Howdy mudik, i’m coming…

4 09 2008

Mendekati lebaran adalah saat-saat dimana gue banyak merenung. Merenung soal dosa yang udah diperbuat? Bukan. Jadi ngerenungin apaan dong? Ngerenungin soal udah nggak punya kampung halaman lagi buat mudik.

Gue kayaknya enggak sebahagia teman-teman gue yang lain. Maaf nih coy, ente sebenarnya lagi ngomongin apaan sih?

Ini soal mudik. Emang kenapa? Elu kan tiap tahun juga mudik. Iya bener sih, tapi kan ke kampungnya bini gue. Nah itu udah kejawab masalahnya, terus apa lagi yang elu pikirin?

Elu mestinya tahu dong, biarpun gue lahir dan gede di Jakarta tapi kan tetap masih ada darah jawa –meski nggak berwarna biru– yang buat warganya berhukum wajib mudik saat lebaran. Tiap tahun sepanjang hidup.  But me and my family.

Konon ritual ‘buang-buang uang’ yang dijalani mostly oleh orang Jawa ini, baru muncul sekitar awal tahun tujuh puluhan.

Yang gue tahu sih, awalnya mereka menggunakan motor secara berkelompok. Secara bokap gue dan poro sedulur lanang juga pernah ngelakuin mudik dengan mongtor sekitar tahun 1970-an. Gue sendiri kaget waktu liat foto-foto mereka yang lagi ngaso di Alas Roban. Jadi tren turing sesungguhnya udah pernah dilakoni oleh para mudiker sejak hampir setengah abad lalu.

Gue dan keluarga harusnya juga wajib menyambangi mbah-mbah gue di Jawa sono buat silaturahmi. Tapi disebabkan mbah-mbah gue udah pada wafat –baik dari bokap maupun nyokap– jadinya gue udah nggak punya kampung halaman lagi buat mudik.

Sedang dari tahun 1980 nyokap-bokap udah jadi permanent resident di Bekasi. Ya, akhirnya mudiknya ke Bekasi aja. Yah… itu mah bukan mudik namanya, itu namanya piknik.

Mudik menurut gue adalah suatu eksodus masyarakat kota ke kampung halaman mereka masing-masing dengan menggunakan semua jenis moda transportasi, baik pesawat udara, kapal laut, kereta api, juga kendaraan pribadi. Enggak cuma itu, segepok duit dan sekoper pakaian buat sanak sodara di kampung juga nggak bakal ketinggalan.

Gue mudik terakhir kali kira-kira 20 tahun lalu, waktu itu yang masih hidup adalah mbah putri gue yang tinggal di Madiun. Perjalanan mudik terakhir dengan berkereta ekonomi Matarmaja (Malang-Blitar-Madiun-Jakarta) dari Gambir ke Madiun sungguh pengalaman yang mengesankan.

Baca entri selengkapnya »

Iklan




Not a fairy tale: story about my friends

22 08 2008

Gue, Indro, Imul dan Rizal ceritanya adalah four horsemen ride. Cuma bedanya kami bukan  penunggang motor besar layaknya Harley Davidson, tapi para penyemplak mongtor bebek roda dua.

Sebenarnya kami berenam. Ada Boni Udin dan Hendra Biji. Namun karena keadaan, terpaksa kedua sahabat itu jarang-jarang bisa gathering sama-sama. Si Boni, paling sudah ngatur waktu, nggak pernah bisa ikutan acara. Sedang Hendra Biji mengadu nasib di negeri orang, yakni di Jeddah guna mencari sesuap nasi, segenggam berlian dan sekarung riyal.

Hatta, tempat yang biasanya buat “melepas rindu” adalah vila Laudza, milik Indro yang ada di Cisarua, Bogor. FYI, jangan mikir yang jorok-jorok dulu. Kami semuanya sudah berkeluarga dan memiliki anak. Jadi tidak mungkin bertingkah laku kayak Ryan, pelaku hetero-sexual dan mutilasi asal Jombang itu. We’re normal guys.

Persahabatan kami sudah tercipta sejak kami masih duduk di sekolah dasar, es em pe dan seterusnya. Event macam ngelancong (berburu cewek), ngobak (berenang di rawa/bekas galian), kemping, sampai jalan tanpa tujuan (biasanya naik truk sampai terakhir truk berhenti), kami lakoni bersama dengan cara seksama dan hati gembira.

