10 tahun usia perkawinan kami

11 04 2008

Nggak terasa perjalanan biduk rumah tangga saya dengan istri tercinta, sudah berusia 10 tahun. Sebuah usia perkawinan yang lumayan panjang. Memang tidak selalu mulus dalam melayarinya. Pasang-surut dan rintangan selalu ada namun alhamdulillah semuanya bisa teratasi.

Hari ini, 11 April sepuluh tahun lalu kami berikrar untuk memulai hidup baru dengan segala kekurangan dan kelebihan. Meski baru satu dekade, setidaknya kami sudah memiliki pengalaman menghadapi kerasnya hidup.

Dari istri, saya banyak belajar tentang kesabaran dan keuletan. Dan yang nggak ada dalam dirinya, istri saya belajar dari saya. Masing-masing kami siap untuk saling melengkapi.

Dari perkawinan kami tersebut telah lahir dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Anak pertama, Kemal sekarang usianya 7 tahun dan adiknya Ratri sudah akan empat tahun. Mereka adalah dunia kami yang lain. Dunia dimana tempat kami mencurahkan segala kasih sayang.

Di perjalanan usia yang kesepuluh ini, kami cuma berdoa supaya diberi kekuatan untuk mengisi hari-hari dengan kebaikan dan dapat mendidik anak-anak kami dengan pengetahuan agama dan budi pekerti yang baik. 

Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW “Tiada suatu pemberian yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya yang lebih baik (utama) dari pada budi pekerti yang luhur”. (HR. Turmudzi di dalam kitab al-Birr was shilah, bab: tentang etika anak). (*)

Our wedding was many years ago. The celebration continues to this day.. ~Gene Perret

  

 

 

Iklan




Kemal, kini tujuh tahun usianya

24 03 2008

s3010041.jpg

Kemarin anak kami yang pertama, Kemal lengkapnya Fazlurrahman Kemal sudah berumur tujuh tahun, meski baru segitu usianya namun buat urusan ukuran badan, dirinya sudah termasuk bongsor.

Bingung juga tanggal tua begini, mau ngasih apa buat dia ya? Untungnya dia nggak minta macam-macam. Ia cuma mau ditraktir makan di sebuah mal di daerah Buaran. “Aku mau makan ayam goreng aja pak,” katanya merajuk. “Wah nauin banget nih anak, pas bapaknya nggak punya uang, mintanya cuma segitu doang,” kata saya dalam hati. Kalau ibunya sih udah janji mau beliin meja belajar, dengan harapan agar belajarnya lebih semangat.

Maka segera kami sekeluarga segera meluncur ke arah Buaran Plaza, sebuah plaza baru yang didirikan hanya untuk menambah kemacetan di kawasan itu.

Untuk kali ini saya membebaskan dia mau makan ayam sekenyangnya. Namun akhirnya dia cuma sanggup menghabis dua potong ayam saja. Adiknya, Ratri yang super ‘imut’ ikut merasakan kebahagiaan kakaknya itu. Ia sangat asyik menikmati satu potong ayam tanpa nasi. “Nanti aku kalo ulang tahun makan disini lagi ya bu,” katanya seolah nggak mau kalah, pengen juga minta makan ditempat yang sama.

“Kok disini lagi,” tanya ibunya. “Iya aku suka disini aja,” jawabnya sambil mulutnya terus menikmati sisa-sisa daging yang masih menempel di sela-sela tulang ayam.

Sungguh, meski ‘dirayakan’ cuma di restoran cepat saji, tapi kenyataannya Kemal tetap bahagia memasuki usia yang ke-7 tahun ini. “Ingat loh mas, kalo udah tujuh tahun harus rajin solat, jangan malas-malasan. Itu kan pesan mbah kakung dan mbah putri,” kata ibunya menasihati. Dinasihati seperti itu, Kemal cuma senyum-senyum aja. “Kalo tidak mau solat ntar dipukul loh sama Bapak,” tambah ibunya.

