Kursi Panas Mark Hughes

8 11 2012

Queens Park Rangers (QPR) memasuki Liga Primer Inggris (EPL) musim ini dengan harapan membuncah. Dengan skuad yang dimiliki sekarang, sang manajer yang baru, Mark Hughes, teramat yakin timnya mampu memperbaiki posisi mereka di klasemen setelah beberapa musim bercokol
di divisi satu.

Dengan gelontoran dana melimpah dari pemilik QPR Tony Fernandes, Mark Hughes digadang-gadang bakal mampu meningkatkan performa skuad-nya. Hughes didapuk menjadi manajer menggantikan posisi Neil Warnock yang dipecat karena gagal mengangkat posisi tim yang terus tenggelam di dasar klasemen. Hughes pun bergerak cepat dengan mendatangkan sepuluh 10 pemain anyar dengan nilai mendekati 200 juta pounds. Terbukti, sang manajer berhasil menggaet Julius Cesar, Park Ji Sung, Jose Bosingwa, Bobby Zamora dan beberapa pemain terbaik lainnya.

Bersama sang manajer anyar, tujuh laga sudah dilakoni QPR. Sayang, hasilnya masih jauh panggang dari api alias tidak beda jauh dengan raihan Warnock. Poin yang diperoleh cuma dua dari dua hasil seri dan lima kekalahan. Nasib QPR juga tak membaik dalam perebutan Piala Liga (Carling Cup). Meski sempat mengalahkan klub asal divisi satu Walsall FC dengan skor 3-0, langkahnya lalu terhenti saat takluk di tangan Reading 2-3.

Mendiami posisi paling bawah klasemen sementara EPL ternyata tak membuat Hughes panik. Meski belum pernah sekalipun memungut tiga poinn dari enam laga yang dilakoni klub asal kota London barat ini, Hughes tetap yakin bahwa dirinya masih bisa menyelamatkan The Hoops dari dasar jurang klasemen. Sekedar catatan, QPR musim lalu menutup musim di posisi 17.

Hughes mengatakan kekalahan beruntun jelas membuat pihaknya kecewa, meski sebenarnya mereka pantas mendapatkan hasil positif. Di beberapa pertandingan sebelumnya, kualitas tim ini terlihat begitu bagus. Musim lalu, QPR mengalami masa sulit namun tetap bisa bertahan. “Cidera pemain adalah salah satu kisah kelam ini, namun klub ini harus segera bangkit,” kata pelatih yang musim lalu menukangi Fulham, seperti dikutip skysport.com.

Menghadapi kondisi ini, asisten pelatih QPR Mark Bowen mengaku pihaknya tidak dapat menjelaskan mengapa klubnya mengawali kompetisi musim 2012/13 ini dengan sangat buruk. Sungguh konyol melihat klub dengan kualitas yang kami miliki berada di dasar klasemen, kata Bowen.

Menurut striker Bobby Zamora, para pemain perlu waktu untuk beradaptasi satu sama lain, apalagi di musim ini QPR mendatangkan banyak pemain berkelas dengan nilai transfer lumayan mahal. “Di klub, normalnya Anda mulai beradaptasi dengan pemain baru ketika mereka datang dengan jumlah satu atau dua orang, tapi bukan dengan 12 pemain secara bersamaan,” ujarnya.

Baca entri selengkapnya »

Iklan




Berharap Tuah Sang Raja

17 01 2011

 

Ada sesuatu yang berbeda di Old Trafford saat Manchester United menjamu Liverpool di babak ketiga Piala FA pekan lalu. Sebuah spanduk hitam besar bertuliskan “King Kenny Returns” menghiasi salah satu sudut stadion berkapasitas 76.000 tempat duduk itu. Suporter Liverpool tak henti-hentinya menyerukan nama sang raja dan menyambut kehadirannya dengan standing applause.