Namun dari sekian para makhluk itu, cuma Rizal (foto: tengah berbaju krem) yang selalu dijadiin sansak buat di-cengin sama anak-anak yang lain. Makanya kalo kami punya rencana mau bepergian, Rizal wajib diajak. Karena selain buat ngeramein, juga sebagai wadah buat celaan.  Herannya lagi si Rizal nggak pernah marah atau nangis. Paling senyam-senyum doang. Dia tahu kalau temen-temennya terlahir emang sebagai tukang cela alias faultfinders.

Lain lagi dengan Hendra Biji, dia nih.. dulunya sekolah di es te em, jadi kalo kita mau ngeluyur, dia juga hukumnya wajib diajak. Sebab kalo ada motor yang rusak atau yang ngadat, si Hendra berubah menjadi tukang insinyur. Spesialisasi Hendra selain tukang bengkel adalah tukang keprok atau mr clapman, karena setiap dengerin lagu apapun, tangannya nggak betah kalo nggak keprok-keprok.

Baca entri selengkapnya »





Selamat jalan bung…

21 07 2008

“Bung anda punya obat turun panas nggak, badan saya panas” tanya Eri Jumat sore itu.

“Nggak ada bung, ada juga obat batuk, tapi ada penurun panasnya juga,” jawab saya sambil memperlihatkan kemasan obat batuk tersebut.

“Ah.. saya nggak biasa minum obat batuk,” jawabnya lagi. “Tapi obat turun panas saya nggak punya bung.” kata saya lagi.

Saya dan Eri memang saling membiasakan diri dengan memanggil bung.

Saya memanggil dengan bung Eri dan diapun memanggil saya dengan bung Imung. Supaya kesannya muda dan patriotik kali ya… ?

Beberapa detik kemudian dia kembali berbicara kepada saya, kali ini dia menanyakan, “Bung anda pernah mengalami panas kayak gini nggak.”

“Pernah bung, saya pernah… waktu itu sekujur tubuh saya panas seperti direbus, dan nggak lama muncul benjolan-benjolan berwarna merah,” timpal saya lagi.

“Oh… kalo saya nggak, badan saya cuma panas aja,” sahutnya. “Kalo gitu saya minta obat batuknya sedikit aja bung,” tambahnya lagi. Saya pun menuangkan cairan obat batuk ke dalam sendoknya.

“Kalau nggak sehat buru-buru pulang aja bung,” saran saya kepadanya. “Iya sebentar lagi nih,” jawabnya.

Nggak berapa lama kemudian saya ijin kepadanya untuk pulang.

Itulah percakapan terakhir saya dengan Eri Supriadi, rekan kerja dan atasan saya di divisi ini. Divisi Multimedia Gateway. Karena keesok harinya beliau dipanggil Sang Khalik dalam usia yang masih muda, 41 tahun. Inalillahi wa inailaihi raajiun.

Rekan Oktora adalah orang pertama yang mengabari saya soal kepergian si bung yang pendiam itu hari Sabtu sekira jam tiga sore.

Empat tahun sudah saya berpartner dengan bung Eri di divisi ini dengan segala suka-dukanya. Kami berdua memang tipe orang-orang yang introvert dan nggak terlalu banyak omong dalam bekerja. Kami lebih menyukai duduk di tempat masing-masing dan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.

Setiap harinya pun kami jarang sekali berbicara untuk hal-hal yang tidak perlu. Paling kalau saya menanyakan sesuatu, biasanya ada pembicaraan.

Memang nggak enak buat banyak orang dengan suasana kerja seperti ini. Tapi buat saya dan si bung, menjalankan kondisi kerja seperti ini selama bertahun-tahun sudah terbiasa. “Yang penting hasil kerja, bukan omongnya,” begitu kata bung suatu kali kepada saya.

Baca entri selengkapnya »





15 menit terperangkap di dalam lift

23 05 2008

Seumur-umur baru kali ini gue kejebak di dalam lift sampe segitu lamanya. Meski udah hampir 11 tahun turun-naik lewat lift di kantor gue di Wisma Antara, namun kejadian kemarin lumayan bikin panik dan lemes.

Kejadiannya pas pulang ngantor jam limaan. Emang di kantor gue lift nya udah parah banget, maklum gedungnya juga udah berumur lebih dari dua dasawarsa. Selama ini sebenarnya udah banyak keluhan dari pengguna atau pengontrak gedung soal “nggak nyaman”-nya menggunakan lift. Namun pihak manajemen gedung selama ini cuma me-maintenance doang, dan sekarang pun baru satu lift yang diganti.

