok buat tim sekelas Liverpool. Dulu para pemain sudah terbiasa enjoy dengan skema yang dibawa Rafael Benitez. Dengan pola 4-2-3-1 Liverpool sanggup mengatasi tim-tim yang paling ofensif sekalipun.

Ada juga yang menyebutkan kalau hasil buruk ini disebabkan ketidakbecusan Tom Hicks dan George Gillet dalam mengelola klub yang mereka beli 2006 lalu. Jangankan menggelontorkan duit buat menyegarkan materi pemain atau merehab stadion Anfield, si duo yankee malah menunggak utang 351 juta dolar. Rafa pun akhirnya mundur sebagai pelatih setelah dicap “gagal” memulihkan kedigdayaan The Reds. Sebuah cap yang sebetulnya sulit dilekatkan pada Rafa karena keberhasilannya membawa pulang piala Liga Champions pada 2005.

Hengkangnya beberapa pemain pilar juga ditengarai sebagai awal keterpurukan Liverpool musim ini. Sebut saja kepergian Xabi Alonso yang kini hijrah ke Real Madrid atau Javier Mascherano yang “kebelet” ingin bergabung dengan kompatriotnya di Barcelona, Lionel Messi.

Selepas kepergian beberapa pilar tersebut, Hogdson segera mendatangkan beberapa pemain “jaminan mutu”. Maka datanglah Joe Cole, Milan Jovanovic, Christian Poulsen, Raul Meireles, Paul Konchesky, Daniel Wilson, Jonjo Shelvey dan kiper Brad Jones untuk merumput di Anfield. Secara “head-to-head” seharusnya materi pemain The Reds bisa mampu bersaing dengan tiga anggota The Big Four lainnya (Chelsea, Manchester United dan Arsenal).

Baca entri selengkapnya »