Meski Liverpool kalah 0-1 dan gagal melaju ke babak berikutnya, para liverpudlian masih menggantungkan harapan pada sang legenda. Karena bagi mereka, hanya ada satu nama yang dianggap mampu mengembalikan kejayaan klub ini. Bukan Ian Rush, meski Rush selama karirnya telah menyumbang 346 gol. Bukan pula sang dewa, Robbie Fowler, yang pernah membela The Reds dalam 369 pertandingan dan menorehkan 120 gol. Satu nama itu adalah Kenny Dalglish.

Dalglish dianggap sebagai sosok yang paling mengetahui kondisi “luar-dalam” Liverpool. Keberhasilannya menyabet tiga gelar juara saat melatih klub itu (1985-1991) dinilai mampu mengentaskan Liverpool dari keterpurukan dan ancaman degradasi.

Akhirnya keinginan sebagian besar suporter agar pemilik Liverpool memanggil Dalglish terkabul. Mantan striker The Reds itu ditunjuk untuk menggantikan Roy Hodgson yang dinilai gagal mengangkat prestasi klub berlambang burung liver itu. Liverpudlian menilai Hogdson belum mampu menukangi klub sebesar Liverpool. Hodgson mereka ibaratkan sebagai “seekor ikan kecil yang hidup di kolam besar”.

Hingga separuh musim, Liverpool masih tertahan di posisi 12 klasemen, hanya lima tingkat di atas zona degradasi. Dari 20 pertandingan, mereka hanya tujuh kali menang dan mengalami sembilan kekalahan. Kondisi yang memburuk inilah yang membuat manajemen terpaksa mendepak Hodgson dari kursi kepelatihan akhir pekan lalu.

“Kami menghargai usaha Roy selama enam bulan ini, tapi klub menghendaki dia mundur dari posisinya sebagai pelatih,” kata John W. Henry, pemilik anyar Liverpool, seperti dikutip Liverpoolfc.tv.

Dalglish mengaku dirinya tak ragu untuk kembali menangani The Reds. “Suatu kebanggaan dapat kembali ke Liverpool, semoga lebih baik dengan hasil yang menyenangkan,” katanya pada Skysports.com.

“Bagiku ini merupakan sesuatu yang simpel. Apapun yang dikatakan orang, mereka berhak atas opini mereka, namun akulah yang memutuskan dan aku menginginkan yang terbaik buat diriku dan tim,” tambahnya. “Buatku ini merupakan perjalanan enam bulan ke depan yang fantastis.”

Pengangkatan Kenny juga mendapat dukungan dari Dirk Kuyt. Pemain asal Belanda ini menilai kehadiran Dalglish menggantikan Roy Hodgson mulai membawa dampak positif dalam tim.

“Ada hal besar yang terjadi di sini. Kami kedatangan legenda Liverpool. Dia adalah orang yang sangat berpengalaman dan dapat membawa dampak positif pada tim ini,” kata Kuyt seperti dilansir FIFA.com.

Baginya, kehadiran King Kenny dapat membawa dampak berarti dari segi mental para pemain. “Kenny adalah seorang legenda dan orang yang sangat penting bagi klub ini. Saya pikir itu akan banyak mengubah semuanya termasuk mengembalikan kami ke posisi yang tepat,” lanjutnya.
Baca entri selengkapnya »





El Clasico, Akibat Ulah Jenderal Franco

19 11 2010

Setelah beberapa kali bersitegang soal waktu yang tepat untuk menggelar “El Clasico”, akhirnya otoritas Liga Spanyol menetapkan duel Real Madrid vs Barcelona itu bakal dilaksanakan pada hari Senin (29/11) waktu setempat di Nou Camp.

Sebelumnya, Barca menolak laga digelar Sabtu atau Minggu mengingat pada saat yang sama di kota itu akan digelar pemilihan Walikota Catalan.

