Turing perdana "Acakadul Bikers" ANTARA Cibening

19 02 2007

Tabik bros,

Ide awal ngumpulin anak-anak kompleks ANTARA Cibening, sebenarnya murni dari gue, karena tiap hari di ‘jamblang cafe’ yang dilihat cuman pada ngobrol nggak ada juntrungannya.

Pikir gue, gimana kalo anak-anak dikasih “hiburan” jadi nggak melulu nongkrong jadi kuncen pohon jamblang (yang waktu itu belon ditebang) melalui bikers brotherhood ke Puncak. Dari pada tuh motor cuman dipake tiap hari buat bolak-baik kantor-rumah, ama buat ngapel malam minggu doangan.

Satu, dua, tiga … 10 anak kayaknya satupun nggak ada yang nolak. Mereka sepakat semua zonder interupsi: setuju mas … (gini-gini gue masih dihormati dipanggil mas). Wah ini kayak anggota DPR/D aja yang kompak rame-rame nolak revisi PP 37/2006. Buat tunjangan kompak bro.

Sekarang tinggal cari tempatnya. Nggak mungkin dong jalan-jalan pake motor tapi nggak punya tujuan. Selain bikin masuk angin juga pastinya ngabisin bensin, belum lagi pulangnya yang bakal diurut ama dikerokin.

Untungnya, salah satu jebolan kompleks ANTARA Cibening, Indra Fatahillah keliatannya bisa menampung aspirasi kita semua. Indra atau Indro atawa panjul –panggilan yang terakhir cuma buat orang-orang tertentu macam gue gitu loh– adalah satu-satunya alumni Cibening yang punya representative guest house di daerah Cisarua.

Standar hidup “sang philanthropist” emang sudah mapan dan mumpuni dibanding kita-kita. Di kantornya –di sebuah stasiun tv swasta– juga punya jabatan yang cukup ciamik. Produser bro! Nggak heran deh kalo si Indro ini kenal banyak sama orang-orang top. Mulai Tukul Arwana sampai ke level menteri.

Selang dua hari gue coba kirim email ama dia. Isinya biasa, say hello, tanya kabar ini-itu, gimana kabar keluarga. Pas ujung-ujungnya tertulis: bros di Cibening nih pada mau turing ke puncak, tapinya nggak punya tujuan. Boleh nggak kita numpang di vila barang semalem aja.

Nungguin jawaban email bikin gamang. Kuatir aja, apa bisa bro Indro bisa ngelulusin tuh permintaan bros di Cibening. Syukur kalo dikasih … Kalo ditolak? Gimana harus ngomong sama anak-anak yang udah gue “dongengin” kemarin. Touche …!

Nggak sampe dua hari jawaban Indro udah nongkrong di inbox email gue. Isinya: dia setuju banget dan agar acara ini disegeraken dan tolong ditunjuk kepala suku-nya. Karena hak preogratif ada ditangan gue, langsung tunjuk bro Andri buat PO-nya. Dari hasil catat dan tanya, hasilnya sama kayak itung-itungan kemaren 10 orang termasuk boncengers yang berkenan ikut turing perdana ini.

“Ada 10 orang mas yang mau ikut,” kata Andri yang sifatnya terpuji ini sembari kasih itu rekapan nama anak-anak. “Kerja bagus, siapin fisik-mental dan jangan juga lupa duit buat makan” jawab gue sambil ngupasin kacang kulit gope’an di warung Iyus Padang.

Jadi juga berangkat

18 Desember 2006 pagi, di bawah pohon jamblang, persis di depan warung mbah Marto udah para ngumpul tuh punggawa bikers. Karena nggak punya mailinglist kayak yang di Internet, jadi kita namain untuk sementara “acakadul bikers”. Nggak pake kata community.

Starting point dari Cibening jam 10.00 wib. Acara pelepasan dilakukan sesepuh ANTARA II Bapak Supriadi, disaksikan segenap keluarga dan handai-taulan. Dengan niat tulus-ikhlas maka diberangkatkanlah kelompok turing (klotur) perdana dengan harapan kegiatan ini akan jadi sustainable program. (keren banget dah bahasanya).