Lift sebetulnya udah “ngambek” saat berhenti tiba-tiba di lantai 10, namun nggak lama bergerak lagi. Namun saat di lantai 1 lift mendadak berhenti total, udah gitu diperparah lampu penerangnya juga ikut mati. Sebagai pengganti cahaya penerang, kami menyalakan handphone, minimal bisa menerangi muka-muka yang pada pucat-padam.

Meski udah berkali-kali minta bantuan melalui alat yang terhubung langsung ke control room, namun jawaban operator selalu meminta kami untuk bersabar. Dan sebanyak itu pula operator selalu berucap “sabar, sedang diperbaiki”.

Beruntung gue nggak sendiri di dalam alat transportasi vertikal itu, ada tujuh orang lagi yang sependeritaan. Cuma semuanya nggak sama cara menyikapi kepanikan tersebut. Kalo gue cuma diem (baca: takut) aja sambil berharap lift bisa jalan lagi. Yang paling gue takutin kemungkinan mulai menipisnya oksigen (betul nggak nih), jadi bikin susah nafas aja.

Yang lainnya malah ada yang cengengesan kesannya nggak takut aja. Padahal sebenarnya sama saja, jantungnya berdegub kencang juga. Alih-alih melupakan rasa takut, sebagian mereka cerita lucu-lucuan, yang sebenarnya dalam keadaan gini justru jadi sangat nggak lucu.

Udah gitu gue merasa berdosa aja sama temen gue, Anastom. Bukan apa-apa, tadinya dia nggak kepengen naik lift ini. Dia udah mau masuk ke lift lainnya, tapi karena gue paksa akhirnya dia mau juga. Ya… jadinya dia ikut “tersiksa” juga.

Ukuran lima belas menit di dalam lift buat yang penakut sama aja seperti terperangkap berjam-jam. Apalagi menunggu dalam ketidakpastian kayak gini. Gue sendiri kalo tahu kayak gini mendingan turun lewat tangga darurat aja. Biar capek tapi nggak deg-degan tur sehat.

Lima belas menit tetap stuck, akhirnya gue usul untuk membuka paksa pintu lift. Karena gue pikir, udah segini lama teknisi a.k.a. operator belum bisa kasih kabar baik. Beberapa orang akhirnya membuka paksa, untung nggak terlalu sulit dibukanya. Ya… Alhamdulillah bisa keluar semua dengan lega.

Jadi saran gue kalau mau naik atau turun menggunakan lift sebisanya jangan sendiri, cari teman. Ini gunanya untuk menghindari panic-disorder. Minimal kepanikan nggak dinikmati sendirian. Bisa di-share ke orang lain. Apalagi buat mereka yang jantungan. (*)

 

 

 

 





PSP, jadul namun berkelas

7 01 2008


Jadul tapi berkelas. Itulah kesan pertama gue terhadap kelompok Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Meski jadul, tapi keberadaan dan kesuksesan mereka sampai sekarang belum tergantikan.

PSP yang lahir konon pada 21 Juni 1978 dibentuk oleh well-educated personnel, Monos (gitar, vocal), Rijali (mandolin, vocal), Andra (marakas), Dindin (tamborin), James (bass), Omen (okulele, vocal), Aditya (gendang II), Ade (gendang I), dan Eddy (flute). Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa asal Universitas Indonesia (UI).

PSP melahirkan sebuah sub-genre musik baru, dangdut plesetan. Sebuah aliran musik yang ‘memporak-porandakan’ pakem bermusik, khususnya dangdut. Sebuah kerja kreatif yang justru menjadikan dangdut bisa dinikmati oleh semua lintas-usia.

Contohnya, bagaimana single My Bonnie yang merupakan lagu asli rakyat Skotlandia diplesetkan PSP menjadi sebuah tembang dangdut. Atau lagu Kidung milik kelompok Pahama tak terkecuali habis dijaili oleh mereka.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada seniman dangdut tanah air lainnya, ternyata PSP-pun sudah ambil bagian dalam mempromosikan musik dangdut ke kampus-kampus. Musik dangdut yang selama ini diimagekan sebagai musik kaum marjinal, di tangan PSP menjadi musik “kaum sekolahan”.