Meski pertandingan yang sarat gengsi itu masih dua pekan mendatang, namun genderang “perang” antar dua kesebelasan sudah mulai ditabuh. Persaingan dua klub di negeri Raja Juan Carlos itu sudah mulai menebarkan “aire caliente” di seluruh negeri. Beragam komentar pun sudah mulai menghiasi halaman-halaman depan media cetak di negeri itu.

Seperti dilansir Goal.com, perbedaan waktu pertandingan ini dikomentari penjaga gawang nomor satu Barcelona Victor Valdes. Menurut dia, seharusnya laga itu dimainkan pada hari Sabtu atau Minggu yang merupakan agenda akhir pekan, karena bertanding pada Senin dapat merusak nuansa laga besar itu.

Mezut Ozil, gelandang Los Merengues asal Jerman, mengungkapkan bahwa dirinya tak peduli kapan El Clasico digelar. “Saya belum pernah bermain di hari Senin, namun ini merupakan laga yang indah dan kami siap memenanginya,” katanya seperti dikutip situs resmi El Real.

“Barca dan Madrid sama saja, tak satu pun berada dalam kondisi yang lebih baik. Yang diharapkan adalah hasil akhir, bukan situasi menjelang pertandingan. Kami harus fokus untuk itu dan percaya diri”, tambah Ozil.

Bek Madrid asal Brasil, Kepler Laveran Lima Ferreira alias Pepe, ikut meramaikan aroma persaingan dengan mengatakan bahwa meninggalkan Nou Camp sebagai pemenang akan menjadi hal yang sangat penting.

Tak ketinggalan, maha bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, ikut berkomentar, “Barcelona tim yang komplit, kami ingin seperti mereka. Saya harap, kami bisa jauh lebih dari mereka,” tuturnya.

“Duel El Clasico merupakan pertandingan hebat dan sangat spesial. Namun bukanlah laga pertama atau terakhir yang akan kami hadapi. Kami berharap menang agar bisa terus memimpin klasemen,” tambahnya.

Mengapa El Clasico begitu sangat istimewa dan penting bagi kedua tim?

El Clasico adalah dendam kesumat. Laga kedua kesebelasan tak sekedar pertarungan sepakbola, tapi juga soal harga diri. El Clasico harus dibaca sebagai “Real Madrid kontra Barcelona”, bukan Real Madrid vs Valencia, atau Barcelona melawan Sevila.

Fragmennya hanya memutar ulang perseteruan panjang dua wilayah: Madrid sebagai ibukota Spanyol dan Barcelona sebagai ibukota provinsi “separatis” Catalonia.

Kisahnya diawali pada tahun 1930-an. Seorang jenderal berhaluan fasis bernama Francisco Franco yang dibantu rezim fasis Italia berhasil merebut kekuasaan dari kaum Republikan yang disokong Uni Soviet. Bersama tentara yang terdiri dari orang-orang desa, mereka berani melawan kaum borjouis yang memiliki senjata lengkap.

Jenderal Franco berkuasa di Spanyol hingga wafatnya pada 20 November 1975. Sebelumnya ia berwasiat agar pemerintahan Spanyol dikembalikan kepada keluarga kerajaan di ibukota Madrid. Namun para veteran perang saudara itu menolak untuk mengembalikan kekuasaan kepada para bangsawan Madrid. Karena takut ditangkap oleh kerajaan, mereka pun lari ke wilayah Catalan.

Jenderal Franco saat itu mencium adanya bibit-bibit pemberontakan yang dilakukan oleh dua suku bangsa yang bermukim di provinsi Catalan, yakni suku Catalan dan Basque. Ia menganggap penduduk Catalan adalah “bughat”, kaum pembangkang terhadap kerajaan. Franco kemudian mengeluarkan larangan pengibaran bendera dan penggunaan bahasa provinsi Catalan.