Perjalanan ke tujuan sangat membosankan, kalau tidak dibilang menjengkelkan. Waktu yang harusnya ditempuh dua jam molor sampai lima jam. Tanya kenapa? Selain banyak hambatan (ini susah banget ngebedain sama bingung), ternyata rute yang ditempuh beda-beda. Yang satu lewat Pondok Gede, lainnya lewat Kalimalang. Belon lagi yang mampir dulu ke bengkel buat pasang spion ama ganti oli. Jadi tepat banget tuh dikasih nama “acakadul bikers”.

Yang rada bisa dibikin alasan adalah mau datangnya presiden Bush ke Bogor. “Jalan banyak razia,” kata Engki. Kata Irwan lain lagi, “Busyet akses ke kota Bogor banyak yang ditutup sama polisi,”. Andri bilang, “Kita masuk ring 1 nih, banyak Paspampres”. Pokoknya banyak banget alasan padahal sebenernya sih kebanyakan ngaso. Kalo diukur-ukur waktu segini mestinya udah sampe ke Cirebon. Tapi ga papa lah namanya juga pemula dan nggak ngejar setoran.

Pas bedug Ashar nyampe deh di vila Laudza. Badan-badan bau keringet pada rebahan, ngegelontor di teras sambil nungguin kopi yang lagi dimasak. Sayup-sayup bro yang ngorok udah mulai terdengar, nggak bisa dibedain suara ngorok ama suara… (apa ya? suara beruang kali).

Jam lima sore udara udah mulai dingin. Acara bebas. Ada yang main bola nggak pake baju (tapi masih pake celana). Ada yang nyantai di ayunan (maklum waktu kecil nggak pernah sekolah di TK), yang di dalam teriak-teriak main play station. Pastinya seru banget. Nikmat memang … wong gratis. Tambah seru kalo ada kaum hawa yang mau nemenin, tapi sayangnya nihil.

Ba’da Maghrib makan malem disiapin super chef Hendra dan staf kitchen cabinet, Dian. Semua pada ngelingker di meja pendek di tengah ruang yang berukuran lumayan lebar. Semua piring diisi hot boiled noodle alias mie rebus pedas dengan porsi yang generous ditambah topping kacang sukro.

“Kalo masih kurang, nasinya aja dimunjungin, jangan mienya yang ditambah,” teriak sang chef pasang muka galak. Udah makan pada pegangin perut dan ambil posisi. Ada yang tiduran, yang ngelepus rokok, yang nggak tahan langsung ke rest room (ini sih kebanyakan sambel).

“Ntar jam setengah dua belas malam kita ke puncak pass, makan jagung bakar. Semuanya ikut..,” kata Indro buka omongan sambil ngisap Sampoerna mild-nya dalam-dalam. Semuanya mengangguk tanda setuju, persis kejadian di alinea tiga tulisan ini.

Nggak lama rombongan topeng blantek oops maaf… rombongan bikers udah siap-siap. Berbaris dua ke belakang, bros mulai menuruni jalan gelap, terjal dan berkelok. Auman sang macan, anak macan, bapaknya macam, ibunya macan dari Taman Safari terdengar bikin nyali bikers ciut.

Ditambah lagi dingin kabut yang terus menjalari seluruh persedian badan. Takut kalo ketemu ama yang nggak-nggak. Karena jarak sampai ke jalan raya lumayan jauh, ada dua kilometer. Akhirnya nggak ada apa-apa sih…

Di puncak pass, acakadul bikers reriungan di satu warung. Pesan jagung sama bandrek wajib hukumnya. Buat ngurangi rasa dingin dan laper sambil liatin orang pacaran. Nggak terasa waktu terus berjalan, jarum jam udah di angka 1.30 pagi. Tapi habitat disini nggak ada matinya.

Rekan bikers mulai ada yang nakal, pesan bir hitam sambil godain teteh penjaga warung. Perangkap mulai dipasang, rayuan manis siap ditebar, tak terkecuali “sang durjana pemetik bunga”-pun pasang kuda-kuda, namun si teteh nggak gampang geer. Keukeuh sumeukeh. Dia malah nawarin “kumbang liar” supaya bir-nya ditambah. Cuk.. Vivere pericoloso.

Gagal menaklukan “bartender” bro Boim patah areng, matanya udah keliatan merah-belekan, bukan kebanyakan bir tapi emang udah pada ngantuk-kecapean. Obrolan yang tadinya riuh-rendah satu-satu udah nggak kedengeran lagi. Jagung udah tinggal bonggolnya doang, nggak juga setetes bandrek. Alhasil tandas semua tanpa sisa.