Sesuai tujuan semula bahwa kami datang ke sini khusus untuk menemani Kemal makan. Selesai makan, kamipun langsung pulang. Tidak ada acara lain. Karena memang tanggung bulan. Selamat ulang tahun ya mas. Bapak, ibu dan adik sayang mas Kemal. (*)
 
 





Family gathering atau duduk bareng di pinggir pantai

3 01 2008


F
amily gathering keluarga besar Perum ANTARA yang waktunya berbarengan dengan tutup tahun 2007 mudah-mudahan bisa menjadi cerita dan kenangan akhir tahun yang manis, khususnya buat seluruh karyawan di perusahaan BUMN milik pemerintah ini.

Kesempatan yang nggak tiap tahun datang boleh dong disambut dengan tangan terbuka. Apalagi transportasi dan konsumsi ditanggung kantor. Juga melimpahnya door prize yang disediakan panitia menjadi penyemangat, meski saat ini musim hujan dan gelombang pasang.

Lagian juga kalau ke Ancol pakai ongkos sendiri, kayaknya berat deh. Tau sendiri di Ancol segalanya serba mahal. Buat gue yang low-class worker dan berkantong pas-pasan, sepertinya malas berkunjung ke lokasi rekreasi di ibukota. Maksudnya malas ngeluarin duit.

Lumayan lama juga kantor gue nggak ngadain acara kayak beginian. Terakhir tahun 2002 di Waterboom, Cikarang. Jadi kalo diitung-itung udah lima tahunan keluarga besar kantor gue nggak bisa piknik gratisan. Ooo.. jadi piknik cuma ngandelin ‘kemurahan’ kantor doang. Auk ah… gelap.

Ada 2000-an jiwa yang mendaftar ke panitia. Semuanya keluarga besar kantor gue. Tinggalnya mencar-mencar. Ada di seluruh pojok Jabodetabek. Umumnya sih tinggal di perumahan, jadi mengkoordinir urusan transportasinya lebih gampang. Buat mengangkut mereka udah disiapin 29 bus.

Untuk urusan transportasi dan konsumsi bolehlah panitia diacungi jempol, karena bus-bus yang disediakan cukup baik (minimal nggak kipas-kipas kepanasan) dan nggak ada keluhan soal kurangnya konsumsi.

Acara yang dipusatkan di pantai carnaval itu dimulai jam 09.00 pagi dengan sambutan dari direktur utama, dan ketua panitia. Sayangnya waktu yang tersedia didominasi oleh cuap-cuap host yang bikin boring. Udah gitu… eh ditambah ada acara ulang tahun lagi. Hanya karena berharap door prize, banyak peserta yang kebanyakan anak-anak dan para pensiunan harus duduk manis ‘ditamparin’ angin laut. Banyangkan, selain didera angin laut empat jam lebih, mata dan kuping bolak-balik terkonsetrasi pada pengumuman undian di panggung dan sobekan potongan door prize.

Kira-kira jam setengah dua siang ‘acara duduk-duduk bareng keluarga’ kelar digelar. Krkhk… krkkh… (nih ceritanya bunyi pinggang yang lagi dilurusin).

Namun, waktu yang ditentukan panitia cuma sampai jam tiga sore. Sisa yang tinggal kurang dari dua jam tidak cukup buat para pensiunan yang ingin membahagiakan cucunya berkeliling Ancol. Bapak yang dari rumah sudah meniatkan mengajak anaknya untuk melihat pentas lumba-lumba juga diurungkan.

Jangankan berkeliling, buat berjalan menuju ke salah satu wahana saja, waktu sudah habis. Belum lagi antrenya. Bisa-bisa ditinggalin bus. Emang mau, pulang naik mikrolet atau metromini?

Ada yang nyeletuk, kenapa nggak dari pagi aja kelilingnya? Wah ini pendapat ada benarnya, tapi ‘limpahan’ hadiah yang digadang-gadang panitia membuat sebagian besar peserta gathering –sekali lagi– duduk manis di tempat masing-masing.

Nggak munafik lah, setiap orang pasti menginginkan hadiah, apalagi mereka yang punya feeling akan ketiban rejeki hari itu, terpaksa ‘tersandera’ hanya untuk menunggu pengumuman door prize dari pembawa acara. Syukur, hadiah sudah semua habis dibagikan kepada yang nomor door prize-nya keluar, mulai dari karyawan tetap, honorer sampai pensiunan kebagian semua. Bahkan ketua panitia pun kebagian hadiah utama sebuah sepeda motor. Wus.. wus.. yang lain makin jauh ketinggalan.

