Berharap si burung hati hinggap di Luzhniki

18 03 2008

liverbird.jpgLiverbird atau si burung hati boleh jadi spesies keluarga burung-burungan yang mengerikan saat ini di daratan Eropa. Karena liverbird sudah merupakan reinkarnasi dari kesebalasan kota pelabuhan, Liverpool. Sang burung telah menjadi simbol pemersatu jutaan liverpudlian di seantero bumi ini, disamping lagu kebangsaan ‘YNWA’.

Setelah di 16 besar piala Champion menghabisi “Nerazzurri” di kandang yang sangat kramat, San Siro dan ‘menggagalkan’ hajatan akbar, yakni peringatan ulang tahun ke-100 kesebelasan asal kota mode tersebut, liverbird di perdelapan final juga berusaha akan membungkam bising The Gunners.

Memang pertarungan liverbird selanjutnya tidak akan mudah, mengingat lawan yang akan diajak ‘tarung’ bukan lagi kelas ayam sayur, tapi Arsenal. Tim yang memiliki petarung-petarung muda dengan kecepatan dan stamina yang mumpuni.

Meski saling ambil-alih pemuncak klasemen di EPL dengan MU, namun Arsenal bukanlah tim yang tidak bisa dikalahkan. Setelah dipecudangi MU 4-0 beberapa waktu lalu, grafik penampilan Arsenal tidak lagi melulu menanjak. Ini kontras sekali dengan The Reds, setelah gagal di piala FA karena dikalahkan Barnsley, The Reds langsung berbenah dan terbukti penampilan SG8 dan kawan-kawan semakin ciamik.

Apalagi makin gemilangnya aksi Fernando “El Nino” Torres yang kian ditakuti penjaga gawang dan pemain belakang lawan. Saking khawatirnya akan badai El Nino, sampai-sampai pelatih The Gunners, Arsene Wenger memberikan sinyal buat skuadnya. “Torres harus dihentikan atau dia akan menghukum kami, Dia sangat cepat, kuat dan berani. Dan makin tak terkendali jika bertanding di kandang lawan,” kata Wenger yang sudah menukangi Arsenal selama 11 tahun tersebut.

Namun kekhawatiran Wenger tidak serta-merta membuat Liverpool merasa diatas angin. Kehadiran Francesc Fabregas dan kembali merumputnya Robbie van Persie, akan menambah kekuatan lini depan tim mapan asal tenggara kota London itu. Ditambah makin tajamnya striker berambut kriwil Emanuelle Adebayor.

Sejatinya, ini ajang pembuktian bagi Liverpool di liga champion, karena untuk mengejar Arsenal di piala liga primer tak akan mudah. Apalagi harus melewati klub-klub kuat macam MU dan Chelsea. Namun harus diingat, tuah liga champion sering berpihak kepada anak-anak asuhan Rafael Benitez ini. Boleh saja pengembaraan liverbird di EPL tersendat-sendat, tapi untuk ukuran benua biru, sang burung hati masih disegani, baik kawan maupun lawan.

Bukan juga sih mau berbangga-bangga soal kehebatan Liverpool di daratan Eropa, namun dibanding klub-klub asal Ingris Raya lainnya, di liga champion The Reds masih yang terbaik. Sebab dari empat klub Inggris yang hadir di perdelapan final kali ini, hanya Liverpool dan MU yang sudah pernah memenangi tropi bergengsi itu. The Reds empat kali memboyong gelar, dan Red Devils baru dua kali.

Maka untuk berharap liverbird tetap terbang lebih jauh dan hinggap di Luzhniki, Rusia, langkah selanjutnya adalah ‘mematuk’ Arsenal baik di Anfield atau Emirates Stadium. Memang ini tugas berat. Namun, cuma itu caranya kalau tidak ingin liverbird cepat kembali ke kandang. (*)

Iklan




Merah-putih di Allianz Arena

8 03 2007
Menjelang tidur malam weker diset tepat di angka 2, bukan apa-apa dinihari nanti mau ada pertandingan antardua klub besar Eropa, Bayer Muenchen vs Real Madrid.Maka dari itu supaya nggak ketinggalan nonton weker kudu disetel. Kalo nggak gitu perjalanan tidur selalu mulus sampai terbangun sendiri, biasanya sih… jam setengah enam pagi, pas film Dora lagi tayang.