“Ayo deh kita pulang aja, biar bisa tidur diatas,” ajak Indro ngemong ke adik-adiknya yang mulai pada ngelunjak. Respon kali ini beda banget sama ajakan sebelonnya. Enggak ada lagi tuh namanya kompak. Maklum deh perut masih penuh jagung sama bandrek. Jagung-bandrek yang ada di dalam perut langsung chemistry, udah gitu bersinergi dengan mata, hasilnya mata menjadi berat layaknya diganduli setan dan berat itu yang menyebabkan ngantuk.

Cilakanya, pulangnya nggak bareng, saling dulu-duluan, nggak ngerti buru-buru mau tidur apa pada ketakutan. Yang jelas ada tiga motor yang paling belakangan, udah gitu yang satu nyasar. Untungnya nggak kebablasan. Ihh … seyem ….

Sampai di vila, bros udah pade ‘ngetekkin’ selimut sama kasur, yang telat terpaksa buka lapak buat pura-pura main gaplek sampai otomatis tidur sendiri. Untuk sementara acara gosok gigi ditiadakan dulu dikarenakan pendulum gravitasi ngantuk lebih dahsyat dibandingkan daya dorong ke kamar mandi. Dari pada pulang besok bawa motor sembari tidur? Wherever we ride, it’s furor we bring! (*)

Ps: bro Indro, thanks a lot for all your kindness

 

 

 

Iklan




Pulau Rambut, benteng terakhir habitat Bangau Bluwok

15 02 2007

Pulau Rambut di Kepulauan Seribu ternyata menjadi habitat endemik dari beberapa jenis burung. Di sini terdapat 61 spesies burung, 26 di antaranya merupakan jenis burung air.

Namun dari semua spesies burung yang hidup di Pulau Rambut, bangau bluwok telah lama menjadi primadona yang menarik perhatian para aktivis lingkungan.

Bangau yang bernama latin “mycteria cinerea” ini memiliki tinggi sekitar satu meter. Tubuhnya dibalut bulu bewarna putih dengan kombinasi hitam pada sayap primer dan ekor, bermata coklat dan memiliki paruh kekuningan yang panjang dan melengkung.

Sayangnya, bangau yang cantik ini terancam kepunahan. Di Pulau Rambut saja, populasinya kini bisa dihitung dengan jari. Menurut organisasi pencinta lingkungan Flora-Fauna Indonesia (FFI), lima tahun lalu jumlahnya masih 68 ekor. Tapi sekarang yang tersisa hanya enam ekor saja.

Uniknya, bangau blowok hanya berkembang biak di pulau ini saja meskipun masih ada puluhan pulau lainnya di Kepulauan Seribu yang belum mereka huni,” kata Imanuddin, seorang relawan dari FFI Jakarta di Pulau Rambut beberapa waktu lalu.

Di seluruh dunia, populasi bangau bluwok diperkirakan hanya sekitar 6.000 ekor, 5.000 di antaranya tinggal di Indonesia. Sisanya tersebar di negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia.

Di Indonesia, bangau blowok dapat ditemukan di pantai Indramayu, pantai Cilacap, dan delta sungai Brantas, Sidoarjo. Di Sumatera habitatnya ada di Sumatra Utara dan Aceh,” kata Imanuddin.

Pada tahun 2001, Birdlife International memasukkan spesies ini ke dalam kelompok burung yang terancam punah di dunia dengan status rentan (vulnerable). Artinya, spesies ini memiliki peluang punah lebih dari 10 persen dalam waktu 100 tahun, jika tidak ada upaya serius untuk melindunginya.
Akibat Kerusakan Lingkungan

Imanuddin menengarai susutnya populasi bangau di Pulau Rambut tak lepas dari buruknya kualitas lingkungan di sepanjang Teluk Jakarta.

Lahan-lahan basah yang seharusnya menjadi tempat mencari makan bagi burung-burung air, kini telah beralih fungsi menjadi kawasan perumahan dan industri.

“Coba lihat, hampir semua daerah pesisir Jakarta sudah berubah fungsi menjadi kawasan perumahan dan pabrik-pabrik, belum lagi rencana Pemda DKI yang akan mereklamasi kawasan pantai Jakarta. Ini salah satu faktor yang mempercepat musnahnya habitat burung-burung air di Pulau Rambut, khususnya bangau bluwok,” ujarnya.