Baca entri selengkapnya »





Happy Ramadhan

12 09 2007



Kami dan keluarga mengucapkan,
SeLaMaT MeNjAlAnKaN IbAdAh PuAsA RaMaDhAN 1428 H

semoga puasa kita diterima Allah SWT. Amien





KuMpUl SeDuLuR

11 09 2007

Kumpul sedulur atau ngumpul bersama saudara-saudara yang seumuran kayaknya bakalan jadi acara seru neeh. Disamping memperat silaturahmi juga menjadi ajang reuni ex-Menteng Pulo occupants. Apaan lagi tuh…

Menteng Pulo occupants adalah permukiman warga yang letaknya hanya sejengkalan dengan tempat pemakaman umum (TPU) Menteng Pulo. Membentang mulai dari Menteng Atas, Menteng Pulo, Menteng Dalam, Pedurenan, dan Gelanggang Sumantri Brodjonegoro, Kuningan. (Betul nggak nih… tolong dong diralat)

Termasuk gue juga penghuni di sekitar kawasan pemakaman Menteng Pulo. Walapun di KTP masuknya Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet (wuihh… keren banget man), tapi karena mepet sama kuburan, hasilnya tetap aja disebut Menteng Pulo. Tapi nggak soal mau Menteng Pulo atawa Menteng Dalam, yang penting di akte kelahiran terketik kota Jakarta Selatan sebagai tempat lahir.

Kumpul sedulur atau bahasa kerennya family gathering yang diadain di Wisma Seruni, Cisarua, Bogor bulan kemarin (11/12 Agustus) adalah acara buat ngumpulin anak-anak dari pihak bapak-bapak kita yang kini tinggalnya berserakan di seantero Jabodetabek.

Gue sendiri sebenarnya bukan authentic member dari paguyuban ini, namun karena kedekatan emosional dan geografis dengan seluruh anggota dan ketuanya akhirnya ya… gue sekeluarga Alhamdulillah diundang. Free of charge lagi.

Pemberangkatan dengan bus dari Margonda, Depok jam tujuh pagi. Ditetapkannya Margonda sebagai start point, karena disini di Margonda ada pakde (uwak) atau sesepuh. Jadinya buat anggota yang tinggalnya di Tangerang atau Bekasi ngumpulnya mesti disini.

Buat keluarga gue yang dapat bye terpaksa pagi-pagi buta udah meluncur ke Depok. Nggak enak dong, udah diundang gratis masak mau datang telat. Bisa-bisa digerendengin sama yang lain. Ha.. ha.. ha…

Pagi jam 05.30 udah berangkat dari rumah. Udara masih segar dan nggak ada macet. Maklum juga pas tanggal merah jadi banyak warga Jakarta yang tidur sampai siang. Perjalanan ke Depok lancar banget, cuma 45 menit udah sampai di Margonda. Longok sana-sini, kok belom ada yang ngeriung di pinggir jalan. Jangankan orang-orangnya, bus-nya pun juga belon keliatan teronggok di pinggir jalan.

Daripada bengong berdiri di pinggir jalan akhirnya kita tunggu aja di rumah pakde yang rumahnya nggak jauh dari situ. Kan lumayan bisa istirahat dan minum teh hangat. Itung-itung sekalian silaturahmi. Maklum biasanya kalo datang kesini paling-paling pas lebaran doang. Huih… dasar bocah bader.

Kebetulan nggak lama, nongol tuh Tomi Priyono sama keluarganya, satu-satu pemuda di paguyuban ini yang udah hampir 20 tahunan tinggal di Los Angeles. Jadi ada yang bisa diajak ngobrol. Sejak Tomi mendarat di Indonesia, gue ketemuan sama dia baru dua kali.

Tapi nggak lama yang lainnya juga datang satu-satu, hasilnya cuman 15 menit udah pada ngumpul semuanya. Project officer, Om Basuki juga udah keliatan batang hidungnya. Om Bas, demikian panggilannya segera memerintahkan agar semua peserta naik ke bus yang sudah disediain. Kalo diitung-itung sih semuanya ada 15 kepala keluarga.