Meski sudah hampir 30 tahun nggak nongol lagi, namun lagu-lagu mereka masih banyak dikenang sama orang-orang seumuran gue. Orang-orang yang umurnya 35 tahun keatas. Buat yang lahir tahun 80-an ke atas gue jamin nggak bakalan kenal siapa tuh PSP. Iya nggak?

Gue sendiri kenal PSP waktu kelas empat SD tahun 1978. Saat PSP pertama kalinya muncul di ‘kotak ajaib’ pada ulang tahun TVRI.

Selesai manggung di stasiun televisi milik pemerintah itu, paginya masyarakat riuh-rendah ngobrolin soal penampilan PSP yang bikin heboh. Di kantor, di sekolah, di warung. Tembang macam Ogah Ah, Kidung, dan Gaya Mahasiswa, sangat familiar banget buat anak-anak Jakarta.


Tapi kalo gue denger lagu Fatime sama Dendang PSP, gue punya kenangan buruk nih …

Ceritanya begini (based on true story), di RT gue anak-anak SD seumuran (kelas IV/V) banyak banget. Tiap malam minggu, biasanya kita sering main orkes sambil melancong ke RT tetangga buat cari perhatian cewek-cewek di sana. 
 
Maklum di RT tetangga stok ceweknya lumayan banyak dan cakep-cakep. Istilahnya halaman rumah tetangga lebih ijo dari rumah sendiri. Salah satunya PN (sori cuman inisial doang). Walau ada beberapa cewek lagi tapi PN yang paling manis. Rencananya malam ini kita mau “gelar konser” di depan rumah PN, primadona RT tetangga itu.

Malam minggu ba’da maghrib anak-anak udah siap sama semua perangkat ‘lenong’nya, Yadi pada gitar, Wawan pada gendang, Idris pada bass… betot, dan Hendra pada kecrekan. Sisanya: gue, Indra, Udin cuman bagian teprok tangan doang. Oh ya.. kelompok orkes kita namain ‘Ankodu’.

Jreng… Fatime dijadiin lagu pembuka. Meski suara gitar dan gendang nggak kompak, namun bisa ditutupi sama suara teprokan tangan. Clap… clap…. clap…. Alhasil tembang Fatime diselesaikan tepat waktu. Selesai Fatime dilanjut Dendang PSP.

Belum kelar tembang Dendang PSP, tiba-tiba seseorang nyiramin air dari rumah yang halaman depannya dijadiin tempat ngorkes (di seberang rumah PN). Untungnya nggak ada yang pada basah kuyup, karena siraman terhalang pager rumah. Dasar aja anak-anak pada bangor, bukannya pergi malah nerusin nyanyinya.

Nggak lama kedengeran kletek, bunyi pintu pager dibuka. Dari tempat gue dan temen-teman manggung, sekonyong-konyong seseorang berlari ke arah kita-kita sambil tangannya megangin pipi. Gue samar-samar sempet liat pipinya ditempelin koyo. Keliatannya tuh orang lagi sakit gigi.

Tanpa aba-aba lagi, gue and gangs langsung pada ngibrit. Ternyata orang itu terus mengejar. Sampai masuk ke wilayah RT kita. Nasib sial dialami Yadi, ia ketangkep dan digamparin. Karena dia dianggap ketuanya. Tapi emang betul sih… Yadi ketuanya 🙂

Gue sendiri selamet, tapi nyungsep ke aspal, karena lari kelewat kenceng jadinya badan nggak seimbang. Baju robek, tangan lecet-lecet. Untungnya tuh orang nggak ngeliat gue jatuh. Kalau liat, nasib gue nggak beda sama Yadi. Bakalan ditampolin. He… he…

Lagu Dendang PSP yang awalnya buat menarik perhatian PN, ternyata jadi ‘kontra-produktif’. Maksud hati ‘carmuk’ sama PN, eh… malah diuber-uber sama pak Y yang lagi sakit gigi. Nasib… nasib.

Besok lusanya pas ngumpul di sekolahan –kebetulan kita satu sekolahan– pada ngakak semuanya inget kejadian kemarin malem. Yadi yang kena tampol juga masih sempet cengengesan. Ngomong-ngomong PN –yang juga satu sekolahan– tau nggak ya kejadian semalem. Mudah-mudahan sih dia nggak tau.