Sejak Teluk Jakarta tak lagi menjadi tempat mencari makan bagi bangau bluwok, mereka terbang hingga ke pesisir pantai utara Jawa, seperti Tangerang, Banten, dan Indramayu untuk mempertahankan hidup.
“Kalau di Vietnam, musnahnya sebagian habitat bangau bluwok di sana adalah akibat invasi tentara Amerika yang mendaratkan pasukan di rawa-rawa, sehingga habitat bangau bluwok menjadi hancur,” kata aktivis yang telah enam tahun mengamati perkembangan berbagai jenis burung air ini.

Upaya Pelestarian

Pulau Rambut yang berada di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu secara administratif terletak di Kelurahan Kepulauan Untung Jawa, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Sebagai kawasan suaka margasatwa, pulau yang tak ditinggali oleh manusia ini pengelolaannya berada dalam wewenang Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) DKI Jakarta.

Pulau seluas 90 hektare ini sebelumnya berstatus sebagai kawasan cagar alam. Status ini melindungi Pulau Rambut dari campur tangan manusia dalam pengelolaan habitat satwa liar di sana. Kini pulau tersebut diubah statusnya menjadi suaka margasatwa agar pihak yang terkait dapat melakukan upaya-upaya pelestarian.

Imanuddin mengungkapkan FFI telah lama berkoordinasi dengan BKSDA untuk mempertahankan keberadaan bangau bluwok di Pulau Rambut. “Setidaknya mempertahankan jumlah yang enam ekor ini,” katanya.

Pada puncak musim berkembang-biak antara bulan Januari-Agustus, Pulau Rambut dihuni tak kurang dari 20.000 ekor burung air. Jenisnya antara lain kuntul (egretta alba, intermedia, garzetta), cangak (ardea cinerea, purpurea), pecuk (phalacrocorax sulcirostris, nifer), kowak malam (nycticorax-nycticorax), bangau (mycteria cinerea) dan ibis (plegadis falcinellus, threskiornis melanocephals).

Menurut Imanuddin, bangau bluwok pada musim itu bertelur tak lebih dari empat butir, dengan tingkat keberhasilan tetas hanya separuhnya. Artinya dari empat telur yang dierami paling banyak yang menjadi anakan cuma dua butir. Sedikitnya jumlah telur itu boleh jadi disebabkan oleh jumlah dan kualitas makanan yang tersedia tidak mencukupi.

Untuk mengatasi semakin menurunnya populasi bangau bluwok, BKSDA berusaha menjaga ekosistem yang ada di Pulau Rambut dengan tidak membuka kawasan ini untuk umum, kecuali untuk penelitian dan pengamatan.

Aksi Burung Perompak

Di Pulau Rambut, ‘kita’ juga bisa menyaksikan “frigate birds show”, yaitu aksi sekelompok burung yang terbang melintasi pulau ini dan merampas makanan yang dibawa burung-burung air yang baru kembali dari mencari makan.

Burung-burung itu oleh masyarakat Pulau Untung Jawa disebut burung angin atau burung Cikalang. Jenis ini merupakan burung migran yang berkembang-biak di Pulau Christmas, Australia.
Pada masa tidak berbiak, mereka akan mengembara di beberapa wilayah dunia termasuk Indonesia. Para penerbang jarak jauh ini memanfaatkan embusan angin yang memungkinkannya mereka terbang dengan kebutuhan energi yang minim.

Ketika tidak ada angin, burung bernama latin “fregata ariel” ini cenderung diam dan suka bertengger di bagan-bagan ikan. Di Teluk Jakarta, burung ini menyerang burung air lainnya untuk memperoleh makanan. Itulah sebabnya mereka juga dijuluki burung “perompak”.

“Inilah uniknya Pulau Rambut. Kita dapat melihat dengan mata telanjang bagaimana pembajakan makanan antarburung dapat terjadi. Peristiwa itu cuma ada di sini,” kata Imanuddin.

Memperhatikan kejadian alam yang langka tersebut, Imanuddin berharap agar burung-burung air yang berhabitat di Pulau Rambut tidak musnah, apalagi jenis bangau bluwok yang sekarang tinggal beberapa ekor saja. (Photo by Jakarta Greenmonster)