Macet? Itu sih biasa

Bus diberangkatkan pada jam delapan telat satu jam dari jadwal jam tujuh. Keluar Margonda jalan udah mulai macet, padahal hari masih pagi. Menjelang keluar pintu tol Ciawi luar biasa macetnya.

Berpuluh-puluh bus dengan tujuan sama menutupi hampir seluruh ruas pintu tol. Ini merupakan efek dari dua hari libur, menstimulasi orang untuk pergi ke luar kota, dan biasanya daerah yang dipilih adalah kawasan puncak.

Di dalam bus, dua peserta dewasa terlihat mulai mabuk darat. Yang tak lazim justru terjadi pada anak-anak. Mereka satupun nggak ada yang teler. Semua masih ceria. Untungnya, nah ini ada untungnya, dalam rombongan terselip peserta yang berprofesi sebagai suster. Jadinya… nggak bakalan kuatir, sebab ibu suster siap merawat peserta yang mabuk.

Setelah tersiksa kemacetan panjang, akhirnya sampai juga di lokasi. Di sebuah vila tiga lantai yang letaknya meninggi sehingga udara lebih sejuk dan paromananya pasti ciamik. Lumayan sejenak melupakan ingar-bingar kota Jakarta.

Sore hari deputy officer project, Edi Purwanto mengumumkan pergelaran perlombaan buat anak-anak. Ada lomba membawa kelereng dalam sendok, mecahin balon dan lomba mindahin bendera. Buat orang tua juga ada, lomba ngipasin balon?!?!?! Maksudnya balon didorong pake kipas mulai dari garis star sampai finish geetuu.

Masalahnya kan balon nggak gampang diatur, semakin didorong bukan maju malah terbang kemana-mana. Teorinya gampang, tapi pelaksanaannya susah banget. Coba aja deh.. kalo nggak percaya.

Menjelang maghrib perlombaan selesai. Semua menang. Semua dapat hadiah. Pembagian hadiah dan sekantong snack rata ke semua anak-anak. Sore ini suasana tidak menyiratkan pasca-perlombaan, lebih tepat menghadiri acara ulang tahun anak-anak. He… he… he…

Merangkak malam, udah ada yang mulai berkaraoke, meski suaranya pas-pasan banget, tapi keberanian malu menyanyi para ibu-ibu boleh diacungi jempol. Senandung dangdut jadi pilihan, disamping Indonesian old numbers yang bikin mata justru tambah ngantuk.

Tembang ‘Mandul’ milik bang haji Rhoma Irama masih mengalun dari kerongkongan ibu Tomi Priyono alias mbak Tati yang langsung ditimpali ibu-ibu lainnya. Meski enggak muda lagi, tapi itu loh… semangatnya, greengg!

Di sudut lain, asap yang keluar dari tempat pemanggangan ikan sudah mulai mengepul. Ada empat orang yang bertugas di sini, dengan super chef Mulyana sebagai ketuanya. Sementara di tempat lainnya ada yang dari sore nggak berhenti main bola sodok.

Kebetulan meja biliar lokasinya dekat sama yang bakar ikan, jadinya ikan-ikan yang baru mateng udah pada dicolekin [baca:dimakanin] sama sambel kecap. Padahal dari dalam ruangan udah pada gelisah nanyain ikan bakar. Gimana mau dibawain, baru mateng satu aja udah diembat sama yang pada main biliar. ihhh… kayak kucing garong deh.

Ikan berkilo-kilo yang dibawa dari Jakarta tandas juga diembat kucing garong… wow maaf sama segenap peserta malam itu. Jatah buat kucing beneran juga nggak disisain sedikitpun. Kenapa ikan bakarnya cepat habis. Ya abis enak sih… karena olahan dan racikan sang chef Mulyana.

Jam 01.30 dinihari semua acara kelar digelar. Semua udah mulai penat, letih dan mengantuk. Tinggal beberapa jam buat istirahat bekal pulang besok. Terima kasih dan salut untuk semua sedulur yang menyempatkan waktunya buat ngumpul disini. Di acara Kumpul Sedulur. (*)