FYI friends, ternyata orang yang nguber-nguber kita semalem adalah Mr. Y. Kabar terakhir sekarang Mr. Y udah jadi pejabat di Departemen Keuangan. Sudah punya anak-bini dan bisnis rumah makan. Maaf mister, kami sudah mengganggu ‘kenyamanan’ sakit anda.

Meski kejadiannya sudah hampir 30 tahun lewat, tapi ‘kenangan manis’ gue sama temen-teman nggak gampang dilupain. Bukan masalah tampolannya, tapi Dendang PSP dan Fatime-nya yang sampai sekarang terus terkenang.  
 
 Thus, terlepas dari pengalaman gue tiga dasawarsa silam, patutlah gue pribadi –mungkin juga teman-teman Ankodu— menempatkan PSP sebagai pioner orkes melayu plesetan. Orkes moral yang bercita rasa tinggi. Yang jadul namun tetap catchy dan berkelas. (*)

(photo by http://orkesmoralpsp.multiply.com/)





Pak Asro yang saya kenal

26 10 2007

“Assalamualaikum”, tiba-tiba seorang lelaki berkemeja putih, dibalut jas warna gelap dan tas kulit hitam tergantung di pundaknya seraya tersenyum datang menyambangi ruangan JIO yang dingin pagi itu.

Ia bergegas menjulurkan tangannya kepada saya, dan tiga rekan lainnya yang kebetulan sudah bergulat dengan kerjaan rutin sehari-hari. “Saya Asro, mohon saya dibantu,” begitu katanya seraya memperkenalkan dirinya.

Ternyata beliau Asro Kamal Rokan, pemimpin LKBN ANTARA yang baru. Kaget juga kami waktu itu, bagaimana seorang pemimpin umum sempat-sempatnya mengunjungi bawahannya, mungkin juga level yang terbawah dalam struktur di lembaga ini hanya untuk berkenalan dan memohon restu.

Mestinya bisa saja ia mengundang atau mengumpulkan seluruh karyawannya dalam suatu auditorium yang dimiliki lembaga ini tanpa harus “membuang-buang waktu” menemui seluruh anak buahnya. At the first sight, yang saya lihat adalah kesederhanaanya. Tapi auk ah gelap, saya pikir mungkin itu cara beliau mencari simpati bawahannya.

Tak terasa waktu terus bergulir. Setiap kebetulan saya berjumpa dengan Pak Asro, sampai kini ada yang tidak berubah dalam dirinya. Murah senyum dan selalu mendahului mengulurkan tangannya untuk berjabatan.

Beliau tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya orang nomor satu di lembaga ini. Tidak minta disalami atau disapa dahulu, bahkan kepada seorang office boy-pun. Dalam hal berpakaian pun Pak Asro tidak berubah, lebih menyukai batik atau berjas tanpa berdasi ala Mahmoud Ahmadinedjad.

Keiklhasannya pun kembali teruji, saat lembaga ini berubah status menjadi Perusahaan Umum (Perum). Berkali-kali dirinya ditawari oleh Meneg BUMN untuk kembali menakhodai lembaga pemberitaan bersejarah ini.

“Saya lebih baik menjadi wartawan dan menulis saja,” ucapnya saat upacara sertijab beberapa waktu lalu. “Lembaga ini kedepannya harus cari banyak uang, jadi biar para profesional saja yang menjalankan Perum ini,” tambah beliau.

Pak Asro dapat mengukur dirinya. He’s not a good money maker, he’s just a journalist. Pak Asro mungkin takut terkena hadits Rasulullah SAW, “sesuatu perkara yang diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancuran”. Maka ia pun mempercayakan pada ahlinya, kepada profesional yang juga seorang konsultan: Ahmad Mukhlis Yusuf sebagai direktur utama.

Pada resonansi sebuah terbitan ibukota pertengahan Oktober dalam satu alinea beliau menceritakan bahwa dompetnya terjatuh saat mobilnya terjebak macet di Ciawi Bogor, hari kedua lebaran kemarin.

Dia menganggap ini takdir Allah SWT. Mungkin saya kurang beramal, tulisnya tanpa menyerapahi pengambil atau penemu dompetnya. Terbukti beberapa hari kemudian dompet beliau dikembalikan oleh penemunya tanpa isinya ada yang hilang.

Sebuah pelajaran dapat dipetik bahwa keikhlasan membuat hati menjadi tenang. Kalaupun ada yang hilang maka itu adalah takdir dan bukan rejeki kita dan Allah SWT pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Saya mengenal Pak Asro bukan sebagai teman, kerabat atau punya hubungan keluarga. Perkenalan seorang bawahan kepada pemimpinnya.

