Akhirnya sikap tegas itu datang juga

5 03 2008

marty.jpg

 Setelah sebelumnya melakukan “blunder” dengan menyetujui Resolusi 1747 DK PBB  (24/3/2007) tentang pengenaan sanksi terhadap program nuklir Iran, Indonesia akhirnya berani menyatakan abstain pada pemungutan suara oleh DK PBB di Markas Besar PBB di New York (3/3).

Indonesia menjadi satu-satunya dari 15 negara anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tidak menyetujui pengesahan Resolusi 1803 tentang sanksi tambahan buat Iran terkait program nuklir di negara para Mullah tersebut.

Ini sangat betolak belakang dengan apa yang pernah dilakukan negeri ini setahun lalu ketika “tanpa sadar” ikut mendukung Resolusi 1747 DK PBB yang konon sudah disiapkan oleh Prancis, Inggris dan Jerman. Dan sudah tentu saja zionis Israel.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Mutammimul Ula, seperti dikutip ANTARA News di Jakarta, (4/3) menilai Indonesia membuat langkah mengejutkan, dengan memilih abstain di Dewan Keamanan PBB saat voting terhadap resolusi tahap ketiga yang menjatuhkan sanksi terhadap Iran.

“Sikap ini benar-benar mengejutkan banyak pihak, karena biasanya Indonesia mengikuti kecenderungan Amerika Serikat. Apalagi semua anggota Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), baik yang tetap maupun tidak tetap, menyetujui resolusi itu,” ungkapnya.

Sebagai anggota tidak tetap DK PBB, Pemerintah Indonesia cukup berani menjalankan diplomasi politik yang bebas aktif. Nampaknya, Indonesia ingin lebih jernih melihat kasus pengayaan nuklir Iran. Berdasarkan laporan badan pengawas atom PBB (IAEA), faktanya Iran memang tidak memproduksi senjata massal dan tidak ditemukan penyimpangan yang mengarah kepada kepentingan militer.

Terlepas dari banyaknya masalah yang terus membelit negeri ini, namun sikap yang ditunjukkan para wakil Indonesia di DK PBB sungguh menjadikan harga diri bangsa ini kembali terhormat. Sikap tegas untuk tidak bisa didikte oleh negara-negara “penyamun” inilah yang membuat nama Indonesia kembali diperhitungkan di dunia internasional.

Indonesia Bisa!! Be the leader among developed countries and give a course to those hypocrites. (*)

Iklan




Ada apa dengan jiran kita?

26 11 2007


Makin hari makin aneh saja memperhatikan kelakuan Malaysia yang makin serampangan mengklaim beberapa aset budaya Indonesia sebagai milik mereka.

Setelah sukses ‘menewaskan’ Indonesia melalui keputusan mahkamah internasional yang memenangkan kepemilikan atas pulau Sipadan dan Ligitan, ambisi jiran itu makin tak terkendali.

Berbekal keberhasilan kasus Sipadan-Ligitan, Malaysia pun mulai coba-coba mengakui pulau Ambalat sebagai bagian dari wilayahnya. Namun untuk kasus ini, pemerintah Indonesia sudah bisa membaca gelagat dari negara yang mengaku satu rumpun tersebut. Syukur Ambalat masih bagian sah NKRI.

Ternyata kegagalan menguasai daratan Ambalat, tak membuat mereka kapok. Banyak jalan menuju Roma pikirnya, maka banyak cara buat menaklukan Indonesia. Yang paling gampang adalah aneksasi budaya.

Melalui gimik “Budaya Nusantara” kementerian kebudayaan dan pariwisata setempat menjadikan lagu “Rasa Sayange` sebagai jingle untuk promosi pariwisata negeri itu. Lagu rakyat Maluku ini bisa-bisanya diklaim sebagai sebuah karya mereka. Pengakuan sepihak itu membuat rakyat Indonesia tersinggung.

Alasannya, karena Malaysia termasuk merasa bagian dari wilayah Nusantara, maka budaya yang ada di Indonesia, merupakan milik mereka juga. Nah dengan begitu, tari Kecak, karapan sapi, burung cendrawasih dan hasil budaya Indonesia lainnya akan diakui menjadi budayanya pula. Lha wong mereka mengaku bagian dari nusantara. Boleh aja ngaku bagian Nusantara, tapi harus jadi provinsi NKRI yang ke-34 dulu.

Namun seperti dilansir myRMnews, pemerintah Malaysia akhirnya menyerah soal polemik lagu Rasa Sayange. Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Rais Yatim telah bertemu dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Dalam pertemuan itu, jiran mengakui lagu Rasa Sayange sebagai lagu asli Indonesia.

Apakah persoalan sudah selesai? Ternyata belum.

Gagal klaim atas Rasa Sayange, mereka secara ngawur mengklaim Reog Ponorogo sebagai miliknya. Klaim ini lebih ngawur lagi! Mana mungkin sebuah kesenian yang sudah berusia ratusan tahun tiba-tiba dijumpai pula di negeri yang letaknya ribuan kilometer dari daerah asalnya.