Baca entri selengkapnya »





Hodgson, Belajarlah dari Shankly

14 10 2010


Musim ini mungkin merupakan fase terburuk yang dialami Liverpool FC (LFC). Betapa tidak, dari tujuh laga yang sudah dilakoninya The Reds hanya sanggup memetik enam poin. Kalah dari Manchester City dan Manchester United mungkin tak begitu mengejutkan, tapi ditekuk tim promosi Blackpool benar-benar mengherankan. Kemenangan mereka baru sebiji, itu pun diperoleh dari klub debutan West Bromwich Albion dengan gol semata wayang. Sisanya bedu alias seri. Apa mau dikata, The Reds pun terlempar ke posisi 18 di zona degradasi yang selama ini dianggap mustahil buat tim-tim berjulukan The Big Four.

“Inilah awal musim yang sangat buruk, sebuah start yang tak pernah bisa kami bayangkan,” kata sang manajer, Roy Hodgson. “Ini membuat kami sangat tidak senang tapi kami harus menerimanya bagaimana pun pahitnya.”

Alih-alih ingin mendongkrak kinerja Steven Gerrard cs, pelatih gaek yang pernah menangani klub Inter Milan dan Fulham itu justru membuat Si Merah kehilangan ruhnya. Selama tujuh pekan, tak ada match yang betul-betul enak buat ditonton. Tak ada pertunjukan khas Liverpool yang biasa mengeksplorasi kekuatan lini tengah dengan pola 4-2-3-1. Kepergian sang dirijen Xabi Alonso dan si monster Javier Mascherano meninggalkan titik lemah yang belum pulih hingga kini.

Memang, sang manajer lebih menyukai taktik “to kill and end the game”. Dengan formasi 4-4-2, dia ingin selekas mungkin melesakkan gol ke gawang lawan dan memenangkan pertandingan. Namun pola ini sangat berisiko di sektor tengah dan barisan belakang. Hodgson berargumen bahwa metode tersebut berjalan mulus saat dia menangani tim Halmstads, Malmo, Orebro, Xamax, timnas Swiss dan Fulham.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa Liverpool yang begitu perkasa di musim-musim lalu, tiba-tiba menjadi tim “salah asuhan”. Beberapa alasan coba dilemparkan, baik oleh pemain, eks-pemain, atau para liverpudlian. Mereka menganggap cara melatih Hodgson, yang mengubah pola permainan, tidak cocok buat tim sekelas Liverpool. Dulu para pemain sudah terbiasa enjoy dengan skema yang dibawa Rafael Benitez. Dengan pola 4-2-3-1 Liverpool sanggup mengatasi tim-tim yang paling ofensif sekalipun.

Ada juga yang menyebutkan kalau hasil buruk ini disebabkan ketidakbecusan Tom Hicks dan George Gillet dalam mengelola klub yang mereka beli 2006 lalu. Jangankan menggelontorkan duit buat menyegarkan materi pemain atau merehab stadion Anfield, si duo yankee malah menunggak utang 351 juta dolar. Rafa pun akhirnya mundur sebagai pelatih setelah dicap “gagal” memulihkan kedigdayaan The Reds. Sebuah cap yang sebetulnya sulit dilekatkan pada Rafa karena keberhasilannya membawa pulang piala Liga Champions pada 2005.

Hengkangnya beberapa pemain pilar juga ditengarai sebagai awal keterpurukan Liverpool musim ini. Sebut saja kepergian Xabi Alonso yang kini hijrah ke Real Madrid atau Javier Mascherano yang “kebelet” ingin bergabung dengan kompatriotnya di Barcelona, Lionel Messi.

Selepas kepergian beberapa pilar tersebut, Hogdson segera mendatangkan beberapa pemain “jaminan mutu”. Maka datanglah Joe Cole, Milan Jovanovic, Christian Poulsen, Raul Meireles, Paul Konchesky, Daniel Wilson, Jonjo Shelvey dan kiper Brad Jones untuk merumput di Anfield. Secara “head-to-head” seharusnya materi pemain The Reds bisa mampu bersaing dengan tiga anggota The Big Four lainnya (Chelsea, Manchester United dan Arsenal).