Perjuangannya yang begitu besar juga membuat saya kagum akan keberanian lelaki kelahiran Medan ini. Pak Asro bukan tipe orang yang duduk di belakang meja, bukan orang yang mudah menyerah untuk berjuang demi kemajuan dan kelangsungan hidup lembaga ini.

Salah satu usaha besarnya adalah dengan terbitnya Peraturan Presiden tentang perubahan status lembaga menjadi Perum. “Kita tidak bisa berjuang tanpa status yang jelas, itu modal kita” katanya suatu waktu.

Ada satu kerja besar yang belum tercapai adalah mengambilalih Wisma Antara ini. “Ini jihad kita, kalaupun saya tidak menjadi pemimpin lagi, pengganti saya harus bisa meneruskan cita-cita saya,” tambahnya.

Dalam sambutannya pada acara sertijab dari dirinya kepada pemimpin yang baru, Pak Asro masih menyuntikkan semangat kerja. Lengsernya beliau dari tampuk tertinggi di lembaga ini tidak membuat dirinya berkeluh-kesah atau mengalami post-power syndrome.Menurutnya, jabatan adalah amanah yang sewaktu-waktu bisa dicabut oleh Sang Pemberi Amanah. Bahkan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Sungguh sebuah pelajaran teladan dan keikhlasan hati dari seorang yang amanah.

Dalam diri Pak Asro tidak ada yang berubah, sederhana dan rendah hati. Sama seperti yang ia tunjukkan dua tahun lalu saat pertama kali datang memperkenalkan diri dan menyalami kami. (Imung Murtiyoso, Oktober 2007)





Sindrom nyemplung lubang

29 08 2007

Dari jalan Bekasi Timur (kolong bypass Jatinegara ) ke arah Klender motor matic itu udah digebernya. Kecepatannya mungkin mendekati 80 km/jam. Kecepatan yang sungguh tidak dianjurkan dalam keadaan jalanan yang lumayan jamming.

Berhenti di lampu merah di perlintasan kereta api Cipinang Melayu, bapak pengendara Yamaha Nouvo-Z warna merah itu berada tepat sejajar vertikal di depan gue.

Entah alasan apa sang bapak sehingga begitu terburu-buru berkendara, padahal suasana udah gelap. Walaupun dia ngebut, tapi gue usahain motor gue nggak tertinggal jauh dari bapak yang mungkin penggemar motoGP itu. Dari pabrikan motornya mungkin dia pengidola Valentino Rossi.

Enggak tau juga kenapa gue terus buntutin tuh bapak, padahal kalau mau bisa aja gue asepin. Tapi kayaknya ada yang mencegah gue supaya jangan ngelewatin si bapak. Akhirnya gue cuma jaga jarak aja. Yah… sekitar empat meteran deh.

Bener aja, nggak jauh dari stasiun pengisian bensin Cipinang Jagal masih ada lubang bekas banjir awal tahun lalu yang sampai sekarang belon ditambal. Si bapak nggak bisa mengendalikan motornya dan tiba-tiba braaaaghk… ban depannya masuk ke lubang, bapak dan motornya terpental.

Gue yang ada di belakang tuh bapak langsung menghindar dan berhenti. Alhamdulillah gue selamat, tapi si bapak? Kenapa juga dia nggak mau lepasin motornya, akhirnya dia terseret sama motornya ke tengah jalan. Kalau aja dia lepasin kuda besinya, mungkin lecet-lecet doang.

Si bapak tergeletak sama motornya di tengah jalan. Keliatannya nggak bergerak. Syukurnya banyak orang yang menolong. Gue sendiri sempat berhenti dan berdoa dalam hari mudah-mudahan si bapak nggak apa-apa dan bisa balik ke rumah ketemu keluarganya.

Gimana nih dinas PU, banyak jalan berlubang kok nggak buru-buru ditambal, apa nunggu korban jatuh lagi?! Terus terang gue sindrom banget sama yang namanya lubang di jalanan, karena gue sendiri udah pernah ngalamin kejeblos lubang. Mau tau ceritanya?

Here the story: Ceritanya pas gue pulang kuliah dulu, sama temen gue yang namanya Romi lagi menginvestigasi kasus affair antara dosen (…lupa tuh namanya) sama Fitri, teman satu kelas. (Romi, you ought to remember this!)