Antara Jawa Barat dan Jawa Tengah yang letaknya sangat berdekatan, memiliki seni dan budaya yang berbeda. Lha ini sebuah negeri di semenanjung, tanpa dasar sejarah mengklaim seni reog sebagai warisan budayanya. Kalau Malaysia mengaku reog adalah budaya asli melayu, mestinya di Riau –yang notabene pusat budaya melayu– harusnya juga ada masyarakatnya yang bermain reog.

Seorang budayawan asal Ponorogo, Drs Sutejo, MHum mengemukakan bahwa pengakuan kesenian Reog oleh negeri jiran itu sangat lemah karena faktanya, secara nasional maupun internasional seni itu sudah diakui berasal dari Ponorogo, Jatim.

“Sederhana saja, coba cari tokoh-tokoh Reog di negeri jiran itu, paling-paling tidak ada. Kalau toh ada, mungkin mereka asalnya orang Jawa juga asal Ponorogo,” katanya seperti dikutip ANTARA News di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Ada benarnya pendapat budayawan Drs Sutejo karena imigran dari Indonesia, khususnya dari Jawa sudah ada di negeri itu konon sejak 1930-an. Sehingga secara tidak langsung mereka masih melestarikan seni dan budaya leluhur di perantauan. Kemungkinan dari sinilah budaya tanah air diakui oleh Malaysia.

Contoh bijak adalah para imigran asal Jawa yang bermukim di Suriname, meskipun sudah beberapa generasi bermukim di sana, namun budaya Jawa macam wayang kulit, keroncong, ludruk ataupun ketoprak tetap mereka lestarikan. Tapi pemerintah Suriname tidak pernah mengklaim bahwa seni budaya tersebut berasal dari Suriname.

Kesenian barongsai yang berasal dari Cina sudah dimainkan di Singapura sejak bertahun-tahun lalu, tapi Singapura tidak mengakui itu budaya mereka. Atau karate sudah masuk ke Indonesia sejak lama, namun tidak serta-merta karate diakui milik Indonesia.

Harusnya pemerintah Malaysia melakukan cek dan ricek dahulu sebelumnya mengakui sebuah seni atau budaya. Ini budaya asli miliknya atau milik tetangganya. Walaupun bentuk kesenian itu sudah ada bertahun-tahun di negeri mereka, tapi bukan otomatis mereka dapat mengklaim seenaknya.

Krisis identitas

Kasus-kasus ini merupakan dampak kemajuan ekonomi yang dialami negara jiran itu. Beberapa proyek prestisius (baca: mubazir) dibangun di Kuala Lumpur. Ada Petronas Tower, Sirkuit F1 Sepang dan terakhir mengirimkan “angkasawan” bersama kosmonot Rusia.Namun sayang sekali, kemajuan itu tidak diimbangi dengan menampilkan kejayaan budaya negeri sendiri. Program kunjungan wisata 2007 yang ditawarkan justru menampilkan sisi budaya yang bukan asli mereka. Lagu Rasa Sayange, dan Barongan (reong) adalah contohnya.

Bangsa Malaysia yang –lagi-lagi konon– terkenal santun dan agamis, tampaknya mulai khawatir akan eksistensi budaya dan jatidirinya sebagai sebuah bangsa, sehingga untuk “meramaikan” khasanah budayanya, diklaim-lah budaya tetangganya. Ironisnya yang dicomot justru nggak ada korelasinya dengan adat-istiadat melayu semenanjung.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Bulan Bintang, Yusron Ihza Mahendra menyatakan, krisis percaya diri sebagai bangsa kini melanda Malaysia, yang mendorong munculnya kebiasaan mencaplok budaya orang lain, terutama dari Indonesia.

“Kebiasaan mereka mencaplok budaya RI, apakah itu hasil kreasi pakaian (batik), musik (angklung), makanan, dan kemudian lagu-lagu, bahkan daratan (pulau), merupakan gejala kejiwaan yang mencerminkan krisis percaya diri sebagai bangsa,” ujarnya kepada ANTARA News.

Ia mengatakan itu, menanggapi informasi tentang diklaimnya lagi `Burung Kakatua` sebagai lagu rakyat warisan budaya jiran, menyusul hal sama berlaku untuk `Rasa Sayange`.

“Kebiasaan tidak beretika ini, sekaligus mencederai budaya Melayu yang seharusnya sopan santun dan berakhlak tinggi,” kata Yusron Ihza Mahendra yang masih berdarah Melayu dari wilayah Provinsi Bangka Belitung ini.

Mungkin gejala kejiwaan ini yang sekarang diidap tak kurang dari tiga juta warga Malaysia, sehingga mereka sudah tidak bisa lagi membedakan mana milik sendiri mana milik orang lain. Gejala kejiwaan ini dikenal dengan kleptorus homoklepto. (Imung Murtiyoso, November 2007)