Baca entri selengkapnya »





The Reds melahap optimisme

19 12 2008

Apa arti optimisme bagi skuad sekelas Liverpool ketika menghadapi seteru lawasnya Arsenal dalam laga yang akan digelar di Stadion Emirates pada Minggu (21/12)?

Bagi pasukan asuhan Rafael Benitez ini, optimisme bukan sekedar berkoar di mimbar kemudian berharap tepuk tangan riuh dari publik. Rumus optimisme yakni kerja keras plus nurani bening untuk memperoleh hasil bagi kejayaan dan kesuksesan bersama. Ini dipegang betul seluruh anak asuhan pelatih asal Spanyol itu.

The Reds kini sedang menyusun senjata pamungkas untuk menaklukkan The Gunnners. Kalau saja Liverpool dapat memenangi laga melawan Arsenal, maka mereka bakal meninggalkan Chelsea, dengan mengukir selisih empat poin. Kini Liverpool beroleh 38 poin, Chelsea 37 poin, sedangkan Manchester United 32 poin, demikian diwartakan AFP.

Dengan perginya penyandang gelar Manchester United ke Jepang mengikuti turnamen Piala Klub Dunia dan tim urutan kedua Chelsea baru akan bertanding lawan Everton, Senin, maka pijar optimisme bakal membara.

Namun, ziarah sejarah belum berpihak kepada kubu Liverpool. Pasukan yang bermarkas di Anfield ini menelan pil pahit, karena gagal mengalahkan Arsenal di kandang tim Gunners itu sejak Pebruari 2000.

Sejarah tinggal sejarah, karena yang ada dalam laga jaman hanya optimisme meski perlu menginjak bumi. Ini diutarakan penjaga gawang Liverpool, Jose Reina, perjalanan kali ini ke kawasan utara London itu tidak akan menjadikan frustrasi bagi tim Merseysiders.

“Mungkin saja bagi kami memenangi pertandingan di kandang siapa pun,” kata pemain dari Spanyol itu, “Kami sudah pernah menang di Stamford Bridge, yang tidak kami lakukan (belakangan ini), jadi kami percaya kami pun bisa menang di Emirates.” (*)





Pekan yang menggembirakan buat Liverpudlians

12 12 2008

gerrardMeski untuk merengkuh kejayaan di English Premier League (EPL) baru separuh jalan. Final piala Champions juga baru memasuki babak knock-out. Namun ada warta gembira buat penggemar The Reds all over the world, wa bil khusus di tanah air.

Pertama, dalam suatu survei yang disponsori oleh Barclays, sponsor utama liga Inggris terhadap 32.000 fans sepakbola dari 185 negara yang merupakan penggila EPL menempatkan rival utama The Reds, yakni Manchester United (MU) di urutan pertama, klub Inggris yang memiliki penggemar terbanyak di seluruh dunia.

Namun, disebutkan Reds Merseyside terus membayangi Setan Merah. Dalam tiga tahun terakhir Liverpool sudah mendekati popularitas MU di dunia. Bukan tak mungkin The Reds akan merajai kembali sepakbola di Inggris dan Eropa seperti era 70 dan 80-an.

The Blues Chelsea yang bertaburan pemain-pemain bintang dan selalu bersaing ketat dengan MU ternyata kurang digemari. Klub kebanggan kota London ini cuma mendapat 10 persen suara, masih lebih baik tim sekotanya, Arsenal yang dipilih oleh 15 persen penggembar EPL.

Mengapa demikian? Lagi-lagi ini dikarenakan oleh faktor sejarah. Sejarah panjang The Reds sampai kini pun masih diakui dan tak terbantahkan oleh siapapun. Satu-satunya klub dari Inggris yang mengoleksi 18 tropi liga Inggris, dan empat liga Champions.