Ini adalah a true story antara Romi sama Fitri (… bukan Juli), karena gue paham kalo Fitri ini kesengsem berat sama Romi. Tapi Romi jual mahal meskipun sang putri udah mati-matian cari perhatian sama bapak yang sekarang udah punya dua anak ini.

Itulah kepongahan si Romi, meskipun dalam hatinya dia sebenarnya juga demen Fitri, tapi masih aja lagaknya ala Don Juan, senengnya ‘ngegantung’ harapan cewek-cewek.

Sore itu gue sama Romi mengamati sepak-terjang Fitri dan dosen berkumis itu. Pemantauan dilakukan dari jauh. Kalau pernah baca ‘Rahasia di Pulau Kirin’-nya Lima Sekawan karya Enyd Blyton, kayaknya yang gue sama Romi kerjain sekarang nggak beda. Maksudnya nggak beda jaraknya antara langit dan bumi gitu.

Penantian selama 30 menit akhirnya berbuah hasil, Fitri keluar dengan anggunnya dari gerbang kampus. Terus menyeberangi empat lajur jalan raya. Pas di depan halte dia nggak langsung naik kendaraan umum. Dia cuma duduk dan sebentar-sebentar berdiri gelisah sambil terus ngeliat jam.

Sejurus kemudian sebuah Daihatsu Taft merah menepi pelan. Gue sama Romi semakin semangat aja melakukan perburuan ini. Kita yakin banget tuh mobilnya dosen mata kuliah ‘Propanda’ di kampus kita. Tak lama mobil berlalu dan Fitri-pun lenyap dari pandangan.

Romi kasih instruksi untuk ngejar Taft merah itu. Die langsung nyemplak ke skuter gue. Aksi pengejaran agen partikelir dimulai. Taft menderu jauh meninggalkan skuter yang cuma berkekuatan 150 cc. Cuma sepersepuluh dari kekuatan four wheel drive itu.

Andai saja ada produser film yang lewat, mungkin kisah pengejaran ala Chase ini patut diangkat ke layar lebar. He… he… maaf ini lagi mengkhayal aja.

Sore menjelang, adzan magrib juga udah terdengar, tapi ‘tim buser’ terus mengejar target. Dari jauh keliatan mobil menuju by pass dan berbelok ke arah Halim.Gas skuter sudah dibejek sampai mentok, namun target makin menjauh. Terang aja nggak kekejar… emang sejak kapan motor dengan cc standar –100/150– bisa ngalahin larinya mobil.

Akhirnya kengototan dan keusilan mengejar target berbuah petaka. Di jalur lambat nggak jauh dari pintu masuk tol Kebon Nanas, lubang yang ter-cover air comberan menjerumuskan skuter, gue sama Romi. Skuter keluaran 1984 itu terlempar sejauh 10 puluh meter. Gue dan Romi juga sukses terpelanting. Gue yang paling parah, semua pergelangan kaki dan tangan gue berdarah-darah dan jempol tangan kayaknya mau patah.Jaket, celana robek abis. Sepatu jebol jahitannya. Yang gue sesalin itu, jeans Levi’s 501 kiriman sepupu gue dari LA juga robek di lutut dan pantatnya. Nggak bisa dipake lagi, boro-boro bisa kebeli.

Sembari pringas-pringis Romi nyamperin gue, dia cuma lecet-lecet doang. Untungya skuter udah dipinggirin sama abang yang jualan rokok. Jadi nggak ngalangin kendaraan yang dibelakangnya. Terima kasih bang!Gue cek tuas koplingnya patah, lampu depan ancur, bodinya sebagian penyok, tapi rem masih jalan. Meski menahan sakit, gue sama Romi bisa juga ketawa ngakak. Ngetawain kekonyolan kita.

Meski skuter cuma bisa dimasukin gigi-1 doang, akhirnya gue, Romi bisa juga pulang. Kali ini Romi mengambilalih kemudi. Gue jadi navigator. Bukan navigator deh… tapi boncenger. Romi nganterin gue dulu, baru die pulang ke rumahnya di Kalibata. — End of story

Sejak kejadian itu dan ngeliat langsung bagaimana si bapak nyemplung ke lubang, kayaknya sekarang hati gue ngerasa was-was aja kalo lihat lubang di jalan. Was-was, takut-takut gue mengidap penyakit baru: ‘sindrom nyemplung lubang’.(*)