Sebenernya sih, “FC Hollywood” or “Los Galacticos” bukan kesebelasan favorit saya. Tapi karena auran Piala Champion yang selalu bikin adiktif. Dari dulu sampai sekarang sih saya insya Allah megangnya klub yang gambarnya bango warna merah, Liverpool. (alasannya: England banget sih).Jam dua pagi weker ‘teriak-teriak”. Sontak kaget dan ngucek mata. Langsung ke kamar mandi, raup muka sambil kumur-kumur. Katanya sih biar mata bisa melek dan bersihin iler. Nggak lupa bikin segelas teh nasgitel (panas-legi-kentel). Tapi buat temen minum teh nggak ada, terpaksa krupuk di toples digadoin. (Besok bakalan diomelin sama istri, abisnya krupuk setoples abis). Wah ini mah namanya ngegares.

Pertandingan yang berlangsung di Allianz Arena kota Munich membosankan. Pemain-pemain bintang yang dibayar mahal, di lapangan kerjanya cuma lari sana-sini enggak dapat bola, kayak main petak-umpet. Apalagi kalau lihat Nistelrooy sama Raul, bawaannya ‘ngowoh’ melulu.

Sebenernya bukan pertandingan yang membetot perhatian saya pagi itu, tapi yang paling mencolok adalah banyaknya bendera merah-putih yang dibawa suporter Bayer. Banyak banget, mungkin jumlahnya ribuan, dari yang kecil sampai seukuran taplak meja.

Tadinya saya pikir kaum Bonek (the Indonesian real hooligans) ikutan nonton sekalian promosiin Indonesia atau setidaknya memperkenalkan kuliner Jawa Timur macam rujak cingur, tapi kalau dipikir-pikir jangankan naik pesawat, naik kereta ekonomi aja nggak ada yang mau bayar.

Ada juga suporter yang bawa bendera merah-putih, tapi bukan di Eropa deh…, di Hong Kong atawa Taiwan mungkin iya, mengingat begitu ‘dahsyatnya’ para TKI yang datang ke stadion mendukung kesebelasan Indonesia sewaktu bertanding di sana. Kesimpulannya, dua prediksi saya tentang merah-putih diatas semuanya ngawur alias nggak berdasar.

Yang paling masuk akal adalah warga kerajaan Monaco merupakan pendukung Bayer, kan bendera negara kerajaan itu warnanya sama atau barangkali nyontek sama bendera kita. Merah diatas, putih dibawah. Selain letak Monaco sama-sama di jazirah Eropa, jaraknya juga nggak jauh-jauh banget sama ‘Bavarian’.

Tapi kesimpulan saya yang terakhir ini juga saya patahkan sendiri. Lha kok? Iya jadi nyimpulin sendiri, matahin sendiri. Setahu saya penduduk Monaco tuh bukan penggila bola seperti di Italia, Prancis atau Jerman. Pernah dengar ada kesebelasan Monaco berjaya di Eropa? atau pemainnya yang dibeli oleh klub-klub raksasa Eropa? Mungkin ndak ada kan…

Yang paling prestisius di negaranya Pangeran Albert adalah ajang event balap mobil Formula 1. Disamping itu Monaco juga kesohor sama pantainya (.. dan yang berjemur tentunya). Yatch-yatch kepunyaan para miliuner sejagat ada di sini. Resume: Monaco tempat ngumpulnya orang paling tajir dari seluruh dunia, bukan tempat ngumpulnya pemain dan penonton bola. Yang jadi pertanyaan, kenapa suporter Bayer membawa merah-putih. Ada yang bisa membantu?  (*)