Baca entri selengkapnya »





Rafa mengganyang “Mentalitas Serba Boleh”

30 10 2008

Ingin menyesap kopi sambil menonton laga bola? Itu biasa. Ingin menikmati sensasi aduhai lantaran tersentak aksi satu dua pemain berbuah gol? Itu luar biasa, karena gol sebagai momen berlangsung sekali saja, tanpa ada duanya. Yang sangat luar biasa, bila laga bola menyuguhkan tontonan dan tuntunan.

Caranya? Silakan mencermati sebungkah kejutan saat Liverpool memukul Chelsea 1-0 di Stamford Bridge pada Minggu (26/10). Pasukan pelatih Rafael Benitez kini bertengger di posisi teratas klasemen Liga Inggris (Premier League) dengan 23 angka, tiga poin lebih banyak daripada Chelsea dan Hull City, yang berada di urutan kedua dan ketiga.

Capaian Liverpool itu mencemaskan Chelsea, juara bertahan Manchester United (MU), dan Arsenal. Dan Rafa buru-buru menenangkan mata hati para pemain asuhannya dengan membisikkan tiga kata simsalabim untuk mengundang “malaikat maut” guna mengganyang mentalitas serba boleh (permisivisme).

“Malaikat” Rafael tidak ingin para pemainnya dibuai iming-iming istana serba gemerlap fasilitas karena lawan berikutnya Portsmouth dalam pertandingan yang digelar di Stadion Anfield pada Rabu (26/10).

Menang, seri atau kalah, bagi Rafa begitu bermakna karena memperlihatkan seberapa digdaya The Reds mampu menyabet gelar juara Premier League untuk kali pertama. Lebih bermakna lagi, pelatih asal Spanyol itu menyuntikkan serum anti-mentalitas serba boleh. Pasukan Liverpool menjauhi semboyan dari mereka yang mengusung permisivisme.

Orang permisivistis seolah-olah berkata, “Biarkanlah saya serba boleh, seperti halnya saya membiarkan orang lain serba boleh.” Mereka mengakui bahwa ada hukum dan peraturan etis beserta sanksi-sanksinya, meski enggan mematuhinya. Gaya hidup dan perilaku seperti ini tampil seksi karena terkesan melawan arus.

Padahal, masyarakat tidak mungkin hidup tanpa adanya nilai-nilai yang disepakati bersama dan dilaksanakan secara bersama.

Bagi Rafa, setiap keping hasil pertandingan sama dan sebangun dengan nilai-nilai etis dari lintas sejarah perjuangan hidup. Bukankah laga bola mengungkap cara perilaku dan cara hidup baik perorangan maupun kelompok. Laga bola mengomunikasikan makna dari sepak terjang manusia.

Boleh saja hanyut dalam euphoria kemenangan, namun jangan lupa daratan karena Liverpool kini justru berada dalam tekanan. Ini amunisi yang diisi Rafa kepada pasukannya. Delapan belas tahun penantian Liverpool bagi gelar Liga Primer. Ini jelas harapan yang dihidupi untuk diperjuangkan demi kejayaan dengan mencampakkan perilaku tujuan menghalalkan cara.

Harus kerja keras

Pemain veteran Jamie Carragher seakan memperingatkan kepada skuad Liverpool agar tidak memperlakukan Portsmouth sebagai domba yang memberikan dirinya siap disembelih. Sementara Xabi Alonso, yang mencetak gol kemenangan ketika meladeni Chelsea, menyatakan, “Ini kemenangan begitu berarti, apalagi lawannya Chelsea, meski hanya tiga poin. Tiga poin melawan Chelsea begitu penting. Sama halnya ketika menghadapi Portsmouth pada Rabu. Semua lawan berbobot nilai sama. Kami harus berpikir mengenai laga pada Rabu dan tetap tampil tenang.”

Baca entri selengkapnya »